Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

HALMAHERA

Guru-guru Super Halmahera

Ada perubahan jadwal dari panitia untuk kegiatan pelatihan guru yang mengundang Next Edu, sebuah lembaga konsultan pendidikan di Surabaya, tempat kerja saya saat ini. Awalnya, kami akan mengisi di dua tempat yang berbeda, masing-masing selama lima hari, yaitu di Ternate dan Halmahera Utara. Tiap tempat diisi oleh dua fasilitator (Tim konsultan Next Edu), jadi total ada empat orang tim Next Edu yang akan berangkat untuk mengisi acara itu. Namun karena ada perubahan jadwal, maka hanya ada dua personel tim yang berangkat, yaitu saya dan Pak Vita Wardhana, salah satu konsultan senior di Next Edu. Oke, berarti kita berdua akan berada di tempat pelatihan selama kurang lebih 10 hari. Lima hari di ternate dan lima hari di Halmahera Utara. Sebuah perjalanan tugas dinas yang panjang bagi saya. Tapi saya tetap girang, karena pasti selama kurang lebih 2 minggu di sana akan ada banyak hal-hal seru yang saya jumpai.

Pak Vita di Ternate
Pak Vita di Ternate

Dan ternyata benar. Di temani mbak-mbak dari Wahana Visi Indonesia sebagai penyelenggara, kegiatan pertama di Ternate selama lima hari begitu mengesankan bagi saya. Selain excited dengan makanan serba ikan yang lezat dan pemandangan setempat yang indah, tentu special moment yang kami temui selama mengisi acara di sana juga lebih menambah inspirasi bagi saya.  Tidak disangka, para peserta yang dihadiri oleh guru, kepala sekolah, pengawas sekolah,  dan staf dinas pendidikan setempat begitu semangat. Hari-hari pertama yang begitu kaku, berubah begitu cair di hari berikutnya yang isi materinya lebih banyak bersifat workshop daripada teori. Para peserta yang awalnya Jaim (Jaga Image) akhirnya tak kuasa untuk “bocor” membuat celutukan lucu, lagu-lagu, tarian, dan lawakan khas tradisi di Indonesia Timur yang disebut dengan mop (semacam stand up comedy versi Indonesia Timur).

Pak Yusuf

Pak Yusuf

Di hari terakhir Saya dan Pak Vita sempat terharu, karena tidak disangka para peserta patungan uang untuk membelikan kami oleh-oleh di waktu istirahat, yang kemudian diberikan kepada kami di penutupan acara. Tidak hanya itu, mereka juga membuat semacam ceremony perpisahan sederhana yang berisi penampilan lagu, puisi, dan testimoni-testimoni yang yang berisi ucapan terima kasih. Ada salah satu testimoni yang menarik dari salah satu peserta bernama pak yusuf, yang kurang lebih isinya : 

“Jujur awalnya saya mengikuti kegiatan ini karena motivasi uang (biasanya memang peserta dalam kegiatan pelatihan akan mendapatkan sejumlah uang untuk mengganti ongkos transportasi, karena jaraknya yang jauh), tapi selama lima hari berjalan, saya berpikir bahwa ilmu itu lebih berharga daripada uang. Karena dengan ilmu kita bisa mendapatkan uang dan ketika kita mendapatkan uang belum tentu kita mendapatkan ilmu. Jadi saya berterima kasih sekali kepada para fasilitator karena sudah memberikan ilmu yang berharga selama lima hari ke ini bagi saya dan semua yang ada di sini.” Ah, saya yakin itu bukan basa-basi. Dari cara berbicara dan sorot matanya jelas ada ketulusan di dalamnya (sok ahli menerawang ^_^).

Guru-guru menampilkan gubahan lagu dan puisi yang sudah dibuat

Guru-guru menampilkan gubahan lagu dan puisi yang sudah dibuat

Setelah testimony dan performance, tiba-tiba para peserta langsung inisiatif membuat lingkaran besar dengan lagi-lagi mengucapkan kata-kata terima kasih yang dilanjut dengan saling bersalaman layaknya acara lebaran. Tapi saya ternyata belum selesai untukspeechles. Tiba-tiba di akhir acara seorang guru mendatangi saya sembari berkata, “Pak Asril, ini wajahnya Pak Asril kan ?” Tanya ibu itu sambil menunjukkan buku hijau berjudul Indonesia mengajar, yang di halaman terakhir ada biografi para penulisnya, dan salah satunya foto jelek saya  mentereng dengan pose alay-nya.”Semalam saya cari buku ini ke toko buku dan tinggal satu, langsung deh saya beli.” Lanjut ibu itu. Tidak disangka obrolan singkat kami di meja makan siang waktu itu, memicu rasa penasaran si Ibu. Waktu itu saya berkata ke beliau “Ibu coba deh pengalaman-pengalaman spesialnya ketika mengajar ditulis. Siapa tahu bisa jadi buku.” Terus saya menceritakan buku Indonesia mengajar yang merupakan bukan buku teori pendidikan, tapi hanya catatan harian saja, dan ternyata ketika dikumpulkan dan diterbitkan laku juga di pasaran, meskipun tulisan saya di buku itu gak bagus-bagus amat. Hehehe…. Lalu, beliau memberikan oleh-oleh khusus buat saya… tarrraaaa… Lima bungkus kue kenari khas Ternate.. ” Ini Pak Asril sekedar oleh-oleh dari saya… semoga berkenan….

Kue Kenari Khas Ternate

Kue Kenari Khas Ternate
IMG_20140201_164512[1]

Kue kenari Kotak

The last but not the least. Saya terpaksa harus mencukupkan rasa excited selama satu minggu di Ternate, karena berikutnya masih ada tugas lagi yang harus dijalankan. Halmahera Utara menanti. Tak sabar saya menunggu kisah-kisah menarik apalagi yang akan saya temukan lagi satu minggu ke depan. Kami memilih waktu subuh untuk berangkat ke sana untuk menghindari ombak yang menggeliat ganas ketika hari mulai terang. Setelah naik speed boat selama setengah jam ke Pelabuhan Sofifi, berikutnya lanjut perjalanan darat selama 4 jam dengan menggunakan mobil sewaan di pelabuhan. Kaca mobil sengaja dibuka, karena udara alam jauh lebih segar ketimbang AC mobil. Selain itu, kita bisa menikmati pemandangan dengan lebih asyik kalau kaca mobil terbuka. Memandang langsung gunung dan bukit yang menghijau subur benar-benar membuat mata saya segar. Ditambah lagi garis-garis pantai dengan menyuguhkan air jernih dan jajaran pohon kelapanya yang rapi, menjadikan bukan hanya mata yang dimanjakan, tapi juga pikiran yang akhirnya jauh lebih fresh dan tenang. Hmmm…. Do you know ?? Surga ini bernama Indonesia, guys… Surga yang mengundang banyak orang asing datang dan menjajah negeri kaya raya ini. Teringat sebuah kalimat di novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata,“Terkadang, kekayaan itu bisa juga menjadi kutukan.”

Jalan berkelok yang asik

Jalan berkelok yang asik
Ini pohon kelapa, sagu atau pala ya ?? Sampai sekarang masi

Ini pohon kelapa, sagu atau pala ya ?? Sampai sekarang masih susah membedakan
Hijaunya bikin mata seger

Hijaunya bikin mata seger
Garis Pantainya  di kanan jalan juga bikin pikiran fresh

Garis Pantainya di kanan jalan juga bikin pikiran fresh
Tertutup Ilalang

Tertutup Ilalang

Alhamdulillah jalanan mulus lancar tanpa hambatan, kecuali hewan-hewan yang kadang lalu lalang di tengah jalan seperti sapi, anjing, bebek, kambing, dan juga babi – yang terpaksa harus membuat kita sesekali berhenti untuk mendahulukan hewan-hewan itu lewat, layaknya mendahulukan lewatnya kereta api kalau di kota-kota di Jawa.

P1160012

Babi Imut berkeliaran di jalan

***

Well, akhirnya bertemu juga dengan guru-guru super di Halmahera Utara. Ya, saya menyebut mereka “super” bukan tanpa alasan. Awalnya panitia memberitahu kami bahwa mungkin karena ini letaknya di pelosok, jadi kualitas dan daya tangkapnya kurang begitu baik seperti yang di kota. Namun, setelah lima hari berjalan, saya bisa mengatakan bahwa dugaan panitia keliru. Meski berada jauh dari perkotaan, jujur saya akui guru-guru di Halmahera Utara tak kalah jika dibandingkan dengan yang di Ternate atau bahkan tak kalah dengan guru-guru di mana kami biasa bekerja, Surabaya. Daya tangkapnya cepat dan kreativitasnya juga tinggi.

Saya di Halmahera Utaraw

Saya di Halmahera Utara

Mereka begitu kreatif membuat variasi-variasi strategi pembelajaran yang kami workshopkan, seperti sosio drama, parodi, puisi, dsb. Pun juga ice breaking-ice breaking yang variatif dan menarik tak lupa mereka ciptakan sendiri dalam waktu sekejap. Kami sempat takjub dengan kreativitas Pak Tukang, salah satu peserta pelatihan. Ups, jangan salah, nama beliau memang Pak Tukang, nama lengkapnya Abner Tukang, atau biasa dipanggil dengan Pak Tukang. Ketika kami membuat workshop tentang strategi pembelajaran dengan papan  permainan, beliau membuat papan permainan yang diadopsi dari permainan cenge-cenge, tau kalau di jawa disebut dengan engkle. Namun bidang permainannya tidak dibuat di tanah, melainkan di sebuah karton dengan menyentilkan uang logam sebagai “gaco”nya. Kami semua termasuk panitia penasaran untuk mencoba permainan hasil kreasinya. Beliau juga membuat sebuah flash card dari sobekan kertas yang ternyata bisa dimanfaatkan untuk permainan tebak soal seperti di acara-acara kuis.

Selain pak Tukang, adalagi Pak Jansen yang gaya bicaranya perpaduan antara orator dan motivator, yang tiap kali sesi presentasi selalu berapi-api untuk menginspirasi dengan kata-katanya. Dan juga masih banyak lagi peserta yang kreatif, unik, penuh semangat dan inspirasi. Di akhir acara, pun juga tak jauh berbeda dengan di Ternate, ada puisi dan lagu hasil karangan mereka sendiri yang ditujukan untuk kami fasilitator dan panitia. Terkadang ada juga tarian-tarian daerah di sela-sela pelatihan, yang saya dan Pak Vita begitu menikmati untuk ikut menari di dalamnya untuk sekedar melepas penat.

Papan Karton Permainan karya Pak Tukang dan kelompok

Papan Karton Permainan karya Pak Tukang dan kelompok

Dadu dari potongan singkong

Dadu dari potongan singkong
Pak Tukang mendemokan permainan flash card buatannya

Pak Tukang mendemokan permainan flash card buatannya

Ah, siapa bilang kreativitas itu harus mahal, harus penuh fasilitas, harus ada di kota-kota besar, buktinya di sini kreativitas tumbuh subur, makmur,sentosa. Jadi teringat sebuah statement yang disampaikan oleh Bu Rizky, staf dinas pendidikan Kota Ternate, di acara sebelumnya, “Saya bukan guru, tapi saya punya anak yang juga masih SD. Dan saya juga ingin anak saya diajar oleh guru-guru kreatif. Dan sebenarnya, potensi anak-anak-anak sini sangat luar biasa. Anak-anak sini aktivitas fisiknya terbiasa berinteraksi dengan alam sehingga tubuhnya kuat-kuat dan sehat. Gizinya pun juga sangat bagus, karena sumber makanan dan rempah-rempah di sini masih sangat alami. Tinggal apakah kita mau berusaha meletikan potensinya atau tidak” Sebuah semangat optimisme yang masuk akal menurut saya.

Kalau boleh saya ibaratkan seperti seorang samurai, anak-anak di sini adalah anak-anak yang sudah memiliki pedang samurai yang sangat tajam dan berkualitas tinggi. Tinggal apakah mau memainkan pedang itu dengan baik atau tidak. Dan memainkan pedang yang baik jelas butuh latihan dan pelatih yang handal. Jika tidak, maka pedang-pedang tajam dan berkilauan hanya sia-sia saja tak terpakai.

Bersama panitia dari Wahana VIsi Indonesia

Bersama panitia dari Wahana VIsi Indonesia

Jika anak-anak adalah seorang samurai, maka pedang mereka adalah kecerdasan mereka masing-masing yang menurut Gardner disebut dengan Multiple Intellegences atau kecerdasan majemuk, yang harus diasah dan dilatih agar bisa menjadi seorang samurai yang handal. Jika guru-guru adalah samurai, maka pedang mereka adalah kreativitas dan semangat yang tinggi untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan berbobot di setiap kelasnya. Jika terus diasah dan dilatih, maka kebangkitan bangsa ini adalah keniscayaan, karena kemajuan bangsa ditentukan oleh kualitas manusia di dalamnya. Kualitas manusia di dalamnya ditentukan oleh pendidikan berkualitas yang ada di dalamnya. Dan pendidikan berkualitas ditentukan oleh guru-guru yang kreatif dan berdedikasi tinggi yang ada di dalamnya.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *