Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Buku Edukasi

5 Buku yang Akan Membuat Anda berpikir Ulang Untuk Meneruskan Sekolah

Bagi banyak orang, sekolah adalah tempat yang sangat membosankan. Sebagian memilih bertahan, lantaran takut hidup tanpa ijasah. Sedangkan yang lain memilih untuk tak peduli, dan memutuskan untuk keluar, karena tak lagi menganggap sekolah adalah sesuatu yang penting lagi.

Di sekitar kita mungkin bisa kita temui kedua pihak tersebut, baik yang bertahan maupun yang memutuskan untuk keluar. Keduanya tentu sering melontarkan kritik kepada sekolah-sekolah yang membosankan tersebut dengan berbagai cara.

Mungkin ke lima buku ini adalah bentuk kritik yang tajam kepada sekolah yang bisa mewakili pemikiran dan perasaan  kita semua terhadap praktik pendidikan di sekolah yang sudah “gak banget”. Mungkin juga setelah membaca lima buku ini, Anda yang sedang menjalani studi akan berpikir ulang untuk melanjutkannya. Hehehe…

5. Sekolah Itu Candu

Judul buku : Sekolah itu Candu
Penulis : Roem Topatimasang
Penerbit : Insist Press
Tebal : 129 Halaman

Buku ini berisi kumpulan esai dari Roem Topatimasang, seorang aktivis yang banyak melakukan pergerakan dan pemberdayaan masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Buku ini dibuka dengan esai pertama yang sangat menarik berjudul “Sekolah : dari Athena ke Cuernavaca.” Di esai itu Roem memaparkan asal-usul sekolah pada masa Yunani Kuno yang pada awalnya hanyalah sebuah kegiatan mengisi waktu luang.

Kata sekolah yang berasal dari skhole, scola, scolae, atau schola (Latin), memang memiliki arti harfiah ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’. Orang tua saat itu memiliki kebiasaan untuk menyerahkan anak-anaknya kepada seseorang yang dianggap pandai. Maka sejak itulah sekolah beralih fungsi sebagai scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah ibu). Hingga pada akhirnya sekolah berkembang menjadi sistem pendidikan dan melahirkan berbagai teori pendidikan sampai seperti sekarang ini.

Di esainya yang ke 13 yang berjudul Sekolah Sudah Mati, ia menjelaskan bahwa saat ini sekolah sudah tidak lagi menjalankan perannya sebagai –apa yang disebutkan oleh pakar Penddidikan, Benjamin S. Bloom—lembaga pendidikan yang membentuk watak dan sikap (affective domain), mengembangkan pengetahuan (cognitive domain), dan melatihkan keterampilan (psychomotoric atau conative domain). Di akhir esainya tersebut, Roem menyampaikan bahwa sekolah sudah menjadi sesuatu yang absurd di dunia modern yang juga absurd seperti ini

4. Lebih Baik Tidak Sekolah

Judul : Lebih Baik Tidak Sekolah
Penulis : Sujono Samba
Penerbit : LKiS
Tebal : 93 Halaman

Meski tampilannya mungil dan tipis, namun isi dari buku yang ditulis oleh guru yang nyambi sebagai musisi dan pencipta lagu dangdut ini sungguh sangat berbobot. Di bagian-bagian awal buku ia menyampaikan sederet prestasi buruk dunia pendidikan negeri ini mulai dari Human Development Index (HDI) yang terus menurun, prestasi siswa yang rendah, kualitas guru yang memprihatinkan, sampai menumpuknya jumlah pengangguran terpelajar.

Dengan melihat fakta-fakta itu, Sujono menyampaikan argumennya sebagai berikut:

“Kalau sekolah tidak terjadi proses pendidikan dan pembelajaran yang benar, bahkan membelenggu kreativitas, mengasingkan dari realitas, mengerdilkan idealisme, membuat bingung, cemas, dan lemah, tentu “lebih baik tidak sekolah”. Karena belajar bisa terjadi dengan siapapun, di mana pun, dan kapan pun ketika ada kemauan yang kuat untuk membangun kompetensi diri.”

Sujono pun juga mengutip kalimat dari Bahrudin, pendiri Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah, yang juga tempat Sujono mengajar :

“Boleh putus sekolah asal tidak putus belajar (Bahrudin)”

3. Dunia Tanpa Sekolah

Judul : Dunia Tanpa Sekolah
Penulis : M. Izza Ahsin
Penerbit : Dear !  (Mizan Grup)
Tebal : 248 Halaman

Izza memiliki pola pikir yang berbeda dari anak-anak lain seusianya. Imajinasinya pun sering berkelana ke berbagai penjuru. Buku adalah yang paling bertanggung jawab terhadap kondisinya tersebut. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Izza banyak membaca buku selain buku pelajaran. Bahkan, buku-buku “berat “ yang jarang dibaca orang dewasa pun habis “dilahapnya”. Akhirnya, ia telah merasa telah menemukan apa cita-cita besarnya : menjadi penulis.

Izza pun mulai menulis ketika masuk bangku SMP. Ia ingin mengejar cita-cita yang sudah dipilihnya itu dengan fokus dan sangat serius. Hari-harinya banyak diisi dengan menulis, membaca buku, dan berimajinasi. Itulah yang menyebabkan urusan sekolahnya jadi terbengkalai. Nilai-nilainya merosot tajam semenjak ia mulai rajin mewujudkan mimpinya menjadi penulis.  Ia pun sering bolos sekolah.

Semakin lama, Izza semakin tidak tertarik dengan sekolah. Bukan hanya karena sekolah telah menghambat perjalanannya meraih mimpi menjadi penullis, tapi ia juga melihat bahwa sekolah sudah menyimpang dari hakikatnya sebagai lembaga pendidikan. Sekolah yang dijalaninya sangat jauh berbeda dengan konsep pendidikan yang diketahuinya dari buku-buku yang dibacanya, seperti buku Bobby De Porter dan Paulo Freire.

Dalam buku ini, kita akan bisa merasakan pemikiran-pemikiran Izza yang penuh pemberontakan terhadap dunia pendidikan. Pemikiran yang susah dipercaya bahwa itu muncul dari seorang anak berusia 15 tahun. Membaca tulisan Izza di buku ini, kita jadi diajak untuk berpikir ulang tentang apakah sekolah memang benar sebagai tempat untuk mengantarkan kita kepada cita-cita atau justru malah menghambatnya.

2. Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat

Judul : Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat
Penulis : James Marcus Bach
Penerbit : Kaifa
Tebal : 280 Halaman

Ada sebuah pendapat umum yang nampaknya sudah sangat mengakar di masyarakat luas : “Hidup tanpa menjalani pendidikan formal akan membuatmu susah mendapatkan pekerjaan kelak.” Namun, hal itu tidak berlaku bagi James Marcus Bach.  Lewat bukunya Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat, ia menceritakan tentang keputusannya meninggalkan sekolah, namun tetap bisa bekerja di Apple Computer, sebuah perusahaan raksasa di bidang teknologi. Di bab awal, ia menuliskan himbauan sebagai berikut :

Saya belajar, tapi saya tidak sekolah.

Sekolah hanya sementara. Pendidikan tidak. Jika kalian ingin berhasil dalam hidup : temukan sesuatu yag membuat kalian takjub dan pelajarilah. Jangan menunggu sampai seseorang mengajari kalian; semangat kalian yang berkobar-kobar akan menarik guru-guru untuk datang pada kalian. Jangan mencemaskan diploma atau gelar; berusahalah agar menjadi sangat baik sehingga tidak ada yang bisa menolak.

Ya, meski tidak sekolah, James tetap belajar. Ia menyebut kerja kerasnya dalam belajar itu dengan istilah belajar ala bajak laut. Layaknya bajak laut yang memiliki ambisi besar dan berbagai taktik, James berkelana ke berbagai macam ilmu yang ingin dikuasainya. Apapun yang ingin ia ketahui, maka ia akan belajar sekuat tenaga.

1. Orang Jujur Tidak Sekolah

Judul : Orang Jujur Tidak Sekolah
Penulis : Andri Rizki Putra
Penerbit : Bentang
Tebal : 264 Halaman

Sebagai anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, aksesku terhadap pendidikan sangat terbatas. Aku sering mendapatkan perlakuan tidak adil hanya karena aku menunggak uang sekolah. Aku pun muak dengan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) yang penuh kecurangan. Aku merasa kecewa dengan sistem pendidikan yang tidak membosankan.

Di dasari alasan di atas –yang tertulis pada bagian prolog buku ini—Andri Rizki memutuskan untuk keluar dari SMA-nya. Kemarahannnya terhadap sekolah, terutama yang berhubungan dengan kecurangan ujian nasional, membuatnya begitu marah. Sekolah yang seharusnya berperan sebagai penanam kejujuran yang kuat pada siswa-siswanya ternyata tak lebih dari lembaga yang justru menyuburkan sikap tidak jujur.

Andri Rizki pun kemudian belajar secara autodidak di rumah. Ia membuat kurikulum belajarnya sendiri, membuat ujiannya sendiri, sampai membuat rapor belajarnya sendiri. Ia lalu mengambil ujian kesetaraan dan mendaftar kuliah di UI. Tak disangka, ia berhasil lulus masuk fakultas hukum UI. Ia pun meraih predikat juara 3 Mahasiswa Berprestasi Tingkat FHUI, peraih cum laude (lulusan terbaik), salah satu lulusan termuda, dan menjadi mahasiswa tercepat yang menyelesaikan perkuliahannya (dalam waktu 6 tahun).

Rizki berhasil membuktikan bahwa meski tidak megenyam pendidikan dari sekolah –yang di dalamnya banyak ketidakjujuran itu—ia tetap bisa melanjutkan pendidikannnya sampai ke bangku kuliah, berprestasi pula. Jadi, masihkah kita menganggap bahwa sekolah adalah satu-satunya entitas pendidikan yang bisa membawa menuju kesuksesan ?

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *