Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Papua

Dijaga Polisi Saat Pelatihan

Ini adalah penerbangan yang paling pagi dengan durasi paling lama yang pernah saya alami. Bersamaan dengan adzan subuh, saya dan Pak Marjuki — partner tugas saya kali ini —  harus tiba di Bandara Juanda. Dan setelah kurang lebih  delapan jam perjalanan, akhirnya kami mendarat di Bandara Sentani Jayapura. Sejujurnya,  Ini belum cukup melegakan, karena bukan Jayapura tujuan kami. Tapi , karena penerbangan di bandara Sentani hanya ada sampai siang, maka kami harus menginap terlebih dahulu di Jayapura untuk melanjutkan ke penerbangan esok paginya menuju tempat tujuan kami, Wamena.

DSC02053

Transit di Sentani

Sekitar pukul tujuh pagi di keesokan harinya, kami sudah antri di ruang check in bandara Sentani. Antrian lumayan panjang. Sekitar  setengah jam lamanya baru tiba giliran kami untuk check in. Dan tepat ketika kami akan proses check ini, suara ribut-ribut terdegar dari belakang. Dua orang Papua tinggi besar sedang baku hantam. Tak lama, seorang polisi yang kebetulan juga sedang antri check in di belakang saya meninggalkan antriannya dan berusaha untuk melerai perkelahian itu.  Beberapa detik kemudian, polisi yang lain datang. Karena susah dilerai secara baik-baik, akhirnya polisi-polisi itu pun terpaksa menggunakan kekerasan juga. Saya ngilu bukan main melihat dan mendengarkan bunyi gebukan-gebukan dari perkelahian itu. Alamak, saya tak menyangka di bandara bisa terjadi keributan yang cukup mengerikan macam begini.

Belum selesai shock saya melihat gebuk-gebukan di ruang check in tadi, kali ini perkelahian terjadi lagi di ruang tunggu. Tak tanggung-tanggung, salah seorang laki-laki yang berkelahi tersebut  berteriak kencang-kencang sambil membuka baju layaknya akan bertanding di sebuah turnamen bela diri di film-film Van Damme. Polisi yang tadi berhasil membekuk perkelahian di ruang check in, kini datang lagi ke ruang tunggu. Tak lama, terdengar lagi suara gebak-gebuk seperti yang saya saksikan di ruang check in tadi.

Saya tak tahu persis apa persoalan dua perkelahian barusan, karena bentak-bentakannya menggunakan bahasa Papua. Ah, apapun itu, semoga saja dua peristiwa perkelahian tadi bukan sebuah isyarat sambutan Selamat Datang bagi kami, yang seolah-olah ingin berkata pada kami “Inilah Papua, Bung !!!”.

Meski banyak orang beranggapan bahwa tanah Papua adalah langganan konflik dan orang-orangnya terkenal keras, namun saya berusaha menampik dua peristiwa pertengkaran barusan untuk dijadikan legitimasi anggapan umum tersebut. Kemudian, saya berdoa dalam hati agar tidak lagi melihat keributan-keributan semacam ini lagi di satu mnggu ke depan ketika kami bertugas di sini.

***

Dari jayapura ke Wamena hanya membutuhkan waktu terbang sekitar setengah jam menyusuri pegunungan Jaya Wijaya yang tinggi luar biasa itu. Konon, penerbangan dari Jayapura ke Wamena bagai kocokan dadu di meja judi. Tak tentu kepastian terbangnya. Semua bergantung cuaca. Jika cuaca tak bersahabat sedikit saja, maka kabut pun berdatangan. Jelas sangat beresiko jika memaksakan untuk terbang menelusuri tebing-tebing Gunung Jayawijaya yang menjulang itu. Kemungkinan menabrak tebing sangat tinggi kemungkinannya jika udara sedang berkabut. Namun, kali ini dadu keberuntungan sedang berpihak pada kami. Cuaca bersahabat. Saya pun bisa melihat jelas pintu angin yang keren itu. Pintu angin  adalah sebuah nama tebing yang berhadap-hadapan seperti sebuah gapura. Pemandangan-pemandangan lain juga terlihak cantik dari jendela pesawat.

 

Setibanya di bandara Wamena, panitia menyambut kami dan membantu membawakan barang bawaan kami. Namun, saking banyaknya barang bawaan kami, sampai-sampai terpemandangan lewatkan dua kardus besar yang berisi buku-buku yang akan dibagikan ke peserta pelatihan nanti. Dua kardus itu pun kemudian diangkat oleh porter yang tubuhnya tinggi besar dan berkulit gelap. Sehabis mengangkat dua kardus besar tersebut orang tadi meminta sejumlah uang yang cukup banyak menurut kami.

Awalnya kami menolak untuk memberikannya, karena kami merasa tak meminta untuk dibantu. Namun karena kami sudah merasa ngeri melihat baku hantam di bandara Sentani tadi, akhirnya kami mengalah, daripada terjadi baku hantam menimpa kami. Jelas, jika dibandingkan dengan ukuran badan dan kekuatan, kami bisa sangat mudah dihempas seperti kapas. Dalam hati, saya takjub juga dengan kekuatan orang besar tadi. Bayangkan saja, untuk mengangkat satu kardus saja, kami harus butuh tenaga dua orang. Sementara orang besar tadi Cuma seorang diri mengangkat dua buah kardus. Itulah kenapa akhirnya saya merasa semakin yakin telah membuat keputusan untuk mengalah tadi.

***

Sesi pertama pelatihan yang kami isi bertempat di suatu hotel di Wamena. Pesertanya adalah para pengawas sekolah dan anggota NGO yang mengundang kami. Setelah itu, sesi ke dua di adakan di sebuah camp yang terletak di distrik Pyramid, arah menuju kabupaten Lani Jaya. Untuk sampai ke tempat itu, kami naik bis yang sudah disewa oleh panitia. Selain narasumber dan panitia, di bus itu juga berisi para peserta pelatihan di sesi pertama. Orang-orangnya ramah-ramah dan humoris minta ampun. Praktis, perjalanan selama dua jam naik ke distrik pyramid jadi tak membosankan sedikit pun. Ditambah lagi, pemandangan kaki gunung Jayawijaya yang kami susuri masih sangat segar dan alami, membuat pikiran saya semakin segar. Perlahan-lahan, saya sudah mulai menikmati Papua.

Di kanan kiri jalan juga terlihat satu dua rumah adat Papua, Honai. Dari penjelasan orang-orang yang ada di bus bersama saya ini, akhirnya saya tahu bahwa ternyata dalam satu keluarga setidaknya memiliki tiga rumah honai, satu honai untuk laki-laki, satu honai untuk perempuan, dan satu lagi untuk dapur. Umur rumah honai pun biasanya tidak terlalu panjang. Jika sudah terlihat reyot sedikit, atau teralu banyak kutu babi yang menempel, honai bisa dirubuhkan dan kemudian membangun lagi rumah honai yang baru. Durasi untuk membuat rumah honai pun tidak terlalu lama, dan biasanya juga dikerjakan secara bergotong royong.

Di tempat camp pelatihan, kebetulan saya sempat mencicipi rasanya masuk ke rumah Honai yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari camp. Rumah itu adalah milik seorang bidan yang kebetulan juga sebagai tenaga medis selama pelatihan berlangsung. Ya, karena jauh dari mana-mana, panitia menyediakan tenaga medis untuk antisipasi jika ada yang sakit selama pelatihan.

Tak hanya itu, panitia bahkan juga menyiapkan tenaga keamanan dari Polsek setempat untuk mengawal jalannya pelatihan. Tak tanggung-tanggung, yang menjaga kami adalah langsung bapak Kapolesk-nya dengan satu anak buahnya yang selalu siap siaga dengan senapan laras panjangnya.  Biasanya saya hanya tahu acara-acara tertentu yang dijaga ketat oleh aparat, seperi dangdutan, demo mahasiswa, atau kampanye politik. Itupun biasanya tidak dengan membawa senjata api laras panjang. Tapi untuk acara pelatihan guru, pengawalan oleh aparat adalah hal yang luar biasa baru bagi saya.

1609585_10201916579338114_1024271234_n

Bersama Pak Kapolsek (Tengah)

Panitia ternyata tak cukup hanya menyiapkan tenaga keamanan saja untuk melindungi kami, tapi mereka juga sudah sigap dengan segala SOP (standar Operasional Prosedure) keamanan yang disampaikan di sesi pembukaan pelatihan, termasuk juga menyiapkan titik evakuasi jika bahaya mengancam. Di salah satu sesi break, saya sempat berbincang dengan panitia tentang alasan kenapa harus sampai ada sistem keamanan segini lengkapnya hanya untuk sebuah acara pelatihan guru. Apakah sedemikian rawan-nya Wamena ini. Kemudian panitia bercerita tentang kondisi Wamena yang memang sempat bertahun-tahun dilanda konflik.

Distrik Pyramid adalah daerah yang sepanjang jalan-nya berdiri camp-camp (lengkap dengan penginapan, aula, gereja)  yang dulu sebelum banyak konflik biasa digunakan untuk berbagai kegiatan. Namun, setelah konflik bertahun-tahun, camp-camp tersebut menganggur, tak ada yang menggunakan. Dan kebetulan, pelatihan guru kali ini adalah aktivitas pertama kali setelah bertahun-tahun camp-camp tersebut tidak difungsikan lagi. Maka, untuk menjaga agar aktivitas yang pertama kali diadakan dipyramid ini, perlu terjamin keamanannya. Dan kebetulan, pihak Polisi juga sangat senang dan antusias dengan inisiatif menggerakkan lagi camp-camp yang ada di pyramid ini. Itulah sebabnya, sampai-sampai bapak kapolesk yang harus turun tangan supaya memastikan kegiatan ini bisa aman. Jika pelatihan kali ini terbukti aman, harapannya ke depan, tempat-tempat camp-camp lain sepanjang Pyramid ini juga bisa terberdayakan kembali.

Memang sungguh sayang jika camp-camp yang ada di sepanjang Pyramid ini menganggur begitu saja. Bangunan-bangunannya cukup nyaman. Suasananya pun juga sangat segar. Pendeknya, suasana di sini tak kalah dengan suasana villa-villa mahal yang ada di Jawa sana. Di salah satu camp tempat kami melakukan pelatihan ini misalnya, semua sarana sudah ada seperti kamar yang jumlahnya lumayan banyak, aula yang cukup nyaman, sampai ada gereja yang juga jadi satu kompleks dengan tempat pelatihan. Pemandangan di depan dan belakang camp adalah gunung-gunung yang menjulang dan aneka tetumbuhan yang hijaunya menentramkan mata. Jikapun ada kekurangan dari tempat ini, itu adalah tidak adanya listrik dan sinyal. Untuk listrik panitia sudah menyiapkan genset dengan daya yang cukup tinggi. Sementara sinyal, masih bisa diatasi dengan berburu di lapangan camp atau digantung di tiang-tiang aula.

10154496_10201948768542085_1171638401_n

Suasana kekeluargaan di setiap sesi

Intinya, dua hal tersebut tak begitu jadi soal, karena kami semua pun tetap bisa  menikmati setiap kegiatan pelatihan dengan riang gembira. Para pserta tetap senam pagi dengan penuh semangat, makan di sesi break dengan nikmat, dan tentunya, mengikut tiap sesi pelatihan dengan penuh gairah. Setiap simulasi pun dijalani dengan sepenuh hati, tiap penugasan dijalankan dengan totalitas, dan setiap gagasan dikembangkan dengan kreativitas yang terkadang unik dan nyeleneh. Tak jarang juga setiap aktivitas selalu ada kekonyolan dari para peserta yang memancing puluhan tawa. Dari situlah akhirnya suasana hangat pun muncul. Tanpa terasa kekeluargaan pun terjalin.

Sampai di akhir acara dan perjalanan pulang, kami sampai tak pernah berhenti bercerita tentang keseruan pelatihan tersebut. Dan alhamdulillah, kekhawatiran-kekhawatiran terkait keamanan tak terjadi. Semuanya berjalan lancar dan menyenangkan.  Semoga dengan lancarnya kegiatan ini, akan muncul kegiatan-kegiatan lainnya di pyramid, yang itu akan membuktikan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi soal keamanan di Wamena. Agar anak-anak pun juga bisa bertumbuh dengan sempurna. Baik raga maupun jiwanya.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *