Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Edukasi Event

Mengapa Setiap Guru Harus Fasih Menulis ?

Sebenarnya, saya tak pernah terpikirkan untuk membuat materi training tentang kepenulisan. Kalau saja LPMP Jatim (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Jawa Timur) tidak meminta saya untuk mengisi acara workshop menulis di Malang dalam rangka Hari Pendidikan Nasional beberapa bulan lalu – mungkin sampai sekarang saya tak akan pernah membuat materi training tersebut. Hal ini dikarenakan saya masih belum percaya diri lantaran selalu merasa bahwa pengalaman menulis saya masih sangat minim. Buku yang saya tulis masih sedikit. Begitu pula tulisan-tulisan di media, masih sungguh minim. Ah, jangankan menulis buku atau di media, mengisi blog pribadi saja, rasanya masih angin-anginan.

Setidaknya, alasan LPMP Jatim meminta saya untuk mengisi acara workshop kepenulisan dikarenakan saya adalah kontributor majalah Median, majalah yang diterbitkan oleh LPMP, yang secara spesifik menulis tentang seluk beluk kompetensi guru. Saya juga telah menulis buku yang membahas tentang seluk beluk kapasitas guru agar bisa lebih profesional menjalani profesinya, yakni buku pertama saya yang berjudul Rockstar Teacher. Maka, menurut mereka akan sangat tepat jika workshop yang pesertanya terdiri dari guru-guru dari berbagai daerah di Jawa Timur itu diisi oleh saya. Saya pun menyanggupi dengan terlebih dahulu menyampaikan bahwa materi workshop yang akan saya sampaikan nanti hanya seputar sharing proses kreatif dalam menulis buku Rockstar Teacher.

Ternyata materi training kepenulisan itu tak berhenti di LPMP saja. Di bulan ini, saya kembali menyampaikan kembali materi itu di dua even yang berbeda. Even pertama adalah di acara Out of The Boox yang diselenggarakan oleh Penerbit Mizan Surabaya. Tak berbeda dengan sesi pelatihan di LPMP, acara di even ini hanya berlangsung selama 2- 3 jam saja, sehingga saya tak banyak memodifikasi materi. Even ke dua adalah Pelatihan Menullis Buku Pendidikan Populer yang diselenggarakan oleh SDN Banyuripan Yogyakarta. Karena durasinya lebih panjang daripada event-even sebelumnya, maka materi saya turunkan lagi menjadi lebih teknis dan aplikatif.

Dari ketiga even tersebut sebenarnya saya menangkap satu persamaan dari peserta-peserta yang hadir di dalamnya. Rata-rata mereka adalah guru-guru yang sama sekali “tidak kosong” dalam hal menulis. Kebanyakan mereka sudah memiliki pengalaman menulis, minimal menulis di blog pribadinya masing-masing. Kalaupun belum memiliki pengalaman menulis, setidaknya mereka adalah pembaca buku yang tekun. Hal ini jadi mempermudah saya dalam menyampaikan materi, karena saya tidak memulai dari hal yang sangat basic.

Dari segi jumlah peserta pun  sangat terbatas. Berbeda dengan pelatihan-pelatihan guru yang menyangkut metode pembelajaran, manajemen kelas, dan lain-lain — yang jumlah pesertanya jauh lebih banyak. Saya jadi semakin mengamini dugaan lama saya bahwa pelatihan menulis untuk guru adalah kegiatan yang sangat segmented. Hanya guru-guru yang memang sadar literasi lah yang akan tertarik mengikutinya. Jumlah sekolah atau lembaga-lembaga lain yang mengadakan pelatihan menulis juga masih minim. Barangkali, pelatihan menulis memang masih menjadi kebutuhan tersier bagi kebanyakan guru dan sekolah. Padahal jika kita lihat lebih dalam lagi, sebenarnya keterampilan menulis sangatlah penting dimiliki oleh setiap guru.

Apabila para pimpinan sekolah sering mengeluhkan kompetensi pedagogis guru-guru di sekolahnya yang masih di bawah standar atau para guru yang sering merasa stagnan kreativitasnya ketika mengajar di dalam kelas – menulis mungkin akan menjadi salah satu alternatif yang patut dicoba untuk mengatasi hal tersebut, karena ternyata aktivitas menulis memiliki dua “kandungan bergizi” yang akan mampu melatih kompetensi guru dalam menjalankan tugas-tugasnya di dalam sekolah. Dua kandungan itu diantaranya :

  1. Berpikir Kreatif

Dalam banyak literatur tentang kreativitas disebutkan bahwa modal utama agar kita memiliki kreativitas yang tinggi adalah imajinasi. Dan menulis adalah sebuah aktivitas yang di dalamnya banyak mengandalkan imajinasi. Biasanya, ketika menulis kita akan berpikir keras mengaktifkan imajinasi kita  untuk menemukan diksi-diksi yang menarik supaya bisa menciptakan sebuah tulisan yang asik ketika dibaca.

Selain itu, dalam aktivitas menulis kita juga didorong untuk mengubah konsep-konsep yang masih abstrak di kepala untuk diurai menjadi lebih konkrit ke dalam sebuah tulisan yang apik. Lagi-lagi Imajinasi pun mengambil peran penting dalam proses itu. Jadi, sebenarnya dalam aktivitas menulis kita sedang dilatih untuk berpikir kreatif menyusun kata demi kata. Semakin kita sering menulis, maka semakin terasah pula daya kreativitas kita.

2. Berpikir Runut

Bahasa tulis berbeda dengan bahasa lisan. Dalam dialog bahasa lisan, kita bisa langsung mengonfirmasi jika terjadi salah pemahaman di antara para penuturnya. Dalam bahasa tulis tidak demikian. Tak ada proses konfirmasi langsung antara pembaca dan penulis. Dengan demikian, tidak ada jalan lain bagi penulis selain harus menyajikan tulisannya segamblang mungkin supaya tidak terjadi salah persepsi bagi para pembacanya. Untuk mewujudkan hal tersebut, penulis akan berusaha keras untuk membuat tulisannya runut agar bisa diikuti pembacanya dengan baik.

Saking seringnya mereka bergulat sedemikian rupa untuk menciptakan kerunutan tulisan, biasanya juga akan terbawa dalam komunikasi lisannya. Saya banyak sekali bertemu penulis-penulis beken yang memang ketika berbicara selalu runut, jelas, dan mudah diikuti. Meskipun mungkin retorika verbal mereka tak sebagus orator atau motivator yang menggugah, namun ketika menyimak argumennya sungguh sangat clear. Saya menduga keras bahwa itu adalah buah dari seringnya mereka berjibaku sedemikian rupa untuk menciptakan tulisan-tulisan yang ber-nas.

Bagi seorang guru, kerunutan berpikir ini jelas sangat penting. Profesi guru tak cukup dijalani dengan hanya bermodal pintar dan berwawasan luas saja. Ia juga perlu menyampaikan ilmu yang dimillikinya itu dengan runut dan jelas agar siswa-siswa yang dididiknya bisa dengan mudah mencerna materi-materi yang disampaikannya dengan clear. Dalam buku saya, Rockstar Teacher, saya mengutip quote dari Albert Einstein yang mengatakan bahwa, “Jika Anda tidak bisa menjelaskan suatu hal dengan sederhana, itu artinya Anda belum cukup paham.” Dan aktivitas menulis adalah aktivitas yang sangat membantu seorang guru agar bisa menyampaikan materinya dengan sederhana.

Pelatihan Menulis Buku Pendidikan Populer di SDN Banyuripan Yogyakarta

Dengan demikian, seharusnya budaya menulis untuk guru-guru tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan tersier. Ia harusnya dipandang sebagai kebutuhan primer, karena menulis adalah pondasi guna menghadirkan guru-guru yang mampu berpikir lebih kreatif dan runut, supaya ia memiliki energi yang tak habis-habis untuk menghadirkan proses pembelajaran yang menarik di sekolah. Kegiatan-kegiatan untuk menumbuhkan menulis seperti pelatihan menulis, sharing dengan penulis, bedah buku, dan sebagainya – harusnya mulai masuk ke dalam prioritas daftar pengembangan kompetensi guru.

Lagi, seringkali budaya menulis akan dibarengi dengan kegiatan membaca. Dan saya selalu percaya bahwa guru-guru yang gila membaca adalah guru-guru yang akan memiliki energi berlebih ketika ia menyampaikan sesuatu. Energi yang penuh dengan posona ilmu pengetahuan yang mendalam. Energi yang lebih mencerahkan dan penuh inspirasi. Kalau saja saya bisa kembali menjadi siswa, sungguh saya akan senang bisa dididik oleh guru-guru yang memiliki energi seperti itu. Guru-guru yang gandrung buku dan fasih menulis.  

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *