Sehari-hari Sekitar Kita

Relativitas Kesuksesan

Teman-teman relawan pendidikan

Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup ini adalah memiliki punya banyak teman. Itu pula yang akhirnya menyebabkan saya punya banyak grup whatsapp dari berbagai lingkaran pertemanan, mulai dari teman sekolah, teman kuliah, teman kerja, teman komunitas literasi, teman traveling, teman relawan, teman peserta pelatihan, teman sesama trainer, dan masih banyak lagi. Dan dari berbagai dinamika group whatsapp itu saya mendapatkan satu kesadaran bahwa memang yang namanya kesuksesan itu memang sangatlah relatif.

Bukan pemandangan yang asing lagi jika dalam sebuah group whatsapp membicarakan pencapaian-pencapaian yang berhasil diraih oleh teman dalam satu grup. Biasanya ada satu anggota group yang mengirim screenshot status media sosial teman anggota yang lain yang berisi capaian-capaian tertentu sembari mengucapkan selamat atau kalimat apresiasi yang lain. Jika sudah begitu, semua anggota dalam grup tersebut juga akan ikut exited dan memberikan apresiasi serupa.

Dan dari berbagai grup yang saya ikuti, perasaan exited dari masing-masing grup sungguh berbeda-beda. Ada grup yang sangat exited dengan capaian-capaian materi anggotanya, misal ada yang berhasil beli rumah, beli mobil, ataupun beli gadget paling mutakhir.  Dan saya akhirnya mengambil kesimpulan bahwa bagi orang-orang anggota grup tersebut, memiliki sejumlah materti tertentu adalah sebuah kesuksesan yang pantas diapresiasi.

Tentu sangatlah wajar jika kepemilikan materi menjadi sebuah tolak ukur kesuksesan, toh bukannya itu yang kita cari setelah bekerja keras bagai kuda ? Menyalurkan uang hasil kerja kita untuk materi-materi berharga bagi kehidupan kita. Ya, berharga. Dan semakin ke sini saya rasakan kata “berharga” itu semakin relatif maknanya. Berharga bagi satu orang, belum tentu berharga bagi orang lainnya. Karena itu pula makna kesuksesan menjadi sangat relatif.

Di grup whatsapp teman-teman sesama penulis, misalnya. Kami tidak terlalu tertarik membicarakan harta benda. Jika pun sesekali membicarakan itu, biasanya tidak sampai excited di grup sebelumnya. Kami hanya akan sangat excited jika dalam anggota tersebut berhasil menerbitkan buku terbaru, tulisannya berhasil dimuat di media nasional, atau ikut dalam forum-forum literasi, baik di dalam ataupun di luar negeri.

Di grup-grup yang lain pun juga sama. Grup yang berisi relawan, akan sangat excited memberikan apresiasi jika ada anggotanya yang terlibat atau menginisasi project kerelawanan yang keren. Grup traveling akan sangat excited jika ada yang berhasil mendarat di tempat-tempat yang seru, dan grup pecinta ilmu pengetahuan akan sangat excited jika ada anggotanya yang diterima beasiswa atau menjadi pemakalah di forum-forum intelektual ternama.

Dalam hal keseharian pun, saya juga melihat bahwa teman-teman yang ada di grup traveling, penulis, relawan, dan pecinta ilmu pengetahuan – adalah orang-orang yang sangat minimalis dalam hal kepemilikan harta benda. Padahal, saya cukup tahu bahwa mereka bukannya tidak mampu membeli barang-barang mahal. Ya, saya menduga keras bahwa barang-barang mahal dan mewah bukanlah hal yang terlalu berharga bagi mereka, sehingga mereka tidak terlalu serius untuk mengalokasikan budget untuk hal-hal tersebut.

Mereka hanya memiliki rumah sekadarnya, perabot sekadarnya, dan juga kendaraan sekadarnya. Tapi untuk traveling, produksi karya, kegiatan kerelawanan, dan ilmu pengetahuan, mereka bisa sangat jor-joran menghabiskan uangnya di sana. Karena hal-hal itulah yang mereka anggap berharga. Karena hal-hal itulah yang membuat mereka merasa telah sukses dalam perjalanan hidupnya. Karena makna suskses memang sangat berhubungan dengan apa yang kita nggap berharga di dunia ini.

1 COMMENTS

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *