Puisi

Akulah yang Tak Pernah Membiarkan Hatimu Meregang

I
Siapakah yang akan berani menerjang usang dukamu hari ini ?

Sudah selarut ini pintu-pintu sunyi. Barang satu dua ketukan tak terdengar berbunyi

Tidak. Pintu memang senantiasa tertutup. Tapi tidak pernah terbesit untuk kukunci.

Aku juga sangat ingin kau segar kembali, namun aku juga tak bisa

membiarkan sembarang hati menerjangmu


II
Kau harus pulih. Dengan campur tangan hati yang telah bertekad untuk memilih.

Mengetuk pintu. Perlahan berlutut menatap langit mendung di wajahmu.

Lalu dengan sukarela membendung air terjun di matamu.


III
Di arena ini, aku menjagamu. Dari para pelari yang hanya rehat melepas lelah.

Menuju garis finish yang bukan kamu. Kau adalah titik keberangkatan.

Dengan mimpi-mimpimu sebagai tempat tujuan.

Jika tak ada yang berniat menikam dukamu sampai pagi menjelang, harusnya kau sadar,

akulah satu-satunya yang tak pernah membiarkan hatimu meregang.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *