Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

YOGYAKARTA

Jangan Mau Jadi Sekolah Kuper

Perjumpaan saya dengan SDN Banyuripan dimulai ketika saya hendak menghadiri acara Mocosik di Jogja bulan April lalu. Kebetulan di waktu yang sama, Fatah, teman saya yang merupakan seorang penulis dan traveler, juga sedang berada di Jogja untuk mengisi acara training kepenulisan untuk anak-anak SD. Diajaknya saya bergabung di acaranya. Saya pun tak keberatan. Jadwal acara Mocosik baru dimulai di malam hari selama tiga hari. Di pagi harinya, daripada bengong, saya bergabung dengan Fatah untuk mengisi pelatihan kepenulisan untuk anak-anak SD tersebut.

Di SDN Banyuripan

SDN Banyuripan, yang terletak di kawasan bantul adalah tempat di mana acara pelatihan itu berlangsung. Saya hanya bertugas membantu Fatah sebagai asisten trainer. Fatah lah yang lebih banyak mengambil peran dalam kegiatan tersebut. Oh ya, selain Fatah juga ada Mbak Yetti, seorang penulis dan pengajar, yang saat itu juga sebagai narasumber utama. Target kegiatan pelatihan tersebut adalah bisa menjadikan tulisan-tulisan anak-anak tersebut ke dalam sebuah buku antologi.

Menjelang akhir tahun, tulisan anak-anak Banyuripan itu pun berhasil diterbitkan menjadi sebuah buku antologi puisi. Saya, Fatah, dan Mbak Yetti pun kembali “ditarik” Bu Guru Isyani, tuan rumah SDN banyuripan, untuk kembali ke Jogja guna menghadiri acara launching karya anak-anak tersebut. Kami tentu senang sekali, karena memang sejak pertemuan di awal dulu, kami sudah bersepakat untuk membuat kegiatan literasi yang lebih masif di SDN Banyuripan. Ketika saatnya tiba, kami pun dengan senang hati menyambutnya.

Buku Antologi Puisi Karya Siswa-siswi SDN Banyuripan

Acara launching buku itu pun akhirnya dikemas semeriah mungkin. SDN Banyuripan mengemas kegiatan tersebut menjadi rangkaian kegiatan literasi selama beberapa hari. Ada acara launching, sarasehan pendidikan, dan juga pelatihan menulis untuk guru-guru. Di saat sekolah-sekolah lain sibuk merencanakan kegiatan liburan akhir tahun, SDN Banyuripan justru membuat kegiatan literasi dengan penuh semarak. Tak ketinggalan, dihadirkan juga bintang tamu Yudha and The Remora, yakni sebuah grup band dari Jogja yang berfokus pada lagu anak-anak.

Mas Yudha sendiri sebenarnya juga seorang jurnalis di Tribun Jogja. Suatu ketika, Bu Guru Isyani, yang saat itu sedang mengajak siswa-siswa Banyuripan berkunjung ke kantor Tribun untuk belajar mengenai pembuatan koran, bertemu dengan Mas Yudha. Setelah mengetahui bahwa Mas Yudha juga adalah seorang musisi yang menaruh perhatian begitu besar pada lagu anak-anak, Bu Guru Isyani pun mengundang Mas Yudha untuk “konser” di sekolahnya. Gayung bersambut, Mas Yudha pun menyanggupi untuk tampil di SDN Banyuripan sengan sukarela, alias pro bono, alias gratis tanpa dibayar.

Sebelum Mas Yudha and The Remora datang ke SDN Banyuripan, Bu Guru Isyani terlebih dahulu sudah sering menyetel lagu-lagu mereka ketika jam istirahat sekolah. Maka, tak heran jika akhirnya anak-anak pun hafal dengan lagu-lagu mereka. Ketika Mas Yudha konser di sekolah, semua siswa-siswa SDN Banyuripan langsung bisa bernyanyi bersama sambil berlonjak-lonjak bahagia.

Penampilan Yudha and The Remora

Jika dilihat-lihat lagi, acara semarak literasi SDN Banyuripan tersebut ternyata tidak hanya melibatkan pihak internal sekolah saja, tapi juga banyak pihak-pihak luar yang terlibat secara sukarela. Dari Bu Guru Isyani saya sempat mendengar bahwa SDN Banyuripan sering mengadakan kegiatan kunjungan ke berbagai tempat-tempat yang bisa memberikan edukasi kepada anak-anak seperti kantor media, kantor pos, museum, bank, Puskemas, pasar, dan lain sebagainya.

Sesungguhnya, kegiatan semacam ini sedang marak dilakukan di banyak sekolah. Sebutannya pun bermacam-macam, ada yang menyebutnya dengan study visit, outing, atau environment learning. Melihat fenomena ini, saya jadi menduga-duga bahwa saat ini banyak sekolah yang sudah semakin sadar bahwa mereka bukanlah satu-satunya otoritas sumber ilmu pengetahuan untuk siswa-siswanya. Ilmu pengetahuan tidak hanya bisa didapatkan di ruang kelas, tapi semua tempat yang ada di alam raya ini adalah kelas-kelas yang juga tak kalah hebat dalam memberikan ilmu pengetahuan bagi siswa.

Apalagi di zaman tekneologi informasi yang berkembang seperti sekarang ini, ilmu pengetahuan bisa didapatkan dengan sangat mudah dari berbagai media. Coba buka saja buka google atau youtube, lalu cari apapun yang ingin kita pelajari. Semuanya tersedia dengan lengkap. Saya sempat bertanya-tanya, mungkin beberapa tahun ke depan, ketika teknologi informasi sudah semakin maju dengan begitu pesat, apakah sekolah masih dibutuhkan ? Toh, kita bisa memperoleh ilmu pengetahuan dengan cara mandiri melalui gawai yang kita punya.

Liputan Pelatihan Menulis Untuk Guru di Koran Surya

Tapi di lain sisi, saya juga tetap berpikir di masa-masa yang akan datang, sekolah masih tetap dibutuhkan, karena pada dasarnya yang kita dapatkan di sekolah bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga keterampilan dan penanaman karakter. Kedua hal itu –terutama penanaman karakter—hanya bisa kita dapat dengan berinteraksi langsung secara bertatap muka, bukan lewat gawai. Oleh karena itu, bayangan saya terkait sekolah di masa depan adalah sebuah institusi pendidikan yang lebih banyak memberikan porsi perhatiannya pada pengembangan keterampilan dan penanaman karakter. Sedangkan untuk pengetahuan, sekolah mungkin hanya berperan sebagai fasilitator dan memberikan filter terhadap informasi-infromasi yang begitu banyak beredar di sekitar siswa.

Salah satu cara yang  bisa digunakan untuk memberikan filter itu adalah kegiatan belajar bersama ahlinya tersebut. Misal, untuk belajar bagaimana cara memilah-milah berita mana yang benar dan berita yang hoax, kita bisa belajar langsung dari para praktisi media seperti jurnalis atau redaktur. Bisa dengan melakukan kunjungan ke kantor mereka, atau mendatangkan mereka ke sekolah. Untuk belajar bagaimana memilih makanan yang bergizi, kita bisa belajar langsung dengan praktisi gizi. Bisa dengan datang ke pusat kesehatan atau mendatangkan ahlinya ke sekolah.

Tak perlu khawatir soal biaya, karena sekarang ini marak sekali lembaga atau komunitas-komunitas yang peduli pendidikan dan akan dengan senang hati datang ke sekolah untuk berbagi secara sukarela. Tinggal apakah sekolah mau pro aktif berinteraksi dengan mereka. Ya, seringkali sekolah-sekolah yang mampu menjadi sekolah yang keren tak melulu mereka yang punya fasilitas dan modal yang besar, tapi juga mereka yang memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dan memang pada akhirnya kolaborasi lah yang sepertinya akan menjadi salah satu karakter generasi milenial di saat ini dan akan datang.

Liputan Semarak Literasi SDN Banyuripan di Koran Surya

Kalau kita cek para content creator di youtube, kolaborasi begitu dirayakan oleh mereka. Membuat konten secara bersama-sama seakan menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka. Semakin banyak mereka berkolaborasi, semakin banyak pula konten menarik yang akan dihasilkan. Saya kira, demikian juga harusnya sebuah sekolah-–kolaborasi juga tak boleh diabaikan. Semakin banyak yang bisa dikerjakan bersama, maka semakin banyak pula hasil yang bisa diperoleh. Selain itu, kolaborasi juga tidak hanya supaya kita bisa menyukseskan program-program sekolah, lebih dari itu, kolaborasi juga akan menghadirkan iklim pendidikan yang lebih kondusif.

Dengan adanya kolaborasi, kepedulian terhadap pendidikan dari berbagai kalangan di masyarakat akan semakin tumbuh. Dengan demikian, pembangunan kualitas pendidikan di negeri ini tidak hanya akan diemban oleh para instansi pendidikan, tapi semua orang yang merasa peduli dengan pendidikan juga akan turut memberikan sumbangsi untuk kemajuan pendidikan.

Namun, semua itu, tidak akan bisa dicapai jika sekolah masih memegang paradigma  yang menganggap bahwa yang namanya belajar itu ya harus di dalam kelas menghadap buku dan papan tulis, bukan bermain-main di luar kelas. Kolaborasi hanya akan terjadi jika sekolah bersedia membuka diri untuk segala perkembangan zaman dan menolak untuk menjadi sekolah yang kuper.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *