Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Sosok TULANG BAWANG BARAT

Yang Saya Rasakan Ketika Bertemu Lagi dengan Murid SD yang Sekarang Sudah Kuliah

Dikarenakan jadwal kantor yang sudah menanti beberapa hari ke depan, saya pun akhirnya tak bisa berlama-lama stay di Tubaba. Agenda rutin mengunjungi desa Indraloka (tempat saya bertugas selama masih bergabung di Indonesia Mengajar dulu) pun terpaksa tidak saya lakukan. Padahal, murid-murid saya sudah menunggu-nunggu kehadiran saya. Mereka tahu kedatangan saya dari foto yang saya unggah di facebook.

Jujur, saya sendiri pun juga masih merasa ada yang kurang jika berkunjung ke Tubaba tapi tidak sempat mampir ke Indraloka dan bertemu dengan murid-murid saya dulu. Untungnya, saya masih sempat bertemu tiga murid saya, yang sekarang sedang merantau ke daerah lain untuk kuliah. Sebelum saya ke Tubaba, saya terlebih dulu ke Banda Aceh dan bertemu dengan salah seorang murid saya yang sedang berkuliah di Unsyiah, Hengky.

Bertemu Hengky di Banda Aceh

Sepulang dari Banda Aceh dan berlanjut ke Lampung, Imron, murid saya yang lain, yang sekarang sedang kuliah di Jurusan Pendididkan Matematika di UIN Bandar lampung sudah menjemput saya di depan pintu Bandara Raden Inten, Lampung.

Saat itu, malam sudah semain larut ketika saya mendarat di Lampung. Kendaraan umum ke arah Tubaba sudah tidak bisa dijumpai lagi. Jadilah saya menginap dulu di kontrakan Imron di Bandar Lampung. Alhamdulillah, Imron tak keberatan, malah terlihat sangat senang mendapati saya, guru SD-nya yang sudah tak pernah ditemuinya selama tujuh tahun ini, akhirnya bisa dijumpainya lagi dan menginap di kontrakannya.

Esoknya saya beranjak ke Tubaba dengan menaiki mobil travel. Saya menitip satu kotak kardus berisi oleh-oleh di rumah kontrakan Imron. Rasanya sungguh sangat repot jika ke Tubaba harus membawa barang-barang. Toh, nanti sehabis dari Tubaba saya akan ke bandara lagi untuk naik pesawat pulang ke Surabaya. Kontrakan Imron tak jauh dari bandara, jadi saya bisa mampir kembali untuk mengambil kotak oleh-oleh itu.

Sepulang dari Tubaba, ketika saya mampir lagi ke kontrakan Imron, ternyata Yuyun,  murid saya yang lain sudah menunggu di sana. Ia juga kuliah di kampus yang sma dengan Imron, namun berbeda jurusan. Yuyun mengambil jurusan Pendidikan Bimbingan Konseling.

Ya ampun, saya tak bisa membayangkan bagaimana makhluk se-alay dan se-galau Yuyun akan menjadi guru BK. Akan dibuat seperti apa murid-murid yang berkonsultasi dengannya kelak. Bisa-bisa bukan malah mendapatkan solusi tapi forum konseling akan jadi forum alay berjamaah. Hahaha…

Tapi, apapun itu, ada banyak hal yang saya rasakan ketika akhirnya bertemu dengan tiga murid saya yang sekarang sedang menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa ini, diantaranya :

  • Semakin sadar bahwa saya memang sudah tua

Kalaulah ada suatu perubahan di dunia ini yang tak benar-benar bisa kita rasakan dengan sadar adalah : Menjadi Tua. Saya selalu sepakat jika ada yang mengatakan bahwa penuaan fisik, seringkali tidak serta merta diikuti dengan penuaan jiwa. Berapa banyak orang-orang yang sudah mulai menua secara fisik, tapi kedewasaan dirinya masih begitu-begitu saja. Berapa banyak orang-orang yang sudah membuncit perutnya, memutih rambutnya, dan berkeriput kulitnya, namun secara kejiwaan ia merasa masih belia.

Seringkali, ketika perubahan fisik diri sendiri tak berhasil menyadarkan bahwa kita sudah tua, perubahan fisik anak-anak di sekitarnya lah yang sukses memunculkan kesadaran itu. Dan itulah yang baru saja terjadi ketika saya bertemu murid-murid saya ini. Saya tiba-tiba saja langsung tersadar bahwa waktu terus berjalan dengan cepatnya. Anak-anak ini yang dulu tinggi badannya masih sepinggang saya, kini sudah menyamai, bahkan melebihi tinggi badan saya. Berarti, fix saya sudah semakin tua. Lalu, apakah saya juga semakin dewasa ? Entahlah.

  • Terkesan dengan Perkembangan Mereka

Dulu, mereka sering saya tuntun. Dulu mereka sering saya beri instruksi. Dulu mereka sering saya atur. Dulu mereka anak-anak. Dan mungkin dulu saya sangat pongah karena merasa menjadi orang yang lebih dewasa dan tahu segalanya dibanding mereka. Tapi mereka sekarang serasa partner bagi saya. Berbincang dengan mereka yang sekarang sungguh berbeda dengan berbincang dengan mereka yang dulu.

Anak-anak ini sekarang sudah bisa berargumentasi. Sudah bisa berwacana. Sudah bisa mengajukan kritik dan ketidaksetujuannya. Selama berbincang dengan mereka, saya lebih banyak memosisikan diri sebagai pendengar. Saya lebih banyak tertegun dengan perkembangan mereka, sekaligus senang mendengarkan cerita-cerita mereka tentang tugas-tugas kuliah yang bikin pening, tentang dosen-dosen yang kiler, tentang organisasi kampus yang mereka ikuti, tentang politik kampus yang sedang panas, tentang manakah yang akan menang di Pemilu nanti ; Jokowi atau Prabowo, sampai tentang mengapa Habib Rizieq tidak pulang-pulang dari Arab Saudi.

Saya menyimak itu semua dengan perasaan yang semakin teryakinkan bahwa memang mereka sudah beranjak dewasa dan saya sudah semakin tua.

  • Bangga, akhirnya ada murid saya yang kuliah

Tak bisa dipungkiri bahwa saya bangga melihat ada murid saya yang akhirnya bisa mengenyam bangku kuliah. Tapi ini bukan berarti mereka yang tidak kuliah jauh lebih buruk nasibnya dibanding mereka yang kuliah. Sama sekali tidak. Apapun kondisi murid-murid saya sekarang, saya tetap akan selalu bangga dengan mereka, juga akan selalu mendukung setiap pilihan-pilihan hidup yang mereka ambil.

Bersama Yuyun dan Imron

Kalaupun terlihat ada perasaan bangga yang lebih khusus kepada mereka yang kuliah (meskipun sebenarnya tidaklah demikian), mungkin itu seperti seorang ayah yang profesinya adalah polisi, lalu ada salah seorang anaknya yang akhirnya juga menjadi polisi. Tapi apakah itu berrarti ia tidak bangga dengan anak-anaknya yang lain ? Saya pikir tidaklah demikian. Lagipula, saya juga bukan seseorang yang begitu mendewakan pendidikan akademik yang sedemikian rupa. Bagi saya, semua tempat yang ada di dunia ini adalah universitas yang mampu mengajarkan kita berbagai pelajaran hidup.

Saya juga yakin bahwa meskipun kita kuliah di kampus sebagus apapun, semua itu tidak akan bermakna apa-apa kalau kita tidak piawai juga dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Oleh karena itu, saya terasa lega ketika melihat murid-murid saya yang sedang kuliah ini tidak hanya bersuntuk dengan kelas dan juga tugas-tugas kuliah, tapi juga aktif berorganisasi di intra dan ekstra kampus.

Ya, organisasi kampus adalah salah satu tempat belajar yang tak boleh kita lewatkan. Organisasi kampus adalah wadah yang tdak hanya membentuk kepribadian kita menjadi lebih matang, tapi juga akan menjadikan apa yang kita pelajari di kampus lebih bermakna untuk lingkungan sekitar kita nantinya.

Maka, ketika mau berpisah dan memberikan memberikan buku saya kepada mereka, saya tak lupa menuliskan satu pesan sederhana kepada mereka dalam bahasa Jawa, “Kuliah sing sregep, organisasi sing sregep”(Kuliah yang rajin, organisasi yang rajin).

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *