Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Buku Sastra Sekitar Kita

Apakah Konflik Agama itu Benar-benar Ada ?

Suatu ketika, pada sebuah obrolan santai di warung kopi bersama beberapa teman yang juga pecinta buku-buku sastra, saya membincangkan tentang siapakah tokoh sastra Indonesia mutakhir yang karyanya paling keren. Dan ternyata, pilihan kami saat itu sama : Yusi Avianto Pareanom dan Mahfud Ikhwan. Kami sepakat bahwa dua orang pengarang itu selalu berhasil menampilkan cerita-cerita dengan tuturan yang  begitu segar dan alur yang sangat mengalir ketika membacanya.

Kemudian, tanpa direncanakan, tiba-tiba arah pembicaraan pun akhirnya menuju pada perihal siapakah di antara Yusi Avianto dan Mahfud Ikhwan yang karyanya lebih keren. Teman-teman saya itu sepakat bahwa Yusi Avianto setingkat lebih unggul dari Mahfud Ikhwan, sedangkan saya lebih memilih Mahfud Ikhwan yang lebih unggul daripada Yusi Avianto. Tentu saja ini hanyalah pembicaraan iseng, karena toh kami bukanlah panitia penyelenggara penghargaan sastra yang merasa berkewajiban untuk memberikan peringkat-peringkat terhadap karya-karya sastra.

Obrolan perihal lebih keren mana antara karya Yusi atau karya Mahfud tersebut, tak lebih  seperti sesi-sesi kuis singkat yang ada di acara talk show televisi dengan memberikan pertanyaan berupa pilihan kepada bintang tamunya. Pemandu acara talk show tersebut biasanya memberikan pertanyaan seperti : Pilih mana, bubur ayam atau nasi uduk ? Mencintai atau dicintai? Bau ketek tau bau mulut ? Karir atau keluarga ? Dan lain sebagainya. Biasanya bintang tamu yang diberi pertanyaan harus menjawabnya dengan cepat tanpa berpikir panjang. Tentu saja itu hanya untuk sekedar gimmick yang akan lebih memeriahkan acara. Begitu pula obrolan kami tentang Mahfud dan Yusi, tak lebih hanya sebuah gimmick acara ngopi kami.

Meskipun hanya sebuah gimmick dalam obrolan, namun setelah kami menentukan pilihan antara Yusi atau Mahfud, teman-teman saya itu juga memberikan alasan tentang pilihannya. Mereka merasa bahwa diksi-diksi yang ditampilkan Yusi Avianto dalam karya-karyanya sangat segar. Tema-tema yang diusung dalam cerita-ceritanya pun tidak biasa. Saya sangat sepakat dengan itu, dan sama sekali tak menyangkalnya. Cerita-cerita Yusi memang sangat memikat. Tapi jika diharuskan memilih antara Yusi atau Mahfud, saya tetap  lebih menyukai karya-karya Mahfud. Hal ini disebabkan karena karya Mahfud jauh lebih dekat dengan kehidupan saya.

Hampir semua cerita-cerita Mahfud Ikhwan berkisah tentang kehidupan orang-orang kampung yang mengambil seting di Jawa Timur. Sebagai orang yang tinggal di salah satu kampung di Jawa Timur, tentu saja apa yang ditampilkan dalam cerita-cerita Mahfud sangat tidak asing bagi saya. Terlebih, seting waktu yang ditampilkan pun tahun 1990-an. Aih, saya jadi serasa diajak bernostalgia ke masa-masa kecil saya dulu.

Nostalgia masa kecil itu saya nikmati benar dalam novel pertama Mahfud berjudul Ulid. Sungguh, semua konflik batin Ulid di novel itu hampir semuanya pernah saya rasakan. Tak terkecuali peristiwa-peristiwa seperti adu kebagusan mainan pisau, acara selamatan kampung, sampai acara sandiwara radio yang sangat disukai oleh Ulid.

Menyimak Ulid yang begitu mencintai sandiwara radio, tiba-tiba saja memori saya langsung dibangkitkan lagi pada cerita drama radio seperti  Tutur Tinular, Dendam Nyi Pelet atau Sahur Sepuh yang dulu sering saya dengarkan via radio mini bermerek National bersama ibuk saya menjelang tidur. Para pengisi suaranya pun juga begitu akrab di telinga saya : Ferry Fadli, Maria Untu, Elly Ermawati, dll. Duh, saya jadi benar-benar sedang berada kembali di jam-jam menjelang tidur di masa kecil saya dulu.

Selain Ulid, di karya-karya Mahfud yang lain, saya juga banyak mendapatkan petualangan seru. Ketika menjamah novel tipisnya berjudul Dawuk, saya tak ingin meletakkan buku itu sebelum benar-benar usai saya baca. Menyimak konflik-konfliknya yang masih mengambil latar di perkampungan di jawa Timur, serasa menononton sebuah pertunjukan yang memilukan dan menyayat-nyayat perasaan. Tak salah jika akhirnya novel itu mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.

Meski Dawuk adalah novel yang paling tipis dari karya-karya Mahfud Ikhwan yang lain, tapi saya kira Dawuk adalah karya Mahfud Ikhwan yang paling bagus. Jika Anda sudah membaca semua karya-karya Mahfud Ikhwan, saya kira pasti Anda akan juga berpikir demikian.

Petualangan seru lain juga saya temukan pada novel Kambing dan Hujan. Novel ini adalah buku Mahfud Ikhwan yang pertama kali saya baca. Saya mengetahui novel ini dari sebuah artikel pengumuman pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta, yang meletakkan novel Kambing dan Hujan di pemenang pertama. Dalam pengumuman itu sedikit dituliskan tentang sinopsis Kambing dan Hujan yang menceritakan tentang kisah percintaan yang rumit karena adanya  perbedaan kultur beragama di dua keluarga yang bersangkutan, yaitu kultur NU dan kultur Muhammadiyah.

14718124_1382480521779273_796633836891930624_n

Bersama Mahfud Ikhwan

Setelah melihat sinopsisnya yang sungguh unik itu, saya jadis semakin penasaran. Maka, begitu novel itu diterbitkan dan beredar luas di toko-toko buku, saya tak berpikir panjang untuk langsung membeli dan membacanya sampai tandas. Meski secara alur, terasa lebih panjang dan tidak sepilu Dawuk, namun peristiwa-peristiwa yang disajikan di novel ini begitu asik. Apalagi gaya berceritanya menggunakan dua sudut pandang, yakni dari sudut Pandang keluarga  tokoh Fauziyah yang penganut NU dan sudut pandang dari keluarga Miftah yang penganut Muhammadiyah.

Dari dua sudut pandang itu, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang bagaimana orang Muhammadiyah memandang NU, dan juga sebaliknya. Tak hanya itu, usai membaca Kambing dan Hujan, tiba-tiba saja saya seakan langsung diajak untuk melakukan refleksi perihal konflik agama.

Dalam Kambing dan Hujan, konflik antara keluarga NU dan Muhammadiyah tiba-tiba saja digambarkan berkembang menjadi konflik yang begitu besar dan melahirkan bentrok antara orang-orang kampung Muhammadiyah dan kampung NU. Lalu, ketika saya telusuri lebih jauh  lagi dari novel itu, ternyata sumber utama permusuhan tersebut tidaklah benar-benar dilandasi perbedaan kultur agama di kedua belah pihak, namun hanyalah masalah pribadi saja.

Konflik antar kampung itu dimulai dari konflik antara keluarga Miftah dan keluarga Fauziyah yang tidak setuju terhadap hubungan asmara mereka. Alasan yang digunakan kelihatannya berhubungan dengan mazhab agama, tapi jika dilihat lebih jauh dari cerita di novel itu, masalah utamanya terdapat pada masa lalu ayah Fauziyah dan Miftah.

Ternyata, dulu ayah Miftah dan Fauziyah adalah sahabat kental yang pernah mencintai seorang gadis yang sama. Seiring berjalannya waktu, Ayah Fauziyah lah yang memenangkan persaingan asmara yang tak disengaja itu.  Itulah yang pada akhirnya di kemudian hari menjadi penghambat hubungan cinta antara Miftah dan Fauziyah, lalu kemudian berkembang menjadi konflik penduduk dua kampung dengan kultur agama yang berbeda.

Jujur saja, setelah membaca seluruh rangkaian cerita dari novel Kambing dan Hujan ini pikiran saya jadi ngelantur. Saya jadi suka menghubung-hubungkan dengan berbagai peristiwa konflik agama yang sering terjadi di berbagai belahan bumi ini. Seperti cerita di Kambing dan Hujan, saya menduga bahwa jangan-jangan yang namanya konflik agama itu tidak pernah benar-benar ada.

Jangan-jangan selama ini agama hanya sebagai “kipas” yang membuat bara api konflik semakin menyala-nyala, seperti konflik yang terjadi antara keluarga Fauziyah dan Miftah yang sebenarnya sumber konflik utamanya adalah hanya sekadar perselisihan pribadi yang berhubungan dengan masa lalu. Setelah “dikipas-kipasi” dengan isu-isu agama, konflik pribadi itu akhirnya  meluas menjadi konflik yang lebih luas dan malah terkesan seperti konflik agama.

k_736_113200_20161020_195549

Diskusi bersama Mahfud Ikhwan di Surabaya

Ketika bertemu dengan Mahfud Ikhwan di sebuah acara diskusi buku di Surabaya, saya pun sempat menanyakan hal itu. Saya ingin meminta klarifikasi kepada Mahfud Ikhwan, apakah Kambing dan Hujan  ingin menyampaikan bahwa sejatinya konflik agama itu tidak benar-benar ada.

Tak disangka, ternyata apa yang saya pikirkan juga diamini oleh Mahfud Ikhwan sendiri. Ia juga sempat berpikir bahwa bisa jadi konflik-konlik agama yang terjadi di dunia ini sebenarnya mungkin hanya masalah politik, ekonomi, bisnis, dll. Namun, setelah dicampur dengan isu-isu agama, akhirnya bentrokan-bentrokan itu jadi seperti konflik agama, padahal sama sekali bukan.

Mas Mahfud Ikhwan pun sempat menyebutkan beberapa contoh-contoh konflik agama yang terjadi di dunia ini. Saya lupa apa saja contoh yang disampikan, namun ia menyebutkan bahwa dibalik konfilk-konflik agama yang terjadi, kemungkinan ada konflik lain yang justru menjadi sumber permasalahan utamanya, dan agama hanya sebagai “kipas” agar bara konflik itu semakin membesar.

Sejak  sesi perbincangan itu, sampai sekarang saya jadi sedikit skpetis jika mendengar tentang isu-isu konflik agama. Jika mendengar berita tentang konflik agama, tiba-tiba saya jadi langsung termotivasi untuk menelusuri penyebab utama dari konflik tersebut. Apakah memang benar-benar itu disebabkan karena agama atau seperti dalam Kambing dan Hujan, isu agama hanya sebagai kipas saja.

Kemudian saya juga menambahkan satu hal lagi terkait faktor kenapa Mahfud Ikhwan pada akhirnya menjadi karya-karya yang menurut saya paling keren dalam beberapa tahun terakhir ini. Bisa jadi selain karena faktor kedekatan saya dengan seting dan peristiwa yang ada dalam karya-karya Mahfud Ikhwan, saya juga mendapati hal-hal seru lain. Dalam karya-karya Mahfud Ikhwan, kita tidak hanya disuguhi alur dan konflik cerita yang begitu seru, namun kita juga bisa dibuat untuk melakukan refleksi setelah membacanya, seperti refleksi tentang konflik agama seperti yang sudah saya dapatkan setelah membaca Kambing dan Hujan.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *