Sehari-hari

2019, Tahun Penuh Kebaruan

Kalaulah harus memberikan predikat pada tahun 2019 ini, rasanya tidak ada peredikat yang tepat kecuali “Tahun Penuh Kebaruan”. Bukan. Bukan karena tahun ini kita memiliki presiden baru (ya meskipun tidak baru juga sih) lantaran di tahun ini pula pemilu terjadi, namun karena bagi saya pribadi banyak hal-hal baru yang saya temui di tahun ini. Beberapa hal baru itu di antaranya :

  • PASPOR SAYA AKHIRNYA TERISI

Berkunjung ke Negeri Singa

Ya, meskipun cuma mampir ke negeri singa di kompleks Asia Tenggara, namun saya sangat bersyukur akhirnya paspor saya terisi juga setelah dua tahun dari waktu pembuatannya kosong melompong. Mudah-mudahan dengan terisinya lembaran perdana paspor saya tersebut bisa menjadi pemicu  untuk terisinya lembar-lembar berikutnya. Mudah-mudahan di tahun berikutnya akan menjadi tahun petualangan yang akan membawa saya menyusuri negeri-negeri lain yang tidak kalah serunya dari negeri singa. Aamiin…. (Monggo kalau mau ikut mengaminkan juga ^_^)

  • BERADA DALAM LINGKUNGAN KERJA BARU

Bersama teman-teman di lingkungan kerja yang baru

Menuju pertengahan 2019, akhirnya semesta membawa saya pada salah satu keputusan yang cukup penting dalam hidup saya. Setelah enam tahun berkarya di tempat kerja sebelumnya, akhirya saya memberanikan diri untuk keluar, lalu masuk ke dalam lingkungan kerja yang baru dengan bidang yang juga baru. Meskipun bidang pekerjaan yang sekarang saya jalani tidak terlalu jauh dari bidang pekerjaan yang sebelumnya, namun detail-detail pekerjaan yang baru ini lumayan asing buat saya, sehingga membuat saya harus lebih berusaha keras untuk menyesuaikan diri.

Alhamdulillah, karena di lingkungan baru ini saya masih dekelilingi tim kerja yang baik, jadinya proses adaptasi tersebut jadi tidak terlalu merepotkan untuk dijalani. Dalam kurun waktu kurang lebih enam bulan, saya telah menemukan ritme kerja yang pas, sehingga berikut-berikutnya bisa menikmati pekerjaan baru ini. Dan sekali lagi, saya semakin percaya bahwa rezeki itu tidak hanya berwujud uang dan harta benda. Dikelilingi teman-teman yang baik adalah rezeki yang juga tak kalah nikmatnya untuk disyukuri.

  • MENEKUNI LAGI HOBI YANG LAMA DITINGGALKAN

Grup Band saya bersama teman-teman di tempat kerja yang baru
(Saya nggaya nge-drum di belakang)

Satu hal lagi yang sangat saya syukuri dari teman-teman kerja di tempat saya yang baru ini adalah sebagian besarnya adalah anak-anak muda yang masih seumuran sama saya. Jumlah teman kerjanya pun juga jauh lebih banyak dari tempat kerja sebelumnya yang memang hanya sebuah kantor kecil dengan jumlah tim kerja yang sangat minimalis. Di tambah lagi, di tempat kerja sebelumnya saya adalah anggota tim kerja yang paling muda. Jadi, wajar jika kemudian di tempat kerja yang baru ini saya benar-benar merasakan suasana refresh. Tidak hanya refresh dari segi ritme kerja, tapi juga refresh dalam hal rekan-rekan kerjanya.

Mungkin karena itulah, selain saling mendukung dalam hal pekerjaan, kesempatan untuk nongkrong-nongkrong di luar waktu kerja dengan teman teman-teman baru ini jadi lebih mudah terjadi. Tidak hanya nongkrong-nongkrong lucu, pada akhirnya kami juga melakukan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat hore-hore seperti olah raga dan bermusik. Ya, karena punya komunitas olahraga ala-ala inilah akhirnya sedikit-sedikit mulai menyusun lagi angan-angan untuk bisa membentuk perut six pack lagi *tsah.

Begitupula dengan kegiatan bermusik bersama teman-teman baru ini. Ya, meskipun tidak terlalu hype banget, setidaknya angan-angan saya untuk kembali bisa nge-band-nge-band asik bisa terwujud kembali. Bisa merasakan seminggu sekali menjalani olah raga dan bermusik bersama kawan-kawan baru ini, hari-hari saya sekarang jadi tidak hanya berisi rutinitas-rutinitas yang sangat rentan terpapar kebosanan. Dan tentu saja, hal ini haru saya syukuri.

  • MENJADI TRAINER YANG MANDIRI

Satu sesi training yang saya isi di Banjarmasin

Selain mengisi waktu luang dengan menjalankan hobi bersama teman-teman baru, saya juga masih menjalankan pekerjaan lama saya sebagai terainer pendidikan. Tentu saja secara paruh waktu. Ya, saya sudah terlanjur mencintai pekerjaan yang satu ini. Jadi meskipun nanti berganti-ganti profesi di bidang apapun, rasanya saya tetap tak bisa meninggalkan pekerjaan yang satu ini. Ada kepuasan batin tersendiri ketika melakukannya. Dan rasanya, sampai kapan pun saya akan tetap kesulitan untuk kehilangan kepuasan batin tersebut.

Karena sudah tidak ada lembaga lagi yang memfasilitasi kegiatan-kegiatan training saya seperti di tempat kerja sebelumnya, maka mau tidak mau saya harus berusaha mandiri untuk tetap bisa menjalankan pekerjaan paruh waktu saya ini, mulai dari penyusunan materi training, urusan administrasi, transportasi, akomodasi, dll.

Begitu pula dalam hal keuangan, saya tak bisa mengatur dengan sangat profesional seperti ketika saya berada di tempt kerja yang lama. Namun, justru itulah yang jauh lebih saya suka. Saya jadi bisa lebih banyak menyentuh penyelenggara-penyelenggara training yang secara kondisi ekonomi masih lemah, namun kemauan untuk belajarnya sangat tinggi. Dan saya sangat bahagia bisa menjadi bagian untuk memfasilitasi mereka untuk tetap menjaga semangat belajar dan mengembangkan dirinya, karena pendidikan adalah hak semua warga negara. *Asek.

Alhamdulillah selepas lebaran di tahun 2019 ini, setiap bulannya saya selalu berkesempatan untuk menjalankan kegiatan sebagai fasilitator training pendidikan ini ke berbagai tempat, baik di dalam kota (Surabaya dan Sidoarjo), maupun ke luar kota seperti Pasuruan, malang, Yogyakarta, sampai Banjarmasin.


Salah satu sesi rangkaian kegiatan pendidikan di Yogyakarta yang saya isi

***

Di samping hal-hal yang sangat syukuri di atas, 2019 ada juga hal yang masih menjadi PR yang tidak terselesaikan, yakni rajin menuis di blog ini dan mengurus substansi.id. Juga target untuk menghasilkan satu karya buku lagi. Ya, setelah dua tahun sebelumnya saya selalu berhasil membuat karya buku di tiap tahunnya, maka obsesi saya untuk terus bisa menulis buku di tiap tahunnya, gagal di tahun 2019 ini.

Saya menduga keras bahwa penyebab terhambatnya profuktivitas saya adalah masa adaptasi dengan pekerjaan baru yang sangat menyita waktu. Meskipun banyak waktu-waktu longgar di pekerjaan saya yang baru ini, namun proses belajar terhadap hal-hal asing yang saya temui di dalamnya ternyata cukup mengganggu konsentrai untuk terus produktif menulis buku.

Mungkin dugaan tersebut terkesan hanya mencari-cari alasan. Jujur, saya pun juga mengkhawatirkan hal itu. Oleh karena itulah, resolusi saya di 2020 adalah bisa rajin menulis di blog dan menghasilkan minimal dua buku untuk  membayar hutang produktivitas yang terbengkalai di 2019.

Apakah itu saja ? Ya, itu saja. Seperti di tahun sebelum-sebelumnya, saya cukup mencanangkan satu resolusi saja. Satu saja belum tentu bisa tercapai, ngapain harus banyak-banyak. Ah, tapi kalau mau ditambah satu lagi, di tahun 2020 nanti saya ingin lebih banyak berhemat. Perbanyak menabung dan menekan keperluan yang tidak perlu. Kurangi belanja, perbanyak berkarya. ^_^

Terima kasih 2019… Selamat datang 2020…

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *