Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Puisi

Yang Terhenti, Yang Binasa, Yang Tiada

I

Yang terhenti, memang bukan detak jantungku

Tapi gelora (yang terlanjur kembali terjaga) di cerah mata,

beringsut kalut — menjelma sayup-sayup kabut.

Pengharapan yang baru saja terlahir sungsang

–harus merelakan dirinya kembali tak bernyawa

Keputusanmu serupa alat kejut di ruang bedah itu

Menghentak gairah yang lama terbujur koma itu

Gagal menjadikan serupa gelombang yang semestinya itu

Bunga-bunga tersungkur

Sekali lagi menyimpan semerbaknya dalam kubur

II

Yang binasa, memang bukan sengal nafas di dada

Tapi bahagia (yang terlanjur tumpah) di gemeretak kata-kata

–harus merelakan ujarannya tergagap membubuhkan tanda titik,

tanpa sempat menyempurnakan paragraf-paragrafnya.

Menghapus baris-baris awal dalam sajak-sajak berbunga

yang baru saja tertulis di kelebat pikirannya

Kabar yang kauhempas itu serupa peluru

Menggali lubang sedalam palung, pada resah yang baru saja

kau pulihkan dengan hangat perangaimu

Burung-burung bungkam

Segan menyanyikan getir cericitnya yang menghujam

III

Yang tiada, memang bukan kehidupan di hari-hari selanjutnya

Tapi gesit (yang terlanjur tersuntik) di setiap tegak langkah

–harus merelakan perjalanannya usai sebelum waktunya

Menikam cuaca cerah di sudut-sudut kepala

Menghapus navigasi yang sejenak lalu bernyala di ufuk renjana

Kepergianmu serupa tajam batu-batu yang menyakiti telapak kaki.

Ketika jemari merenggang sejajar sesekali

–bunyi peluit tanda mulai berlari, perlahan terhapus di laci memori

Semut-semut mencipta garis jeda

Sembari bertanya tanya,

“Kapankah waktu yang tepat untuk berbaris lagi, untuk berbenah lagi, untuk melangkah lagi ?”

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *