Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

ACEH

Manggeng – Kuala Batee : Sebuah Usaha “Bercocok Tanam” Semangat dan Produktivitas Sekolah

Bermula dari Perbup SPM PI (Peraturan Bupati tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Islam) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Abdya (Aceh Barat Daya) beberapa waktu silam, di mana salah satu poin terpentingnya adalah misi menciptakan iklim pendidikan yang humanis – Next Edu Indonesia pun akhirnya terlibat untuk berkolaborasi menyukseskan misi itu.

Dilandasi kesadaran bahwa sebuah perubahan perilaku dan budaya kerja dalam suatu ekosistem tidaklah bisa dibentuk dengan instan, maka kami pun bersepakat untuk tidak terlalu berambisi untuk melakukan sebuah program-program masif yang seringkali malah hanya berujung pada perubahan yang bersifat sesaat saja, tanpa meninggalkan spirit yang berkesinambungan. Kami lebih tertarik untuk bergerak secara bertahap, namun mampu menghasilkan dampak yang  berkesinambungan dalam jangka panjang.

Sejatinya, pekerjaan pengembangan pendidikan tak ubahnya dengan kegiatan bercocok tanam. Dibutuhkan bibit yang unggul, tanah yang subur, serta cuaca yang mendukung agar tumbuhan yang ditanam bisa tumbuh dan berbuah segar. Lalu di kemudian hari kita akan memanennya dengan penuh kebahagiaan.

Oh ya, ada lagi. Yang tak kalah penting dari semua itu adalah sosok petani yang sabar, telaten, ulet mengolah lahan dan merawat setiap pertumbuhan tanaman dengan baik. Lagi, petani tersebut juga harus tangguh, sehingga mampu bersiasat menghadapi tantangan yang datang, seperti serangan hama atau perubahan cuaca yang tiba-tiba bisa merusak segala proses pertumbuhan tanaman.

Sebagus apapun bibit, lahan, dan cuaca yang ada — jika tidak dikelola oleh petani yang baik, maka itu semua tidak akan pernah berarti apa-apa. Oleh karena itu, langkah pertama yang dilakukan untuk mewujudkan iklim pendidikan yang humanis adalah menyiapkan “petani-petani” yang handal tersebut. Dinas Pendidikan Abdya mengawalinya dengan memilih guru, kepala sekolah, dan juga pengawas sekolah untuk menjadi “petani-petani” yang kelak akan bertugas untuk  menanam bibit-bibit semangat dan produktivitas kerja di lahan-lahan garapannya, yakni sekolah-sekolah yang ada di Abdya.

Sekitar 25 orang guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah telah dipilih. Mereka kemudian disebut sebagai instruktur daerah, yang nanti bersama kami dari Next Edu Indonesia akan bersama-sama menyusun strategi dan memantapkan keterampilan untuk “bercocok tanam semangat dan produktivitas” di sekolah-sekolah yang akan disasar. “Bibit” yang akan ditanamkan ada dua hal, yakni paradigma dan strategi pembelajaran.

Instruktur Daerah Abdya

Paradigma adalah pondasi utama untuk membentuk iklim pendidikan yang humanis, ramah anak, dan memanusiakan manusia. Sedangkan strategi pembelajaran adalah tiang yang akan menegakkan segala kerja sekolah untuk melejitkan potensi siswa-siswanya. Sebelum terjun ke “lahan-lahan garapan” kami selalu berkumpul untuk memantapkan dua hal tersebut (paradigma dan strategi pembelajaran).

Sungguh mustahil membuat orang mau percaya membeli dagangan yang kita jajakan, tanpa kita sendiri percaya dengan kualitas produk kita. Sungguh mustahil menanamkan sebuah konsep kepada orang lain, namun kita sendiri tidak mempercayai dan menguasai konsep yang kita sampaikan. Sungguh mustahil menggerakkan hati orang lain melakukan sesuatu, tanpa hati kita sendiri tergerak untuk melakukannya.

Bertempat di guest gouse bernama Khana Pakat yang terletak di Blang Pidie, satu per satu unsur dari paradigma dan strategi pembelajaran yang akan kita tanamkan, kita kuliti satu persatu lalu kita cerna sampai tertanam di kepala kita supaya nanti ketika disampaikan di sekolah-sekolah sasaran mampu memberikan dampak yang maksimal. Berhari-hari kami berinkubasi, mulai dari pagi sampai sore hari. Saking seringnya kami berkumpul di Guest House Khana Pakat, pada akhirnya tempat itu seolah sudah menjadi base camp untuk kami.

Memantapkan materi pelatihan di Khana Pakat

Kecamatan Manggeng dan Kecamatan Kuala Batee adalah dua titik di mana kami akan “bercocok tanam”. Bertempat di SMP 1 Manggeng dan SMP 1 Kuala Batee, pelatihan untuk guru-guru pun digelar selama beberapa hari secara berkesinambungan di tiapa bulannya. Peserta pelatihan di masing-masing titik adalah 50 orang guru-guru SMP dari 5 sekolah di 5 kecamatan terdekat. Total ada 100 guru yang mengikuti pelatihan di dua titik tersebut.

Di tahap-tahap awal tentang perubahan paradigma, dari kedua titik kami sempat dicecar pertanyaan dari peserta. Materi-materi yang kita bahas terkait paradigma itu adalah seputar kecerdasan, potensi anak, bakat, dan lain-lain. Kami selalu percaya bahwa setiap anak adalah bintang sesuai dengan kecerdasannya  masing-masing. Jika selama ini kita masih kesulitan untuk memyakini atau membuat anak kita menjadi bintang, maka sebenarnya masih ada yang harus dibenahi dari paradigma dan usaha-usaha kita untuk melejitkan potensi setiap siswa kita.

Untungnya, kami selalu percaya bahwa setiap dinamika dalam sebuah forum adalah sesuatu yang harus disyukuri, karena dari situlah akan muncul penguatan-penguatan dari masing-masing personil yang terlibat di dalamnya. Benarlah ternyata, setelah berdinamika beberapa waktu, baik peserta maupun bapak/ibu instruktur daerah akhirnya semakin menemukan kemantapan bahwa memang sejatinya antara satu manusia yang satu dengan yang lain itu unik. Dan sekolah, sebagai salah satu instansi terpenting yang bertugas untuk meningkatkan kualitas manusia, harusnya menyadari keunikan tersebut, lalu memanfaatkan berbagai metode agar tiap-tiap keunikan tersebut bisa terfasilitasi dengan baik.

Para Instruktur Daerah sedang beraksi

Sesi strategi pembelajaran adalah sesi yang sangat penuh kebahagiaan. Tidak banyak teori-teori di dalamnya. Waktu-waktu dalam sesi itu lebih banyak berisi praktik-praktik dan simulasi. Interaksi antara instruktur dan peserta pun juga jauh lebih cair dari sebelumnya. Suasana akrab terjalin seketika. Usai pelatihan kami saling berkomunikasi via whatsapp atau via media sosial di internet. Banyak yang mengaku mendapatkan bank data untuk dijadikan sebagai referensi metode yang baru untuk mengajar. Beberapa peserta pelatihan sempat mengunggah gambar ataupun video ketika mereka menerapkan berbagai strategi tersebut di sekolahnya. Dan tentu saja kami sangat senang melihatnya. Lega karena ternyata “benih” yang telah ditanamkan oleh bapak/ibu instruktur daerah mulai bertunas.

Meski demikian, tentu tunas saja masih belum cukup. Masih butuh kerja-kerja berikutnya untuk memupuk, merawat, dan melindungi tunas itu dari segala hama yang mengganggu. Salah memberikan perawatan, tunas-tunas itu pun akan rentan rusak dan berhenti tumbuh. Kalau sudah demikian, maka impian untuk memanen hasil jerih payah menanam benih pun tak akan pernah terwujud. Maka, tak ada pilihan lain selain terus memacu diri untuk terus berusaha keras dan bekerja cerdas untuk memanen hasilnya suatu saat kelak, yakni : sekolah-sekolah berkualitas dan siswa-siswa yang terlejitkan potensinya di sekolah itu.

Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

-Chairil Anwar-

2 COMMENTS

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *