Edukasi JEMBER Sehari-hari Training

Mengolah Rasa di Jember

Akhir tahun lalu Bu Weilin Han, salah seorang pakar pendidikan di Indonesia, menghubungi saya. Beliau mengabarkan bahwa ia akan ada jadwal mengisi pelatihan guru di Jember akhir januari nanti. Beliau lalu menawarkan saya untuk membantu sebagai asisten beliau selama kurang lebih satu minggu pelatihan di sana.

Bu Weilin adalah salah satu sosok yang menginspirasi saya dalam hal menekuni dunia pendidikan, terutama di bidang pelatihan guru dan konsultan sekolah. Saya pertama kali mengenalnya di Pelatihan Indonesia mengajar, sepuluh tahun silam.

Saat itu beliau mengisi beberapa sesi di pelatihan intensif kami. Semua sesi yang diampunya selalu dipenuhi energi melimpah. Kami semua sebagai pesertanya selalu kesetrum dengan energi tersebut, sehingga nihil kebosanan. Terlebih, beliau juga memiliki kepribadian yang sangat humble. Tak heran jika akhirnya beliau adalah salah satu narasumber yang paling dekat dengan kami semua, para pengajar muda, baik di dalam sesi maupun di luar sesi. Bahkan saat kami purna tugas dari Indonesia mengajar pun, kami tetap selalu kontak dan berhubungan baik dengan Bu Weilin.


Itulah mengapa, saya tak mampu menolak ajakan Bu Wei untuk menjadi asistennya di pelatihan guru-guru SMK 5 Jember itu . Selain saya akan bisa bersilaturahim lagi dengan Bu Wei, tentunya saya akan bisa belajar lagi dari beliau. Merasakan lagi energi beliau. Apalagi materi yang akan dibawakan beliau di pelatihan nanti adalah hal baru bagi saya.

Berbeda dengan pelatihan guru kebanyakan yang fokus pada pengembangan kompetensi, seperti motode pembelajaran kreatif, penulisan, RPP, dll, materi pelatihan Bu Wei di jember kali ini menggarap hal-hal yang jauh lebih abstrak, namun sangat penting, yakni : Olah rasa dan olah hati.

Seperti halnya penyanyi yang punya berbagai teknik vokal yang tinggi. Ia mungkin bisa menghibur penontonnya, tapi belum tentu ia bisa menyentuh dan menggerakkan hati mereka. Begitupun dengan seorang guru, selihai apapun ia menggunakan metode mengajar yang menarik, namun jika tidak didasari dengan rasa dan hati yang tulus, pembelajaran di kelas akan terasa kering.

Siswanya mungkin terhibur dengan apa yang diajarkannya, tapi belum tentu bisa menginspirasi dan menggerakkan hati mereka untuk berubah menjadi manusia-manusia yang berdaya di kemudian hari.

Seperti yang disampaikan Ari Lasso dalam salah satu bait lagunya yang berbunyi, ” Sentuhlah ia tepat di hatinya, dia kan jadi milikmu selamanya” — merebut perhatian siswa memang harus diawali dengan menyentuh hatinya. Dan sungguh mustahil bisa memenangkan hati siswa, jika hati gurunya sendiri belum selesai ketika ia bekerja menjalankan profesinya. Ya, karena hati hanya bisa disentuh dengan hati.

Meski pelatihan ini membahas hal-hal yang lebih abstrak, namun Bu Wei berhasil mengemasnya dengan metode kreatif khas beliau, sehingga suasana pelatihan tetap bisa fun namun tetap bermakna. Tak ketinggalan, Bu Wei juga tidak melupakan untuk menggunakan berbagai media pelatihan yang murah meriah tapi tetap mengena. Jadilah suasana pelatihan kami selalu seru di setiap sesinya.

Oh, ya. Tak hanya menjadi asisten, Bu Wei juga memberikan saya satu sesi khusus untuk saya untuk menyampaikan beberapa pemikiran saya guna lebih menguatkan materi yang sudah disampaikan Bu Wei.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *