Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Sosok

Dukunnya Menulis

Dalam banyak kesempatan, sambil bercanda saya sering menjuluki Mbak Sinta Yudisiasebagai dukunnya menulis. Hehehe…. Sosok yang satu ini memang seakan memiliki ilmu magic tersendiri untuk terus menghasilkan karya. Bagaimana tidak, beliau adalah salah satu penulis yang produktifnya sungguh kebangetan.

Reputasi kepenulisan beliau sudah tidak diragukan lagi. Waktu pertama kali betemu ibu empat orang anak ini, sekira sepuluh tahun lalu, beliau sudah menulis 40 buku. Dan hingga sekarang, buku yang ditulisnya lebih dari 60 judul, mulai dari buku fiksi, buku anak-anak, buku psikologi populer, dll. Berarti, setidaknya setiap tahun beliau menerbitkan minimal dua buku. Dan beberapa diantaranya best seller di pasaran.

Forum-forum kepenulisan yang melibatkan dirinya pun sudah ratusan jumlahnya, baik yang di dalam maupun yang di luar negeri. Tak ketinggalan, belasan penghargaan kepenulisan yang diraihnya semakin membuat orang yang membaca portofolio-nya jadi ngeri sendiri.Bertempat di rumahnya yang terletak di kawasan Rungkut Surabaya, Mbak Sinta memiliki komunitas yang beliau beri nama Pelita, yang merupakan singkatan dari Pengajian Literasi dan Sastra. Komunitas itu diisi oleh beberapa orang yang tertarik membincangkan hal-hal berbau literasi dan sastra. Kebetulan saya termasuk yang sering ikut di dalamnya.

Pelita bukanlah komunitas yang tertukstur dan tak memiliki program-program kerja yang wah. Komunitas ini malah terlihat seperti hanya kegiatan cangkrukan sambil membicarakan gosip-gosip seputar dunia perbukuan, aktivitas baca tulis, budaya populer, dan tak jarang pula tema obrolan ngalor-ngidul ke berbagai isu-isu lainnya. Namun, karena sudah terkondisikan oleh orang-orang yang memiliki beragam pengalaman hidup yang seru, saya selalu mendapatkan hal baru dari forum tersebut, terutama dari Mbak Sinta sendiri.

Ya, Mbak Sinta memang termasuk orang yang tidak pelit ilmu. Ia akan dengan senang hati memberikan banyak pengetahuan yang dimilikinya kepada siapapun yang membutuhkan. Dan banyak orang selalu senang ketika beliau sudah menyampaikan berbagai hal yang dikuasainya. Saya sendiri selalu antusias ketika menyimak hal-hal baru yang ia sampaikan, terutama yang berkaitan dengan dunia yang dikuasainya, dunia tulis menulis.

Dalam sebuah obrolan santai di Pelita, saya pernah menanyakan tentang rahasianya agar bisa memiliki stamina menulis yang tinggi seperti dirinya. Dari situ akhirnya saya tahu bahwa ternyata rahasia produktivitas Mbak Sinta bersumber dari sisi spiritualnya. Jika sedang mengerjakan sebuah buku, beliau akan lebih mengencangkan ibadahnya.

Mbak Sinta juga menyelipkan doa-doa di tiap sholat tahajudnya agar diperlancar semua aktivitas menulisnya, serta tak lupa memohon agar semua yang ditulisnya membawa kebaikan bagi yang membacanya. Selain itu, Mbak Sinta tak lupa untuk mendoakan orang-orang terdekatnya.

Ya, beliau seolah meyakini bahwa doa akan lebih mudah terkabulkan kalau kita juga mendoakan orang lain. Karena itulah, beliau memiliki satu buah buku tulis yang berisi nama-nama kerabatnya beserta harapan-harapannya. Di sela-sela sholat malamnya, Mbak Sinta akan mendoakan harapan orang-orang yang ada di daftar tersebut agar segera dikabulkan. Semua teman-teman di Pelita masuk dalam daftar itu, tak terkecuali saya.

Saya kira, aktivitas spiritualnya itulah yang menyebabkan Mbak Sinta tidak hanya produktif dalam hal menulis, tapi juga dalam semua aktivitas-aktivitasnya yang lain, seperti mengisi pengajian di berbagai tempat dan juga melanjutkan studinya di jurusan ilmu psikologi di sebuah universitas swasta di Surabaya. Bayangkan saja, dengan aktivitasnya sebagai istri, ibu rumah tangga, ustadzah, dan juga penullis produktif, Mbak Sinta masih saja sempat-sempatnya bisa meraih IPK 4,0 di bangku kuliahnya.

Tahun lalu, Mbak Sinta sudah menuntaskan studi profesi psikologinya dan sudah resmi menyandang gelar sebagai psikolog. Saya kira, Mbak Sinta sangat cocok sekali menyandang profesi psikolog. Sikapnya yang humble dan senang mendengarkan orang lain berbicara, membuat siapa saja yang menyampaikan curahan hati kepadanya terasa nyaman.

Efek lain yang timbul setelah beliau belajar psikologi adalah obrolan-obrolan kami di Pelita jadi sering bernuansa psikologi, lantaran Mbak Sinta sedikit banyak memberikan pandangan dari sudut pandang psikologi pada tiap topik pembicaraan yang dibahas. Karena itulah, saya pun meminta Mbak Sinta untuk memberikan endorsement terhadap buku saya yang pertama, Rockstar Teacher.

Tak hanya itu, saya pun juga meminta Mbak Sinta untuk ikut membedah buku Rockstar Teacher bersama Pak Munif Chatib di acara launching buku saya bulan november tahun lalu. Saya membayangkan bahwa sudut pandang Mbak Sinta sebagai seorang psikolog pasti akan sangat mengasyikkan jika digunakan untuk membedah buku saya. Dan benarlah ternyata, di acara launching itu, paparan Mbak Sinta selama acara berlangsung sangat memberikan pencerahan bagi saya dan juga bagi semua peserta yang hadir di acara itu. Saya sangat senang, tentu saja.

Satu minggu setelah acara launching buku saya, Mbak Sinta mengadakan pelatihan menulis bertajuk Writing for Hiling, yakni pelatihan yang mengoptimalkan kegiatan menulis untuk terapi psikologis. Sebenarnya saya sangat ingin menghadiri acara itu, karena sangat penasaran dengan topiknya. Tapi apa daya, saat itu saya harus ke Lampung untuk road show promo buku saya.

Lewat acara Writing for Healing itu pula Mbak Sinta meluncurkan buku terbarunya, sebuah novel remaja berjudul Francis Fukuoka. Buku itu adalah buku ke empat yang ditulisnya di tahun 2017. Ya ampun, di tahun yang sama, saya sangat kewalahan menuntaskan satu buku, Mbak Sinta sudah menulis empat buku. Benar-benar dukunnya menulis. Hehehe…

Perjalanan liburan dengan teman-teman Sasindo kali ini dilatarbelakangi sebuah ke-tergiur-an akan kraby patty, nama burger yang ada di serial Spongbob Square Pants, yang movie series-nya bareng-bareng kita tonton beberapa hari yang lalu. Adegan rebutan kraby patty di film itu kemudian mengingatkan saya pada burger buto Malang, yang dulu ketika kita lewat di sana belum sempat mampir karena sudah tutup. Maka, sebuah usulan pun tercetuskan, “Hayuk kita tanggal merah minggu depan ke burger buto sambil refreshing ke Malang !” Tawaran pun di amini oleh yang lain dan dilempar wacananya ke grup BBM.

Tujuh orang menanggapi positif. Jumlah yang sangat wajar memang, mengingat jumlah jomblo yang masih bebas berkeliaran di angkatan kami semakin menipis. Di antara jomblowan dan jomblowati tersebut terselip juga Nana, yang sudah satu tahun berkeluarga pun tetap bisa ikut juga bersenang-senang, tentu saja bersama suami tercintanya yang juga sudah lama kami kenal.

IMG-20150603-WA0013

Pada tanggal merah yang sudah ditentukan, pagi-pagi kami bertujuh tancap gas ke Malang dengan menggunakan mobil Xenia carteran. Tepat jam makan siang kami sampai di burger buto. Penuh. Antriannya luar biasa. Beberapa menu sudah habis, padahal baru setengah jam dibuka. Ya, burger buto baru buka sekitar pukul 11.30, dan kami datang ke sana tepat pukul 12.00 dengan hanya tiga menu yang masih tersedia: Burger Buto ijo, Buto keceng, dan Burger Buto Upss Keju. Saya langsung menduga bahwa mungkin ndak sampai maghrib tempat ini sudah tutup, karena kehabisan barang dagangannya.

Burger Buto Ijo (Kanan) Feat. Burger Buto Upss Keju

Burger Buto Ijo (Kanan) Feat. Burger Buto Upss Keju (Kiri)

Kami memesan tiga menu yang tersisa itu. Burger Buto ijo adalah yang paling besar, yang meskipun dimakan empat orang belum tentu habis. Secara rasa tidak ada yang istimewa dari burger ini. Bagian dalem rotinya berwarna hijau –mungkin karena inilah dinamakan buto ijo– yang rasa dan teksturnya jauh lebih mirip dengan kue bolu daripada roti khusus burger. Di dalamnya terdapat isi sayuran dan semacam chicken nugget. Kebetulan saya memilih buto ijo versi spesial yang dilengkapi juga dengan telur mata sapi di dalam tumpukannya. Satu buto ijo itu menampung empat telur mata sapi.

Ketika menyantap buto ijo, kami merasa telah tepat memilih menu spesial ini, karena pada akhirnya, telur mata sapi inilah yang agak sedikit membantu rasa buto ijo ini jadi lebih oke, karena dari roti, sayur, dan nugget tidak terlalu menunjukkan keistimewaan rasa.

Berbeda dengan Burger Buto Ijo, Burger Buto Upsss Keju lebih istimewa dengan ukuran yang lebih kecil, namun tetap terasa jumbo jika disantap satu orang. Rotinya benar-benar roti burger, baik dari segi bentuk dan rasa. Berbeda dengan Buto ijo yang lebih mirip bolu tadi.Topping kejunya dibikin beku sehingga renyah, gurih, dan sedap. Sementara Buto keceng adalah makanan sejenis hot dog yang panjangnya satu meter lebih. Ini juga kedahsyatan rasanya seperti Burger buto Upss keju, atau mungkin juga lebih enak buto keceng beberapa tingkat, karena pada akhirnya kami memberikan label paling enak kepada buto keceng ini di antara ketiga menu yang kami pesan.

Buto Ijo Feat Buto Keceng (Kanan)

Buto Ijo Feat Buto Keceng (Kanan)

Awalnya kami ragu apakah kami mampu menghabiskan semua pesanan kami, karena meskipun dimakan rame-rame, ukuran tiap menu yang kami pesan tidak sederhana. Namun, karena memang sudah jam makan siang, dan kami juga sudah kelaparan akibat kecapekan guyon selama di perjalanan tadi, misi untuk membumi hanguskan semua pesanan pun terselesaikan sudah. Kemudian, kekenyangan adalah konsekuensi yang harus kami terima. Kekenyangan yang menurut kami masih terasa aneh. Apa anehnya ? Hmmm… Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas, saya sendiri merasakan kekenyangan ini sangat beda dengan ketika kekenyangan makan nasi, yang benar-benar penuh dan puas.

Ternyata nasi memang sudah benar-benar menjadi harga mati untuk perut orang Indonesia. Kekenyangan yang diakibatkannya tak pernah bisa tergantikan oleh yang lain. Saya tak sanggup membayangkin seandainya nasi sudah menjadi hal yang sangat langka di Indonesia. Kerinduan orang Indonesia akan kekenyangan yang dahsyat itu pasti akan menimbulkan banyak konflik cukup serius.

***

Setelah membayar, kami lanjut perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Pantai Bale Kambang di Malang Selatan. Ya, sungguh sangat sayang jika mobil carteran ini tidak dimanfaatkan juga ke Malang Selatan, tempat beberapa tempat wisata alam nangkring di sana. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 2 jam perjalanan dari Malang Kota. Ini mengakibatkan waktu bersenang-senang di Pantai tidak akan terlalu lama. Ah, biarlah, satu jam cukup untuk bersenang-senang dengan ombak pantai selatan cabang Bale Kambang.

Sebenarnya ada tempat wisata yang jauh lebih dekat, namun kebanyakan adalah wisata wahana, seperti Secreet Zoo, Selekta, Sengkaling, Museum Angkut, dll. yang untuk saat ini masih belum masuk ke daftar list liburan kami. Ya, Malang memang gudangnya tempat wisata, mulai dari yang buatan sampai alami. Mulai dari Pegunungan sampai Lautan Lepas.

Sebagai tempat wisata yang sudah termahsyur, rasanya saya salut dengan Bale Kambang yang tetap bersih. Airnya masih bening kehijauan hingga kita bisa melihat dasaran pantai dengan masih sangat jelas. Mungkin yang agak sedikit kotor adalah di sudut yang terdapat pura di pulau kecil dekat bibir pantai, pura yang dihubungkan dengan jembatan panjang ke pantai yang pasti sangat keren untuk spot foto. Tempat ini juga biasa dijadikan sebagai spot untuk foto pre wedding. Jadi, jika ingin mendapatkan foto ini tanpa keramaian orang sungguh sangat sulit. Beruntung kami datang agak sore meneang malam, sehingga jembatan dan pura sudah mulai sepi. Tak hanya itu, kami pun juga dapat bonus sunset dengan senja tipis yang sangat manis.

***

Bermain air di pantai tentu berdampak pada kelelahan dan rasa lapar. Maka, aksi penanganan darurat yang paling tepat adalah dengan menuju depot bakso malang. Liburan ke Malang tanpa menyantap Bakso Malang seperti tidur tanpa merem. Kehangatan bakso Malang adalah kenikmatan tak terperi di tengah-tengah dingin udara Malang.

Di antara sekian banyak tempat makan bakso Malang, ada satu yang pasti akan direkomendasikan oleh semua orang di Malang dan para pecinta bakso Malang : Bakso President. Di antara kami bertujuh belum ada yang pernah ke Bakso President, jadi tak sulit bagi kami mengambil mufakat untuk makan malam di Bakso President. Namun, ada satu tempat juga yang harus dikunjungi sebelum ke Bakso President : Es Krim Eon, yang kebetulan ketika pergi dari burger buto menuju Bale Kambang tadi sempat kita lewati. Es Krim Eon sering masuk ke liputan acara-acara kuliner di TV. So, sangat mafhum jika kami penasaran ingin mampir dan menikmati suguhan menu eskrimnya.

10422173_1451271105188587_4512272211379412868_n

Pesanan kami…. Mulai dari Eon Spesial sampai Banana Split

11351195_1451273918521639_5496631379007538579_n

Pose dulu sebelum “menyikat” Eon

Kesimpulan kami setelah mampir dan mencicipi Es Krim Eon cuma satu : Es Krim Eon adalah Zangrandy-nya Malang. Mulai dari dekorasi tempat sampai rasa es krim tak beda jauh dengan depot es krim Zangrandy di Jl. Pemuda Surabaya. Harganya pun juga sebelas dua belas dengan Zangrandy. Satu es krim sekitar 40ribu sampai 50 ribu rupiah. Yang termurah 25 ribu rupiah. Harga yang menurut kami bukan harga yang sederhana bagi kami yang bukan maniak es krim ini. Apalagi porsi yang disuguhkan juga bisa dibilang mini bagi kami yang hobi makan es krim di kondangan dengan porsi yang besar, karena bebas ngambil sendiri, dan juga gratis, tentunya.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00, kami keluar dari Es Krim Eon menuju Bakso President, yang katanya Pak Penjaga Parkir Es Krim Oen yang kami tanyai tadi tak jauh dari Es Krim Eon. Kami buru-buru, karena menurut informasi dari Pak Penjaga parkir juga, Bakso President tutup jam 21.30.

Letak Bakso President sangat tidak biasa. Siapa yang sangka jika ternyata depot bakso yang sangat termahsyur ini berdiri pas di pinggir rel kereta api. Mungkin jika ada penumpang kereta api yang iseng membuang sampah lewat jendela, bisa masuk ke dalam depot, karena saking mepetnya depot dengan rel kereta api.

Sambil menunggu pesanan datang, saya melihat-lihat dinding depot yang memajang foto orang-orang terkenal yang pernah berkunjung ke situ. Dari sekian banyak foto itu, ternyata ada gambar Pak Jusuf kalla. Kemudian saya penasaran, apakah ada foto SBY, Megawati, Habibie, atau Jokowi. Ternyata setelah saya telusuri, nihil. Awalnya saya berpikir, mungkin sang empunya depot memberikan nama Bakso President, karena pernah ada salah satu president di negara ini yang pernah mampir di tempat ini. Ternyata, tebakan saya itu tidak akurat. Dari sekian banyak orang terkenal di negeri ini, paling banter cuma wakil presiden yang pernah mampir ke sini. Hehehe….

Soal tebakan asal-usul nama mungkin saya tidak akurat, namun soal tebakan rasa, jawabannya sungguh pas. Kemahsyuran bakso ini memang sangat sesuai dengan rasanya. Kenyal baksonya sungguh pas. Begitu pula dengan ornamen-ornamen lain seperti gorengan, bakso goreng, tahu dll. Soal kuah pun juga hebring. Sedap bukan main. Saya sampai nambah lagi seporsi. Selain karena tergoda dengan rasa, tentu saja karena lapar yang masih belum purna.

11392790_1451283468520684_263562132886853615_n

Bakso President dengan Ornamen Komplit

Luwekoh

Luwekoh

Namun karena kami datang di saat-saat injury time, kami tak dapat berlama-lama. Memang makan di tempat yang sudah mau tutup itu memang kurang bisa sempurna. Gerak-gerik para pegawai yang membereskan setiap sudut depot seakan sebuah sinyal-sinyal pengusiran secara harus. Yang itu berarti, kami harus segera menyelesaikan makan, membayar dan pulang. Hehehe….

Dan benarlah, setelah kami tuntas berjibaku menggasak bakso dan kroni-kroninya itu, kami langsung meninggalkan depot. Tentu dengan membayar terlebih dahulu.

Bakso President menutup perjalanan refreshing dalam rangka memanfaatkan tanggal merah kali ini. Selanjutnya, kami akan menyusun jadwal-jadwal liburan berikutnya. Sembari itu, kami masih akan tetap konsisten mengisi tiap weekend dengan cangkrukan atau nonton film bareng via laptop dan layar infokus.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *