Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Papua

Kaki-kaki yang Kuat

Banyak orang – termasuk saya – memiliki keinginan untuk berkunjung ke Indonesia Timur, khususnya tanah Papua,  yang terkenal dengan keeksotikan alamnya. Tidak semua orang bisa beruntung mewujudkan keinginan tersebut, lantaran biaya perjalanan kesana mahal bukan main. Bahkan mungkin jauh lebih mahal daripada pergi ke luar negeri. Saya sendiri merasa beruntung akhirnya bisa berkesempatan menginjakkan kaki di tanah mutiara hitam itu.

Kabupaten Fak-fak adalah daratan Papua pertama yang berhasil saya kunjungi. Kesempatan spesial ini terjadi berkat teman-teman pengajar muda penempatan Fak-fak angkatan VI yang waktu itu masih dalam masa penugasan. Mereka membuat sebuah program  pelatihan guru dan mengundang Next Edu sebagai pengisi acaranya. Kebetulan saya salah satu masuk sebagai daftar tim yang ditugaskan untuk mengisi kegiatan tersebut.

Meski bukan untuk berlibur, namun setidaknya saya sempat sedikit merasakan eksotik tanah fak-fak. Dari balik jendela hotel tempat kami menginap saja, keindahan fak-fak tak bisa terbantahkan keindahannya. Pun ketika dalam perjalanan dari bandara ke hotel. Sambil menyusuri jalanan yang naik turun, mata saya dimanjakan dengan keindahan alam yang masih sangat perawan.

 

Di tengah menikmati keindahan alam Fak-fak itu, perhatian saya tertuju pada hal lain yang juga tidak kalah uniknya. Sepanjang perjalanan, saya melihat orang-orang berjalan dengan begitu entengnya naik turun tanjakan yang lumayan curam itu. Sejumlah anak-anak pun berlarian ke sana kemari. Kecepatan lari mereka hampir menyaingi mobil yang saya tumpangi. Dengan luwesnya mereka berlari mendahului mobil kami yang masih berhati-hati menyusuri jalan kelok-kelok dan bertanjakan itu. Memang, Kekuatan fisik orang Papua tak pernah bisa dianggap remeh.

Hal yang sama juga saya jumpai ketika saya berkunjung ke Wamena. Waktu itu, hari terakhir pelatihan kebetulan jatuh di hari Jumat. Waktu break pelathan jadi lebih lama dari hari-hari sebelumnya, lantaran harus memberikan kesempatan sholat Jumat untuk para peserta yang beragama islam. Jarak dari tempat pelatihan menuju masjid cukup jauh. Panitia kemudian mengerahkan satu mobil untuk mengantarkan para rombongan ke masjid. Saya termasuk salah satu yang ikut rombongan tersebut.

Tempat yang disebut masjid itu sebenarnya tak lebih dari sebuah ruangan kecil di sebuah sudut pasar. Bentuknya pun sama sekali tak merepresentasikan masjid pada umumnya. Tak ada serambi dengan tiang-tiang kokoh, apalagi kubah. Mungkin ruangan itu adalah bekas warung, atau memang ruang kosong yang sudah tidak terpakai. Meskipun demikian, di dalam ruangannya tetap terlihat bersih dan rapi, sehingga sholat jumat bisa tetap dijalankan dengan nyaman.

DSC00711

Tempat Sholat Jumat di Tengah Pasar

Usai sholat Jumat, kami kembali ke tempat pelatihan dengan mobil yang kami tumpangi tadi. Saya mengira teman-teman panitia — yang kesemuanya bukan beragama islam – telah kembali ke tempat pelatihan setelah mengantar kami ke masjid,  dan akan kembali menjemput ketika sholat jumat selesai. Tapi ternyata mereka menunggui kami sampai sholat Jumat berakhir.

Ah, siapa bilang di Papua toleransi beragama tidak tumbuh subur ? Selain contoh mengantarkan beribadah semacam ini, selama pengalaman mengisi acara di tanah Papua ataupun di wilayah Indonesia Timur lainnya, saya selalu menyaksikan pemandangan yang unik. Semua orang boleh memimpin doa ketika pembukaan atau penutupan acara dengan cara agamanya masing-masing. Dan biasanya, jika di doa pembukaan dipimpin oleh orang kristen, maka penutupnya dipimpin oleh orang islam atau agama yang lainnya.

Biasanya sebelum acara berdoa dimulai, sang pemimpin doa akan memberikan informasi terlebih dahulu, yang kurang lebih begini bunyinya, “Baik bapak-ibu, izinkan saya memimpin doa kali ini dengan cara agama yang saya anut, yaitu agama kristen. Bagi yang beragama lain, silakan menyesuaikan.” Lalu berdoalah beliau dengan cara doa umat kristen. Begitu pula jika yang memimpin adalah orang islam, akan terlebih dahulu memberi prolog yang sama, “Baik bapak-ibu, izinkan saya memimpin doa kali ini dengan cara agama yang saya anut, yaitu agama Islam.  Bagi yang beragama lain, silakan menyesuaikan.”  Lalu berdoalah beliau dengan menggunakan bahasa arab.

Mengenai cerita-cerita toleransi umat beragama semacam ini, teman-teman saya pengajar muda di berbagai daerah penempatan yang beragam agamanya bisa menceritakan banyak contoh yang mereka alami. Sebut  saja teman-teman pengajar muda beragama islam yang bertempat tinggal di daerah kristen, yang ketika ada acara hajatan selalu diminta untuk menyembelih sendiri ayam yang akan dimakannya, karena masyarakat  tersebut  paham bahwa orang islam hanya boleh makan daging hewan yang ketika menyembelihnya harus dengan menyebut nama Allah terlebih dahulu. Setelah disembelih sendiri, barulah kemudian ayam tersebut dimasakkan oleh warga yang bertugas di bagian dapur. Sebaliknya, teman pengajar muda yang beragama kristen yang tinggal di rumah keluarga muslim, yang ketika harus pergi ke gereja keluarga angkatnya tersebut rela mengantarkan jauh-jauh ke gereja dan menunggui sampai kegiatan ibadah di gereja selesai. Sungguh, toleransi itu memang benar-benar nyata adanya. Bahkan sampai di sudut-sudut negeri pun toleransi tumbuh dengan begitu suburnya.

Baiklah,  kita kembali pada cerita tentang selesai sholat jumat tadi. Selama perjalanan kembali  ke tempat pelatihan, saya melihat banyak anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki di sepanjang jalan. Benar, kasusnya juga sama dengan yang saya jumpai di Fak-fak dulu. Kecepatan lari anak-anak tersebut melebihi kecepatan mobil kami. Padahal jalanan yang kami lewati bukanlah jalan aspal yang mulus. Banyak sekali batu-batuan dan kerikil-kerikil yang lumayan tajam. Jadi, selain kagum dengan kecepatan lari mereka, saya sekaligus ngeri membayangkan kaki mereka akan lecet-lecet dan berdarah terkena kerikil-kerikil tajam tersebut.

Saya tanya kepada Pak sopir yang mengendarai mobl kami.  Kebetulan  belau adalah orang yang sudah tinggal sangat lama di Wamena, “Pak, anak-anak lari-lari tanpa sepatu gitu apa gak sakit ? kan jalannya batu-batuan gitu?”

“Ah, jangankan nginjek batu mas, nginjek paku payung aja mereka ndak kerasa kok.” Jawab Pak Sopir.

Saya hanya tertawa saja mendengar jawaban pak sopir. Saya anggap jawabn beliau  hanya  becandaan belaka. Namun, ternyata pak sopir sama sekali tak menunjukkan wajah becanda ketika menjawabnya. Bahkan, dia kemudian berusaha untuk menegaskan lagi jawabannya

“Lho beneran ini mas. Kalau tidak percaya, coba kalau mas ada paku payung lempar saja di jalan pasti bakal bengkok kalau sudah diinjak mereka. Orang-orang di sini kakinya kuat-kuat kayak besi. Mungkin karena sudah terlatih sering jalan tanpa alas kaki di jalan bebatuan kayak gini”.

DSC02039

Anak-anak dengan kaki yang kuat

Terlepas antara percaya dan tidak dengan jawaban pak sopir itu, dalam hati saya benar-benar mengagumi kekuatan kaki-kaki ornag-orang di sini. Nampaknya, Limbad, sang magician yang doyan dengan aksi-aksi ekstrim itu patut mencoba beradu lari dengan orang-orang sini. Tentu di jalan dengan batu-batu dan kerikil tajam seperti yang ada di jalanan sini.

Mengenai kekuatan kaki orang-orang Papua ini juga, saya sempat dapat tiga cerita yang langsung saya dengar dari beberapa orang asli sini, yang pertama adalah dari Gustaf, salah seorang siswa SD di Wamena yang kebetulan sempat mengisi salah satu sesi pelatihan kami dengan  cerita perjuangannya untuk bersekolah. Gustaf, yang memiliki impian ingin menjadi polisi tersebut, terbiasa jalan kaki selama dua jam lamanya hanya untuk menuju sekolah setiap harinya. Selama dua jam perjalanan itu, Gustaf harus naik turun bukit dan melewati jembatan yang sudah tidak layak pakai.  Jika dihitung perjalanan pulang pergi, berarti setiap hari Gustaf menghabiskan waktu empat jam perjalanan untuk bersekolah. Gustaf dengan gigih menjalani itu semua. Ia berusaha untuk kuat, meskipun sempat mengaku dengan kondisi ekonomi keluarganya yang sangat rendah, ia hanya mampu makan sekali dalam sehari. Itu pun hanya makan umbi-umbian.

Tak jauh beda dengan  Gustaf, cerita ke dua saya dapat dari Mama Bety, salah satu peserta pelatihan yang merupakan guru di salah satu SD di Wamena. Sebelum ditugaskan di Wamena, ia sempat menjalani hari-harinya menjadi guru di kabupaten Lani Jaya, yang membutuhkan waktu berjalan kaki 3 – 5 jam. Mama Bety pun juga menyiapkan makanan untuk bekal perjalanan. Jika sudah mulai lelah dan perut keroncongan, beliau beristirahat terlebih dahullu sambil menyantap bekal yang dibawanya.

10437501_10202404412732905_486222662303490788_n

Bersama Mama Bety

Cerita ke tiga, saya dapat dari Mama Bidan yang mengawal kondisi kesehatan kami selama kegiatan pelatihan berlangsung. Di salah satu sesi break, saya sempat berbincang dengan beliau tentang aktivitasnya mengurus kesehatan orang-orang di sekitar distrik Piramid, tempat tinggalnya. Dari beliau akhirnya saya dapat cerita tentang perjuangannya melayani kebutuhan kesehatan orang-orang di distrik Piramid ini. Layaknya di daerah-daerah terpencil lainnya, memang biasanya bidan tak hanya mengurus orang-orang yang mau melahirkan saja, tapi juga sebagai dokter umum yang menangani segala macam penyakit. Untuk menjalankan tugasnya, Ibu bidan dibantu oleh orang lokal di tiap desa sebagai tenaga relawan yang sudah ditunjuk dan dilatih oleh dinas kesehatan. Tenaga relawan ini berfungsi untuk mengurus masalah-masalah kesehatan yang ringan-ringan di desanya. Baru setelah tenaga relawan tidak mampu mengatasi, bu bidan lah yang turun untuk menanganinya.

923546_10201931057179312_754916032_n

Bersama Mama Bidan

Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara para relawan kesehatan itu berkomunikasi ketika harus membutuhkan bantuan ibu bidan, padahal di sana sama sekali tidak ada listrik dan sinyal ponsel ? Ternyata, tak ada cara lain selain mereka harus berjalan kaki menuju rumah Ibu bidan. Saya kemudian bertanya pada Mama Bidan perihal letak desa-desa yang ada relawan kesehatannya. Mama bidan kemudian menunjuk ke beberapa arah. Aih, ternyata desa-desa di sini ada di balik-balik gunung di sekitar distrik Piramid. Dan memang tak ada cara lain untuk menuju ke sana selain dengan jalan kaki, lantaran gurung-gunung itu masih berupa hutan-hutan belantara. Berapa lama untuk mendaki gunung sampai ke desa-desa itu ? Menurut Bu bidan, tak kurang dari enam jam. Kurang wow apalagi coba ? Kalau perjalanan terpaksa dilakukan di malam gelap gulita di hutan-hutan itu, waktu perjalanan bisa lebih lama lagi. Jika ada kebutuhan untuk penanganan ibu melahirkan, biasanya relawan kesehatan akan datang untuk menjemput Mama Bidan beberapa hari sebelum hari persalinan tiba, dan Mama Bidan menginap di desa sampai waktu bersalin datang. Saya tak bisa membayangkan bagaimana perjalanan ibu bidan jika kebetulan harus berpapasan dengan hujan. Pasti sungguh sangat merepotkan.

Mendengar ketiga cerita tadi, saya jadi merasa malu sendiri. Dengan segala kemudahan di daerah yang fasilitas hidupnya jauh lebih baik dari yang mereka dapatkan, terkadang saya masih belum bisa mensyukurinya. Bukan hanya kaki saya saja yang tak sekuat Mama Betty dan Mama Bidan, tapi juga ketulusan  dan semangat pengabdian yang saya miliki masih belum ada apa-apanya di banding mereka berdua. Dibandingkan dengan Gustaf, saya pun masih sangat tidak sepadan dalam hal ketangguhan.

Kekuatan Gustaf, Mama Bety , Mama Bidan, dan anak-anak yang berlari di jalanan berbatu — yang saya jumpai sepulang jumatan tadi — tiba-tiba juga membawa ingatan saya pada beberapa klub sepak bola asal Papua semacam Persipura atau Persiwa. Pantas saja mereka memiliki ketangkasan dan kekuatan bermain yang begitu merepotkan rival-rivalnya. Kondisi alam dan tuntutan hidup sudah menempa fisik mereka  sedari dini. Saya sangat sepakat dengan coach Indra Sjafri, pelatih Timnas U-23, yang mengatakan bahwa seharusnya kita tak perlu mengimpor pemain-pemain sepak bola dari luar negeri, karena dari 200 juta jiwa penduduk Indonesia, pasti banyak menyimpan potensi-potensi yang tak kalah hebatnya dengan pemain luar.

Saya jadi berpikiran bahwa di tanah papua harusnya lebih banyak lagi  sekolah-sekolah sepak bola, sekolah atletik, atau sekolah-sekolah olah raga lainnya. Bukankah pendidikan yang baik adalah yang bisa melejitkan potensi lokal yang ada di dalamnya ? Dan saya pikir, kekuatan dan ketangguhan fisik anak-anak Papua adalah potensi luar biasa yang harusnya bisa dilejitkan. Pastinya, sembari terus berusaha melejitkan potensi-potensi fisik tersebut,  juga tak boleh ketinggalan untuk membangun jiwa dan pikiran mereka, infrasutruktur pendidikannya, kesehatannya, dan sebagainya. Duh gusti,  banyak sekali PR besar yang harus dituntaskan republik ini.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *