Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

ACEH

Perjalanan Panjang Dibayar Pertemuan yang Menyenangkan

Panas setahun dibayar hujan sehari

Lelah Seharian dibayar istirahat satu jam

Sederas apapun “hujan sehari” itu atau se-nyenyak apapun “tidur se-jam” itu, rasanya akan mustahil jika gersang panas dan geliat lelah yang harus dilunasi terlampau tinggi kuantitasnya. Kalaupun berhasil dilunasi, mungkin akan seperti melunasi jumlah hutang utama dari seorang rentenir, sedangkan bunga hutangnya  tak sedikitpun mampu  terbayar. Untungnya perjalanan ke Aceh Barat Daya di bulan-bulan berikutnya tak begitu menguras energi seperti perjalanan yang pertama.

Di bulan-bulan selanjutnya, kami tim Next Edu tak lagi mendarat di Banda Aceh untuk menuju Aceh Barat Daya. Kami sudah mahfum bahwa rute yang lebih dekat adalah mendarat di bandara Nagan Raya. Dari situ kemudian dilanjut perjalanan darat yang hanya menempuh waktu dua jam.

Setelah mencari-cari jadwal pesawat, akhirnya baru kami tahu bahwa jadwal pesawat dari Medan ke Nagan Raya hanya ada pada jam 13.00 WIB. Otomatis kita pun harus mencari jadwal pesawat Surabaya–Medan sebelum jam itu. Dan jadwal yang berhasil didapat untuk memburu pesawat ke Nagan Raya adalah jam 06.00 pagi hari. Ini menunjukkan bahwa setidaknya kami harus berangkat dari rumah paling lambat jam 04.00 subuh.

Transit di Medan

Dari dulu saya sungguh membenci keberangkatan di pagi hari. Bukan hanya karena saya memang susah bangun pagi, tapi berangkat pagi-pagi buta mengakibatkan tidur di malam hari sebelumnya tidak akan pernah nyenyak. Secara psikologis, kita tentu akan takut bangun telat. Oleh karena itu, berbagai usaha agar tidak telat bangun pun digalakkan. Mulai dari memasang waktu alarm dengan berkali-kali lipat di tiap tiga jam sebelumnya, dengan harapan kalau alarm di satu waktu kita tidak terbangun, maka di bunyi alarm berikutnya kita bisa terbangun.

Bahkan tidak hanya dengan bunyi alarm dari satu ponsel saja. Dua sampai tiga ponsel pun sering saya nyalakan juga biar bunyi lebih nyaring, lalu saya tidak akan telat bangun. Ya, berangkat aktivitas pagi-pagi buta memang mengakibatkan kita jadi paranoid seketika. Bisa dipastikan, tidur pun juga tidak akan pernah senyenyak hari-hari normal.

Saya sempat berharap bahwa perjalanan panjang dari Surabaya menuju Nagan Raya  bisa saya gunakan untuk membayar hutang tidur yang terbengkalai, namun pada kenyataannya tetap saja tak bisa. Senyaman apapun kendaraan yang kau tumpangi, tetap saja tak akan mampu menghadirkan nyeyak yang paripurna dalam tiap-tiap menit waktu tidur kita. Bagaimanapun tidur di dalam kamar tak akan pernah bisa digantikan oleh tidur di dalam naungan kendaraan. Meskipun demikian, bukan berarti kelelahan akibat perjalanan panjang itu tak bisa dilipur. Sesampainya di tujuan, seringkali yang berhasil melipur kita malah bukan istirahat “susulan”, tapi justru pertemuan dengan orang-orang di sana.

Ya, pertemuan adalah momen yang seringkali mampu menyuburkan tanah-tanah gersang dalam dirimu, lalu menggantinya dengan lahan-lahan baru yang lebih menyejukkanmu. Tentu saja tidak semua pertemuan seperti itu. Hanya pertemuan dengan orang-orang yang tepat lah yang akan mampu menciptakan lahan-lahan subur dengan kandungan-kandungan positif di dalamnya. Kelak, begitu kau meninggalkannya, rasa rindu akan bertunas dalam hatimu. Dan akan semakin tumbuh subur ketika kau kembali dalam pertemuan itu. Aceh Barat Daya adalah tanah yang berhasil menanam tunas-tunas rindu di dalam hati saya ketika meninggalkannya.

Durasi waktu tugas kami di Aceh Barat Daya adalah sepuluh hari. Tiga kali lipat dari durasi tugas kami biasanya. Perjalanan berangkat ke tempat yang sangat panjang, ditambah dengan durasi tugas yang tak singkat adalah faktor sempurna untuk terpapar kelelahan dan kejenuhan. Kalau saja dalam rentang waktu itu kita jalani dengan orang-orang yang salah, bisa dipastikan kadar kelelahan dan kejenuhan itu akan meningkat beberapa derajat.

Bersama Bapak/ibu guru, kepala sekolah, dan pengawas Sekolah Aceh Barat Daya

Untungnya hal seperti itu tak menimpa diri kami. Jajaran dinas pendidikan selaku penyelenggara, serta bapak ibu guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang menjadi peserta kegiatan adalah orang-orang berenergi positif yang mampu melindungi kami dari kelelahan dan kejenuhan. Antusias mereka membara di tiap sesi. Sambutan yang diberikan juga sangat hangat kepada kami. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk mengenal lebih mendalam satu dengan yang lain. Di dalam kelas kami bersuka cita. Di luar kelas kami berbahagia dengan saling mengenal satu dengan yang lain.

Di sesi-sesi break kami berusaha saling mengenal satu sama lain. Saling memahami karakter dan budaya daerah masing-masing. Saya sendiri belajar banyak tentang seluk beluk budaya dan karakteristik orang Aceh. Tak ketinggalan, saya juga belajar bahasa Aceh, yang pada akhirnya saya simpulkan sebagai bahasa yang sungguh simpel. Betapa tidak sederhana, kalau di bahasa-bahasa lain kita butuh banyak huruf atau suku kata untuk menciptakan satu kosakata, dalam bahasa Aceh satu suku kata pun bisa jadi satu kosa kata. Bahkan tak sedikit juga satu kosa kata yang hanya terdiri satu huruf, misalkan saja huruf “U”, yang berarti kelapa. Jika dirangkai dalam satu kalimat akan menjadi “Jeb ie U”. Jeb = minum, Ie = air, U = kelapa. Jadi, kalimat “Jeb ie u” berarti “Minum air kelapa”. Sungguh simpel sekali, bukan ?

Dari dulu saya selalu suka menyimak perbincangan dengan bahasa daerah yang masih asing bagi saya. Rasanya sungguh menyenangkan sekali mendengar aksen-aksen khas dan juga dinamika perbincangannya. Lalu, ketika saya ingin bergabung dalam perbincangan itu, dalam sekejap kita bisa berinteraksi lagi dengan bahasa Indonesia. Biasanya, orang-orang yang berbincang dengan bahasa daerah itu akan langsung menjelaskan tentang apa saja yang baru saja mereka bicarakan. Tanpa diminta, mereka langsung menerjemahkan masing-masing kalimat yang mereka perbincangkan tadi.

Dalam hati, saya selalu bersyukur menjadi orang Indonesia dan memiliki bahasa Indonesia. Interaksi dari satu budaya dan budaya lain dalam lingkup nusantara jadi semakin mudah. Kalaupun terjadi kendala dengan bahasa daerah, bahasa Indonesia lah yang selalu berhasil menjadi penolong untuk menyelesaikan kendala itu, karena selain menguasai bahasa daerah, semua orang Indonesia pasti juga menguasai bahasa Indonesia.

Selain berkenalan dengan bahasa daerah setempat, hal yang tak boleh ketinggalan tentu saja menikmati berbagai santapan lokal. Dan santapan yang paling adiluhung menurut saya tentu saja Mie Aceh dan Kopi Aceh. Berkali-kali makan Mie Aceh di tanah Jawa, tetap saja Mie Aceh yang langsung disantap di daerah asalnya adalah yang paling sempurna. Rasanya jelas lebih tinggi derajatnya dibanding dengan Mie Aceh KW super yang ada di Jawa sekalipun.

Kedai Kopi Ayah Nature

Lalu untuk urusan kopi Aceh, tak ada tempat yang paling sempurna untuk menikmatinya selain di Kedai Kopi Ayah Natur milik Pak Syahrul Aidi, seorang kepala sekolah SD yang juga peserta program pendampingaan kami. Bertempat di Jl. Cut Meutia Blang Pidie, Kedai Kopi Ayah Nature adalah kedai kopi yang juga sering menjadi base camp sesama guru, kepala sekolah, dan juga pengawas sekolah di sekitar Aceh Barat Daya.

Saya selalu percaya bahwa secangkir kopi tidak hanya mampu menghangatkan tenggorokan, tapi juga bisa menghangatkan jiwa-jiwa penikmatnya. Jika dinikmati bersama-sama, maka kehangatan di meja yang telah berjajar cangkir-cangkir kopi itu akan mampu mengikat hati para penikmatnya kedalam satu suasana kekeluargaan yang akrab.

Ngobrol gayeng di Kedai Kopi Ayah Nature

Tak peduli apapun suku, bahasa, budaya, dan latar belakangnya, begitu kau sudah melingkar mengelilingi meja yang sudah tersaji bercangkir-cangkir kopi, kekeluargaan akan rentan terjalin di sana. Dan benarlah ternyata, malam-malam yang sering kami lewati dengan kopi dan segala kudapan pelengkapnya seperti berhasil menyulap hubungan batin kami menjadi tak hanya sekadar hubungan kerja, tapi hubungan yang lebih hangat : keluarga. Maka, di pertemuan-pertemuan selanjutnya pun kami sudah tidak lagi menjadi “orang lain” antara satu dengan lainnya. Inilah yang di kemudian hari membuat saya selalu merindukan untuk datang lagi ke Aceh Barat Daya ketika sudah kembali ke Surabaya.

Inilah yang kemudian akhirnya mampu membunuh kebencian saya terhadap suntuknya perjalanan panjang di pagi hari yang penuh keruwetan. Ya, rindu adalah bahan bakar paling kuat yang akan mendorongmu menuju pertemuan. Seruwet apapun perjalananmu untuk menuju pertemuan itu, rindu akan mampu mengikis segala kelelahan dan kejenuhan yang tumbuh di dalamnya. Selalu begitu.

2 COMMENTS

  1. Alhamdulillah… Mudah2an Master2 terkemuka yg pernah kami kenal ini akan selalu tetap bersama dalam jiwa walaupun pertemuan nya terlalu singkat tetapi bisa membuat kami terasa sudah sangat dekat seperti yg kami alami selama ini (persahabatan itu bukan karna selalu bertetap muka tapi karna jiwa ini mungkin selalu bersama seiring berkomunikasi & interaksi melewati hawa2 udara yg terbentang oleh seluruh alam). Semoga pk Master Asril & Master Marzuki selalu dalam lindungan Allah Swt & akan bersua lagi dikemudian hari pada sesi2 yg penuh rasa kekeluargaan & kebersamaan yg selalu tertanam dalam hati…💓💓💓

  2. cerita yg super, narasi yg sangat apik.jd rindu juga ni ingin cepat2 tiba di Februari.
    seandainya saja diberi peluang berkunjung ke Surabaya juga…

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *