Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Buku

MENGEDIT PIKIRAN

Setiap kali membaca buku-buku Malcolm Gadlwel, pikiran saya selalu saja tertuju pada Prof. Rhenald Kasali. Ya, entah mengapa saya selalu merasa gaya penyusunan buku-buku Prof. Rhenald mirip-mirip dengan Malcolm Galdwel. Diawali dengan banyak cerita sebagai contoh kasus, kemudian dibedah dengan menggunakan sudut pandang yang tajam.

Tak jarang pula, setelah dibedah, Malcolm dan Prof. Rhenald lantas memberikan konsep-konsep baru yang brilian terkait tema-tema yang dibahasnya. Alhasil, banyak sekali pencerahan yang bisa kita dapat dari kedua penulis tersebut.

Mengenai gaya bahasa, Malcolm dan Prof. Rhenald juga sama-sama menggunakan gaya bahasa yang jernih dan sangat mengalir. Jadi, meskipun sebenarnya tema-tema yang dibahas sangatlah berat, namun tetap bisa kita nikmati dengan mudah, lantaran bahasanya begitu gampang dicerna.

Mengenai gaya penulisannya tersebut, Prof. Rhenald pernah menyampaikan bahwa selain menulis, ia juga melakukan self editing pada tulisan-tulisannya. Ia perlu memilah-milah pemikirannya. Mana yang perlu disampaikan dan mana yang tidak.

Terlalu banyak pemikiran yang tersampaikan dalam sebuah tulisan akan menyebabkan tulisan itu jadi begitu rumit dan sulit dicerna. Tulisan yang baik adalah tulisan yang bersumber dari pikiran yang terstruktur. Dan pikiran yang terstruktur adalah pikiran yang well edited.

Saya kira, Malcolm pun melakukan hal yang sama. Pengalamannya sebagai jurnalis bertahun-tahun pastinya sangat melatih dia untuk memiliki pemikiran yang well edited. Inilah yang menyebabkan buku tebal-tebal dan penuh dengan cerita-cerita ilustrasi yang ditulisnya itu tetap sederhana, fokus, terstruktur, dan bernas. Sama sekali tidak ambyar.

Ah, saya jadi teringat Almarhum Pak Hernowo, seorang penulis dan editor kenamaan, yang pernah bercerita kepada saya –saat mengisi sebuah pelatihan menulis di Next Edu– bahwa ia dulunya adalah orang yang memiliki bahasa tutur yang buruk. Setiap kali ia berbicara, bahasannya ke mana-mana dan tak jelas jeluntrungannya.

Namun, ketika ia mulai rajin menulis, kemampuan bahasa lisannya pun mengalami banyak perubahan. Kebiasaan menulis telah banyak membantu dirinya untuk mengedit pikirannya, sehingga ketika ia berbicara jadi lebih runut dan terstruktur.

Ya, mengedit pikiran saat berbicara memang membutuhkan sedikit tenaga, apalagi jika pembicaraan tersebut bersifat spontan. Tapi jika seseorang sudah terbiasa menulis dan mengedit tulisannya sendiri, maka akan terbiasa pula mengedit pikirannya ketika berbicara secara lisan.

Itulah mengapa, setiap kali berbincang dengan guru yang mengeluhkan kesulitannya dalam menjelaskan materi kepada siswa-siswanya, atau kepala sekolah yang selalu merasa isi pidato dan sambutannya selalu ambyar tak jelas jluntrungannya, saya selalu menganjurkan satu hal : Edit dulu pikiran Anda. Bagaimana caranya ? Menulislah.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *