Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

SURABAYA

Kongres Pelajar Surabaya 2018

Tahun lalu, Kongres Pelajar Surabaya diselenggarakan di bulan Oktober dengan mengusung spirit Sumpah Pemuda. Para delegasi pengurus Osis dari berbagai penjuru Surabaya yang terdiri dari Jong Benowo, Jong Gayungan, Jong Wonokromo, Jong Gubeng, Jong Rungkut, dll — itu berkongres selama 3 hari.

Puncaknya, mereka mencetuskan Ikrar Pemuda Surabaya, yang kurang lebih berisi kumpulan tekad untuk tidak hanya belajar di dalam kelas, tapi juga berkegiatan positif di berbagai kegiatan sekolah dan juga turut berpartisipasi aktif memberikan kontribusi untuk kemajuan kota kesayangan dan penuh kenangan : Surabaya.

Tahun ini, seribu pengurus Osis itu kembali berkongres di bulan November dengan mengambil spirit Hari Pahlawan. Dengan mengusung tema “Pahlawan di Era Millenial”, mereka berkolaborasi mengadakan berbagai kegiatan kreatif dan memetik inspirasi dari pahlawan2 Millenial yang ada di Surabaya. Anda bisa menyimak salah satu aksi mereka melalui vlog yang telah diunggah di YouTube.

Dua kali kegiatan ini telah dilaksanakan. Dan di keduanya pula saya berkesempatan sedikit ambil bagian untuk nimbrung di salah satu kegiatan mereka. Tak ada hal lain yang saya rasakan, selain ikut terseret semangat muda mereka. Sungguh, saya yang memiliki wajah yang terlihat tua ini terasa menjadi dua hari lebih muda ketika bersama mereka.

Jika tahun lalu saya ditugaskan untuk memberikan materi tentang wawasan kebangsaan, maka kali ini materi yang saya bawakan adalah tentang bagaimana cara mengetahui potensi diri dan kemudian melejitkannya, sehingga kelak bisa mencapai masa depan yang gemilang. Kebetulan dua hari sebelumnya saya telah tunai menonton film biografi musisi yang paling saya tunggu-tunggu, Bohemian Rhapsody. Maka, euforia terhadap film yang bercerita tentang perjalanan karir Freddy Mercury bersama band-nya, Queen tersebut masih sangat terasa ketika saya berdiri di hadapan anak-anak muda kece Surabaya tersebut. Saya pun akhirnya tergoda untuk menyelipikan satu teaching point penting dari film itu di slide presentasi untuk adek2 pengurus OSIS se-Surabaya.


un sekolah sampai ia mendapatkan gelar Profesor di bidang Astrofisika. 
Jadi, kalau bisa sukses di akademik sekaligus cemerlang di hobi/bakat yang kita gemari, kenapa harus milih salah satu saja. Toh, sejatinya setiap manusia berpotensi untuk menjadi multi talenta, bukan?Kalau kebanyakan anak band identik dengan anak berandalan dan sekolahnya berantakan, maka bisa dibilang Queen adalah anomali dari semua itu. Semua personil Queen adalah anak sekolahan yang urusan akademiknya tidak keteteran, meskipun mereka juga sibuk bermusik. Bahkan, Brian May, gitarisnya Queen, tetap tek

 

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *