Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Edukasi Film

Tidak ada Murid yang Buruk, yang Ada Hanyalah Guru yang Buruk

Judul Film : Hichki
Tahun Rilis : 2018
Sutradara : Sidharth P Malhotra

Miss Naina (diperankan Rani Mukerjee) mulai resah ketika lima gelas tehnya sudah habis, namun tak ada seorang pun orang tua siswa didiknya yang hadir pada acara Pertemuan Wali Murid. Ia pun akhirnya memutuskan untuk melakukan home visit ke rumah siswa-siswanya itu.

Miss Naina langsung terkejut ketika mengetahui bahwa semua siswa-siswanya yang tinggal di lingkungan kumuh itu harus mengalami kegetiran hidup. Untuk mendapatkan air bersih saja mereka harus antri sedemikian panjangnya. Sedangkan untuk kebutuhan makan sehari-hari mereka harus bekerja keras membanting tulang melakukan berbagai pekerjaan kasar.

Tak heran jika pada akhirnya orang tua mereka sama sekali tak menghiraukan urusan pendidikan anak-anaknya. Ditambah lagi, sekolah tempat mereka belajar juga mendiskriminasi kaum-kaum rendahan seperti mereka. Karena itulah mereka cukup memiliki alasan untuk memandang bahwa dunia ini tidak pernah adil.

Mereka selalu merasa tak ada tempat untuk orang-orang yang dikalahkan oleh keadaan seperti mereka. Bahkan, sekolah, tempat yang yang seharusnya memberikan harapan kepada siswa didiknya, tak jua berkenan memberikan mereka harapan. Bagi mereka, harapan hanya milik orang-orang berduit. Sedangkan bagi orang-orang “kalah” seperti mereka, harapan hanyalah omong kosong yang hanya ada di awang-awang.

Tapi, selalu saja ada satu sudut bersih di hamparan lantai-lantai yang kotor. Selalu ada orang-orang optimis di antara kerumunan orang pesimis. Selalu ada satu harapan dari sekian banyak keterpurukan. Miss Naina adalah harapan bagi siswa-siswanya yang telah lama merasakan ketidakadilan dunia itu.

Setelah melakukan kunjungan ke rumah-rumah siswanya, Miss Naina mengumpulkan siswa-siswanya dan berusaha meyakinkan bahwa mereka adalah anak-anak yang hebat. Dipanggilnya Ravender, salah seorang siswanya yang suka berjudi. Diberikannya soal hitung-hitungan yang cukup rumit kepada Ravender. Ajaib, Ravender bisa menjawabnya dengan sangat cepat, melebihi kecepatan kalkulator.

“Bahwa kamu itu bisa menyelesaikan hitungan rumit sendiri. Bahkan lebih cepat dari kalkulator. Tapi masih saja gagal di matematika. Aneh kan ?” Kata Miss Naina kepada Ravender.

Ia pun lalu semakin meyakinkan Ravender bahwa dirinya adalah anak yang berbakat dan meminta menggunakan kemampuan berhitung itu untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

“Kalau mau berjudi, berjudilah dengan resmi. Bukan judi jalanan seperti ini. Tapi berjudilah di tingkat perjudian terbesar di dunia, Pasar Modal. Siapa tahu kamu akan menjadi pengusaha saham sukses. Untuk meraihnya, kamu harus mempersiapkannya. Kamu harus belajar.” Lanjutnya kepada Ravinder.

Lalu muncul celutukan dari siswa-siswa yang lain

“Bu, dia (Ravender) memang pandai berhitung dan berbakat. Bagaimana dengan kami ?”

“Ya Bu, hanya beberapa anak saja yang bisa pintar. Sisanya tetap tak berguna, kan?”

“Dia betul Bu. Aku yakin, aku sungguh tak berguna. Ipa, matematika, geografi. Semua nilaiku nol.”

Tak mudah menyerah, Miss Naina kemudian mengupas satu per satu kelebihan siswa-siswa lain, yang selama ini tidak mereka sadari. Selama melakaukan home visit Miss Naina tahu bahwa siswa-siswanya tersebut ternyata banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar untuk membantu orang tuanya, seperti berdagang, menjadi montir di bengkel, menyiapkan alat rias pengantin, dsb.

“Killam, kamu kerja di bengkel, bukan ?  kenapa mobil lebih cepat jalan di gigi 4 daripada di gigi 2 ?”

“Bu karena gigi 4 punya sedikit gesekan. Jadinya rodanya berputar lebih cepat.”

“Itu Fisika, Kallam. Berikutnya, Tamannah, saat kapan kamu tambahkan garam di jari wanita ? di awal ?

“jangan di awal, Bu. Selalu di akhir. Kalau di awal akan jadi encer dan lengket.”

“Penambahan garam mengencerkan zat kimia. Itu kimia.”

Usai bertanya kepada Tamannah, Bu Guru Naina menghentikan pertanyaannya ke siswa-siswanya yang lain dan mengatakan kalimat-kalimat yang membuat seluruh siswanya terpana.

“Kalau kalian bertanya, kalian sudah mahir di bidang masing-masing. Tapi ada satu hal lagi yang kalian mahir : Menyalahkan keadaan kalian.”

***

Apapaun sebab musababnya, sungguh, berada dalam posisi “kalah” dari keadaan, tak pernah mudah. Salah seorang kawan saya pernah berkata bahwa cara untuk membangkitkan orang dari kekalahan adalah dengan cara mengubah pola pikirknya. Perlu ada motivasi agar mereka bisa bangkit dari keterpurukan. Saya tak benar-benar sepakat dengan pendapat itu.

Pemberian motivasi dan nasihat-nasihat indah tak serta merta bisa membantu segala persoalan mereka. Bagaimana bisa membantu mengubah pola pikir, sedangkan perut mereka sendiri terlalu lapar untuk berpikir. Bagaimana mereka bisa termotivasi dengan nasihat-nasihat indah, sedangkan dunia yang mereka lihat tak pernah indah. Sambutan dunia kepada mereka terlalu jauh dari kata layak.

Maka, untuk membantu mereka dari keterpurukan tidaklah cukup hanya dengan motivasi dan nasihat-nasihat. Kalaupun pada akhirnya Miss Naina bisa memotivasi anak-anak didiknya yang terlalu jengah dengan dunia yang tidak ramah pada diri mereka, itu tidak lain dan tidak bukan karena Miss Naina tak hanya bermodal nasihat dan kata-kata motivasi saja. Ia mengawalinya dengan susah payah masuk ke kehidupan mereka.

Dimulai dengan menerapkan gaya mengajar yang keatif, sehingga siswa-siswanya senang dengan pelajarannya, sampai ia rela berlelah-lelah terjun ke rumah muridnya masing-masing untuk melihat kondisi riil mereka ketika berada di rumah. Ya,  di saat semua orang-orang di sekolah hanya bisa menghakimi bahwa mereka adalah anak-anak yang bodoh dan berandalan, Bu Guru Naina justru mengambil langkah lain. Ia beersusah payah menelusuri sebab kenapa anak-anak itu menjadi sedemikian rupa tertinggalnya dari siswa-siswa yang lain.

Tentu, Bu Naina melakukan penelusurannya itu dengan suka rela, tak memikirkan apakah itu termasuk dalam Tupoksi(Tugas Pokok dan Fungsi)-nya sebagai guru atau tidak ; akan mendapatkan tunjangan transportasi tambahan atau tidak ; dihitung sebagai tugas lembur atau tidak. Selama itu berhubungan dengan perkembangan siswa didiknya, maka itu juga menjadi tugasnya, meskipun tidak tertulis di surat kontrak kerjanya dengan sekolah.

Meski sudah berusaha sedemikian keras dan menunjukkan kemajuan yang signifikan, namun yang dilakukan Miss Naina tidaklah benar-benar 100% berhasil. Aatish, salah satu siswanya yang paling bengal belum bisa dikendalikan dengan baik. Hingga pada akhirnya ia membawa masalah yang besar, yang mengakibatkan satu kelas mereka diskors berbulan-bulan. Miss Naina tentu shock dengan kondisi tersebut. Ia merasa gagal. Baginya, tidak ada murid yang buruk, yang ada hanyalah guru yang buruk. Jika ia masih belum bisa mengendalikan murid-muridnya dengan baik, tentu itu adalah kesalahan dia sebagai seorang guru.

Anggapan itu bukanlah tanpa sebab musabab. Miss Naina adalah seseorang yang menderita tourette syndrome, yakni sebuah kelainan neurologis yang menyebabkan ia cegukan terus menerus. Sedari kecil ia mendapatkan diskriminasi. Ia dikeluarkan dari 12 sekolah. Teman-temannya selalu mengejek dan guru-gurunya sering mengusirnya keluar kelas. Hanya ada satu sekolah yang mau menerimanya, yakni Sekolah St. Notker’s, sekolah tempat ia mengajar kemudian.

Adalah Mr. Khan, kepala sekolah yang menerimanya sebagai siswa di sana. Tak hanya menerima, Mr. Khan pula yang membantunya agar ia terbebas dari diskriminasi teman-teman dan guru-guru di St. Noker’s. dari dua belas sekolah yang sudah disinggahinya, hanya Mr. Khan guru yang spesial baginya. Guru yang mengubah hidupnya. Miss Naina yang awalnya tak pernah punya harapan untuk mendapatkan perlakuan normal dari lingkungannya, akhirnya bisa memperolehnya berkat bantuan Mr. Khan. Ia memiliki deskripsi terhadap Mr. Khan sebagai berikut :

“Guru biasa hanya memberi ilmu, guru hebat membuatmu mengerti, guru yang sangat hebat menunjukkanmu cara mengamalkannya. Tapi ada guru yang menginspirasi kita. Bagiku, Mr. Khan adalah guru yang seperti itu.”

Ada banyak guru yang ditemuinya, namun hanya ada satu guru yang telah berhasil mengubahnya dari anak yang pesimis menjad sosok yang penuh optimisme. Seringkali, Kepercayaan akan melahirkan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Mr. Khan percaya bahwa Naina adalah anak yang istimewa. Benarlah ternyata, Mis Naina menjadi orang yang sangat istimewa. Kemudian, ketika menjadi guru, Miss Naina juga percaya bahwa siswa-siswanya istimewa. Dan benarlah, mereka juga menjadi orang yang istimewa di kemudian hari.

Mr. Khan membebebaskan Naina kecil dari diskriminasi orang-orang di sekolahnya

Memang kepercayaan diri timbul tidak hanya dari dalam diri kita. Kepercayaan diri juga bisa timbul dari orang lain yang memercayai kita. Jika kita susah memercayai bahwa orang lain istimewa, bisa jadi kita jarang mendapatkan kepercayaan dari orang lain bahwa diri kita istimewa. Hidup tanpa kepercayaan adalah hidup yang selalu dipenuhi kecurigaan. Dan itu sungguh menakutkan. Seperti yang dikatakan oleh Aatish kepada Miss Naina ketika ia menyadari kesalahannya :

“Bu, ingatkah ketika Anda menyuruh kami menuliskan ketakutan terbesar kami. Aku takut, Bu. Aku takut kalau aku tak sehebat 9A. Tapi yang paling kutakutkan adalah mempercayai seseorang. Siapapun itu. Aku takut mempercayai diriku sendiri. Aku takut mempercayai dirimu, Bu.”

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *