Dikepung Genting

Dia bukan lagi semilir angin Segar menghembus, sengit menghempas suntuk di tubuhmu yang mulai kehilangan batas Andai kelak kau masih mendamba Siutnya di siang-siangmu yang durjana, Jangan terlalu terkejut jika yang kau temui Cuma redup-redup renjana Aku lama berpikir tentang sungai, pohon-pohon rindang, juga penyejuk Read More …

Kalau Sudah Ada Internet, Mengapa Masih Harus Membaca Buku ?

Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah dulu, saya kerap menyisihkan sebagian uang saku sekolah untuk ditabung dan kemudian saya belikan barang-barang yang saya sukai. Barang-barang tersebut sebenarnya hanya barang-barang sederhana, tak jauh dari buku-buku, komik, majalah-majalah remaja, dan juga kaset. Ya, bagi kami remaja-remaja Read More …

Yang Saya Rasakan Ketika Bertemu Lagi dengan Murid SD yang Sekarang Sudah Kuliah

Dikarenakan jadwal kantor yang sudah menanti beberapa hari ke depan, saya pun akhirnya tak bisa berlama-lama stay di Tubaba. Agenda rutin mengunjungi desa Indraloka (tempat saya bertugas selama masih bergabung di Indonesia Mengajar dulu) pun terpaksa tidak saya lakukan. Padahal, murid-murid saya sudah menunggu-nunggu kehadiran Read More …

Guru Penggerak Tubaba

Sampai sekarang, saya selalu memandang kehadiran Tubaba Cerdas adalah sebuah anugerah. Tidak hanya bagi dunia pendidikan di Tubaba saja, tapi juga bagi diri saya pribadi. Bagi dunia pendidikan di Tubaba, kehadiran Tubaba Cerdas –dari yang telah saya saksikan– lamat-lamat banyak menciptakan pertumbuhan yang cukup berarti. Read More …

Meretas Ingatan

Sebelum didih siang merontokkan sendimu menjadi remah peluh. Juga gerah tanah yang lamat-lamat meretakkan jejak langkah Segera tuntaskan ! Tuntaskan segera ! Rancangan rindu yang tergeletak di atas cermat ingatanmu. Rumah. Serta pohon-pohon tua di Petak jantungmu. Mungkin sesaat lagi akan tumbang. Tertindih berang yang Read More …