Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Papua

Sekolah (Sangat) Alam

“Belum ke Papua kalau belum ke Wamena”, itulah kalimat yang selalu saya dengar dari orang-orang yang kami jumpai ketika pertama kali berkunjung ke daratan Wamena. Kalimat tersebut seakan menjadi sebuah slogan tak resmi yang beredar di tanah Papua. Saya katakan tak resmi, karena memang tak saya jumpai satu pun di papan selamat datang bandara atau di baliho-baliho di jalan-jalan Wamena yang tertulis kalimat tersebut. Di samping itu, orang-orang yang mengatakan kalimat itu juga tidak menyertakan maksud dari slogan tersebut. Tak saya temukan penjelasan tentang apa yang membuat Wamena menjadi daerah yang begitu “Papua Banget”.

Saya terpaksa menerka-nerka sendiri maksud dari slogan tersebut. Berdasarkan hasil terkaan saya, barangkali slogan tersebut muncul karena faktor kebudayaan Papua yang ada di Wamena masih begitu kental. Di Wamena dapat kita jumpai dengan mudah rumah-rumah honai, orang-orang yang masih pakai koteka, ataupun tradisi-tradisi lama lainnya yang masih tumbuh subur. Setiap setahun sekali juga ada event besar yang cukup terkenal bernama Festival Lembah Baliem, yang menampilkan berbagai budaya papua.

Mungkin salah satu faktor  yang menyebabkan budaya-budaya tersebut masih terus tumbuh subur adalah karena prosentase orang asli Wamena yang masih jauh lebih banyak dibandingkan pendatang. Sangat berbeda dengan daerah Papua lain yang pernah saya singgahi, seperti Fak-fak, Sorong, ataupun Jayapura, yang jumlah pendatangnya mulai seimbang dengan penduduk aslinya.

Berkunjung ke Wamena untuk yang ke dua kalinya jelas merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Selain bisa kembali menikmati berbagai keunikan-keunikan yang sangat khas dari daerah ini, saya jadi sangat bangga, karena berarti sudah dianggap sudah ke papua banget, lantaran sudah dua kali berkunjung ke Wamena. Hehehe… Namun, yang jauh lebih membahagiakan lagi adalah berkesempatan lagi bertemu dengan guru-guru Wamena, yang di kunjungan awal saya ke sini semangat dan totalitasnya selalu mampu membuat saya kangen untuk berjumpa mereka kembali. Ya, kunjungan ke dua kali ini masih sama seperti yang pertama : dalam rangka memenuhi tugas untuk mengisi acara training guru.

sedikit ada perbedaan dengan kunjungan pertama, di kunjungan yang ke dua ini, selama seminggu saya dan tim akan mengisi dua acara training guru, satu untuk sesi follow up guru-guru  Wamena dan satu lagi training awal untuk guru-guru dari Lanny jaya. Di sela-sela kedua acara tersebut masih ada waktu satu hari yang free agenda. Di hari itu, kebetulan panitia juga sedang ada kegiatan lain di Lanny Jaya. Mereka menawarkan apakah saya mau ikut untuk sekedar refreshing, daripada hanya berdiam diri tak jelas di dalam hotel. Saya jelas menyambut baik tawaran itu.

***

Karena harus pagi-pagi benar sampai di Lanny Jaya, sekitar jam 3 pagi, saya dan panitia sudah meluncur dengan naik mobil strada,  jenis mobil yang umumnya ada di sini karena yang terhitung kuat untuk melintasi jalanan pegunungan Jaya Wijaya. Saya terpaksa harus melakukan sholat subuh di dalam mobil. Selain saya dan panitia ternyata ada beberapa penagawas sekolah Wamena yang sudah tak asing lagi bagi saya. Mereka juga peserta pelatihan pertama dulu. Ternyata, agenda ke Lanny jaya kali ini adalah dalam rangka kegiatan uji kompetensi guru. Kami akan mengunjungi beberapa sekolah untuk bertemu dengan guru-guru di sana.

Strada yang kami naiki tiba-tiba langsung penuh. Beberapa orang duduk di dalam mobil, namun lebih banyak yang duduk di bak yang ada di bagian belakang mobil. Karena merasa tak kuat dengan dinginnya udara pegunungan Jayawijya, saya meminta ijin untuk diperkenankan duduk di dalam saja. Setelah beberapa lama mata saya hanya dihadapkan pemandangan jalanan yang gelap, akhirnya matahari muncul juga ke permukaan. Satu persatu keindahan Papua terlihat. Membuat pikiran jadi benar-benar fresh.

Tapi itu tak bertahan lama. Sesaat kemudian, mobil kami dihadang oleh sekerumunan orang. Dari gelagatnya yang sempoyongan, mereka nampaknya sedang mabuk. Setelah berhasil memberhentikan mobil kami, mereka kemudian meminta sejumlah uang dan melontarkan sejumlah ancaman kepada kami jika tidak mau mengabulkan permintaannya. Memang di beberapa sudut-sudut jalan Wamena dan sekitarnya banyak  diisi orang mabuk di malam harinya. Mereka biasa mabuk sampai pagi hari. Jangan pernah coba-coba lewat di kawasan yang banyak orang mabuknya, karena mereka bisa melakukan hal nekad apapun ketika sedang mabuk.

Awalnya, alasan kami bernagkat jam 3 pagi adalah selain untuk mengejar waktu, juga  agar ketika matahari terbit  kami sudah bisa sampai di tempat-tempat yang biasa dibuat mabuk-mabukan, karena biasanya jika hari sudah terang, orang-orang mabuk itu sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Ternyata prediksi kami meleset. Meski hari sudah terang benderang, masih juga kita berpapasan dengan para pemabuk itu. Akhirnya kami terpaksa harus mengabulkan permintaan mereka, daripada ancaman akan memberondong mobil kami dengan batu-batu besar benar-benar mereka lakukan . Alhamdulillah, setelah diberi uang, mereka mau untuk tak mengganggu kami lagi.

Kami pun melanjutkan perjalanan dengan perasaan lega. Semakin mobil naik ke arah tengah pegunungan Jayawijaya, kabut-kabut semakin terbuka dan mengantarkan kita pada pemandangan yang luar biasa cantiknya. Terlihat gerombolan awan sedang berarak di sekitar kami. Tak salah jika ada orang dari Lanny Jaya yang menjawab “Rumah saya ada di balik awan sana”, ketika ditanya di mana rumahnya, karena memang rumah mereka di kelilingi awan. Nampaknya, istilah “negeri di atas  awan” yang biasa dibuat judul cerita-cerita dongeng itu  bukan lagi bermakna konotasi jika kita berada di sini.

Sekitar satu jam lepas dari sekerumunan orang mabuk tadi, kami dihadapkan dengan permasalahan lain. Ada seonggok potongan batang pohon besar yang melintang di hadapan kami. Dua orang dari kami mencoba untuk turun mengangkat batang pohon itu. Beberapa detik kemudian muncul seseorang berperawakan tinggi besar menghampiri kami. Di tangannya tergenggem sebilah parang yang cukup panjang. Apakah dia pemabuk juga ? Jika memang demikian, maka urusan pasti akan jauh lebih rumit.

Meskipun hanya seorang diri, tapi pemabuk yang memegang parang panjang nan mengerikan itu jelas jauh lebih berbahaya di bandingkan dengan sekerumunan orang mabuk dengan tangan kosong yang kita temui tadi. Beberapa orang pengawas sekolah ikutan turun juga untuk menghadapai lelaki berparang tersebut. Saya memilih diam di dalam mobil, karena selain ngeri membayangkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan, memutuskan untuk turun juga pasti tidak akan membantu apa-apa. Saya yakin bapak-bapak pengawas yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di sini jauh lebih memahami bagaimana cara menghadapi hal-hal seperti ini.

Dari kaca depan mobil saya saksikan mereka tengah bercakap-cakap dengan bahasa Papua. Setelah itu mereka bersalaman. Kami diijinkan mengangkat batang pohon besar yang menghalangi jalan tadi, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Bapak pengawas yang berbincang dengan lelaki berparang kemudian bercerita kepada kami bahwa lelaki berparang tadi memang sengaja meletakkan batang pohon besar untk menghalangi jalan. Ia ingin menunjukkan bentuk unjuk rasa kepada mobil-mobil proyek yang telah mengambil lahan mereka tanpa membayar ganti rugi. Memang selain mobil yang kami tumpangi ini, sedari tadi juga ada satu dua mobil proyek yang berpapasan dengan kami.

Bapak pengawas tadi kemudian menjelaskan bahwa kami ini hanyalah rombongan guru-guru yang akan menjalankan tugas di Lanny jaya. Tak ada hubungannya dengan urusan proyek. Kemudian beliau menjelaskan kepada kami tentang pertikaian orang berparang tersebut dengan mobil-mobil poyek di sini. Saya tak begitu menyimaknya dengan baik, karena sedang sibuk berlega diri dan bersyukur karena hal-hal buruk yang saya bayangkan tidak terjadi.

Lagi-lagi kelegaan yang saya rasakan ternyata tak berlangsung lama. Setelah jalan beberapa kilo meninggalkan lelaki berparang tadi, kami dihadapkan dengan jalanan yang rusak karena longsor akibat hujan semalaman tadi. Terpaksa kami harus berjalan teramat pelan, dan sesekali mendorong jika ban mobil nyangkut di jalanan rusak tadi. Dalam hati saya juga berdoa semoga tidak akan ada longsor susulan selama perjalanan kami.

***

Setelah empat jam perjalanan, akhirnya baru terasa perasaan lega yang sebenarnya. Sekitar pukul setengah delapan pagi kami tiba di salah satu sekolah tujuan kami di Distrik Makki. beberapa anak-anak berlarian menghampiri kami. Dua orang bapak pengawas turun dari mobil bersama beberapa orang panitia. Mereka akan menjalankan tugasnya untuk melakukan uji kompetensi guru di sekolah ini. Sementara itu, rombongan yang lain melanjutkan perjalanan lagi menuju salah satu sekolah di Indawa.

Kurang lebih setengah jam perjalanan dari Makki ke Indawa. Sesampainya di sana kami disambut oleh kepala sekolah dan guru-guru dari program SM3T yang bertugas di sana. Di halaman sekolah beberapa siswa sedang bermain sepak bola. Setelah berbincang sebentar dengan bapak ibu guru yang ada di sana, saya bergabung dengan anak-anak itu. Tak disangka keahlian mereka bermain si kulit bundar luar biasa jago.

Lima menit kemudian, seorang guru sedang mengecek sound musik dar tape besar. Sumber aliran listriknya mengambil dari sebuah genset sekolah. setelah musik sudah jernih benar terdengar, ia memanggil anak-anak untuk berkumpul. Nampaknya beliau adalah guru olahraga yang akan mengajak anak-anak untuk melakukan senam pagi. Dalam hitungan detik, anak-anak yang tanpa bersepatu itu pun berkumpul.

Setelah melakukan aba-aba untuk merapikan barisan, bapak guru olahraga tadi menunjuk satu orang anak sebagai pemimpin senam. Sekilas ada yang berbeda dengan anak pemimpin senam ini. Dikakinya terpasang sepatu boot merah. Meski nampaknya sepatu yang ia kenakan lebih cocok untuk dipakai kerja bangunan daripada untuk olah raga, tapi di tengah-tengah teman-temannya yang tidak bertelanjang kaki, sepatu itu jelas  jauh lebih mendingan untuk melindungi kaki dari panas tanah yang diinjak. Tapi sebenarnya penunjukan ia sebagai pemimpin senam, bukan karena ia satu-satunya yang memakai sepatu, namun memang karena kebetulan dia lah yang mendapat giliran menjadi pemimpin senam kali ini. Jadi tidak ada penyerahan kekuasaan karena bersepatu atau tidak. Hehehe….

10450435_10202390869794340_5934478996563882427_n

Adek bersepatu boot merah memimpin senam

Senam pagi usai. Anak-anak kembali berhamburan di halaman sekolah. Ada yang melanjutkan bermain sepak bola, ada juga yang sekedar bermain pasir. Anak-anak yang bermain sepak bola tak berlangsung lama menikmati permainannya, karena di tengah-tengah kami bermain ada salah satu anak yang pingsan karena dadanya terkena bola sangat keras dan mengakibatkan  penyakit epilepsi-nya kambuh. Guru-guru pun langsung mengangkatnya ke dalam kantor untuk ditangani. Di samping itu ada lagi seorang anak yang menangis karena jempol kakinya yang sedang terluka menjadi semakin sakit lantaran terkena pantulan bola yang begitu keras. Saya menghampirinya, lalu mencoba untuk membuka kantong kresek yang membalut jempol kakinya. Mendadak Rasa ngilu muncul dalam diri saya, karena melihat luka yang sudah semakin parah dan mulai menguning. Semakin merinding lagi ketika tahu  bahwa luka itu hanya ditangani dengan dibungkus kantong kresek.

10441076_10202386770371857_7102445969449346383_n

Seorang siswa yang luka kakinya dibungkus kresek

Saya tanya kenapa luka seperti ini tak dibawa ke dokter saja atau minimal dibungkus dengan perban. Dan dia mengaku dokter di sini tempatnya jauh. Perban dan plester pun juga tak tersedia. Penanganan dengan cara membungkus kantong kresek adalah pilihan terbaik daripada membiarkan lukanya semakin parah. Di dalam kantong kresek tersebut dibubuhi ramuan dari daun-daunan tertentu yang menurut orang sini bisa menyembuhkan luka. Luka menguning itu juga salah satunya karena efek ramuan daun-daunan tadi.

Kebetulan juga teman-teman panitia tidak ada kotak P3K di mobil, jadi kami meminta anak itu untuk duduk istirahat saja dan melarangnya agar tak dibungkus lagi dengan kantong plastik supaya tidak semakin infeksi.  Permainan sepak bola terpaksa kami ganti dengan permainan ketangkasan otak atau sekedar bernyanyi sambil bertepuk tangan ramai-ramai. Di sudut lain saya melihat beberapa anak sedang bermain pasir membuat bangunan-bangunan dari pasir. Mereka jadi terlihat seperti sedang liburan di pantai. Aneh juga, di gunung seperti ini bisa ada pasir putih yang bisa dibuat main membentuk bangunan layaknya kalau kita sedang berlibur di pantai.

10450868_10202392428873316_2218831413069960600_n

***

Tak sampai siang, pekerjaan bapak-bapak di SD Indawa ini pun selesai. Kami kembali ke Makki untuk menjemput bapak-bapak pengawas lain yang sedang melakukan pekerjaannya di sana. Di SD Makki, kami bermain lagi dengan anak-anak di sana sambil menunggu bapak-bapak pengawas yang ternyata masih belum selesai melakukan uji kompetensi guru-guru Makki. Kami bemain game-game ketangkasan yang biasa kami lakukan di pelatihan-pelatihan. Suasana di lapangan sekolah jadi semakin riang gembira. Tak lupa juga satu dua reward berupa jajanan kecil-kecilan kami berikan kepada pemenang game. Bagi yang belum menang, reward pun tetap diberikan dengan syarat harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami berikan terlebih dahulu.

10376852_10202380145966251_9035709814488664630_n

Hormat bendera dulu sebelum lanjut perjalanan

Permainan selesai tepat ketika bapak-bapak pengawas merampungkan pekerjaannya. Kami pun langsung buru-buru pulang karena takut nanti cuaca akan hujan dan terkena longsor yang lebih para di jalan nanti. Namun sebelum itu, pertemuan di sekolah Makki hari ini ditutup dengan bernyanyi bersama dan berfoto di bawah tiang bendera sekolah. sambil menghormat juga tentunya.

***

Dalam perjalanan pulang, kami melewati sekolah yang dipakai syuting film Di Timur Matahari. Bangunannya tak jauh beda dengan sekolah-sekolah yang kami kunjungi di Makki dan Indawa. Masih berupa bangunan-bangunan kayu yang sudah mulai lusuh. Begitu juga dengan sekolah-sekolah yanag kebetulan kami lewati sepanjang jalan perjalanan pulang. Sebagian malah terlihat sudah tidak layak pakai lagi.

Kiranya ada benarnya juga materi stand up comedy yang pernah dibawakan oleh ari Kriting, seorang comic dari Indonesia Timur, yang mempermasalahkan kenapa orang-orang kota sekarang yang sudah bisa membuat gedung sekolah bagus, malah suka dengan sekolah alam. Sementara sekolah-sekolah di Indonesia Timur  yang sekolahnya sangat alam, ingin sekolah di gedung.

Kurang lebih begini isi materi stand up comedy Ari Keriting :

Terus konsep yang saya bikin sakit hati adalah sekolah alam. Kenapa orang kaya ini selalu bikin susah diri? Sekolah alam !!! Mereka mau sekolahnya dimana coba ? Sekolahnya dibentuk seperti hutan-hutan. Yang kalian tidak pahami adalah kalian sudah beruntung dapat gedung, kenapa kalian mau sekolah di hutan ?

Karena di Indonesia di timur sana banyak yang betul-betul ingin sekolah di gedung, tapi mereka hanya dapat hutan. Kalau memang kalian mau sekolah di hutan, ya sudah kita tukaran saja. Kamu ke timur sekolah di hutan saja sama kasuari. Kita di gedung.”

Memang jika diperhatikan, sekolah-sekolah alam yang ada di kota-kota besar sana belum ada apa-apanya jika dibandingkan sekolah-sekolah “sangat alam” yang ada di sini. Jika jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di dalam sekolah alam sana harus menanam dan mendesain lahannya terlebih dahulu untuk tempat belajar, di sekolah “sangat alam” yang ada di pegunungan tengah jayawijaya ini sudah tumbuh dengan alami. Dengan jumlah yang jauh lebih banyak pula. Jika sekolah alam yang ada di kota-kota besar sana masih harus mengeluarkan biaya besar untuk membuat ground-ground untuk  out bond. Di sini, semuanya lengkap. Mau minta ground yang curam, berkelok-kelok, zig-zag, sampai yang sangat menantang sekalipun, semua tinggal pilih.

Dengan melihat sumber daya yang sudah tersedia tersebut, sebenarnya tinggal dibutuhkan polesan kepada aktor-aktor pendidikan di sini untuk menjadikan sekolah-sekolah ini menjadi sekolah-sekolah yang kualitasnya tak kalah dengan sekolah-sekolah alam yang ada di kota-kota besar sana.

Dalam perjalanan pulang kembali ke Wamena, Saya katakan kepada beliau-beliau perihal materi stand up comedy ari keriting di atas. Mereka tertawa. Kemudian saya katakan  kepada mereka bahwa mereka tak perlu minder dengan kondisi yang ada di sini.  “Jadi Bapak-bapak semua  jangan pernah minder dengan orang-orang di kota sana. Karena kalau sekolah kita yang ada di sini dibawa ke kota, akan jadi sekolah yang mahal.” Kami tertawa lagi  sembil membenarkan apa yang ada di materi stand up comedy  Ari Keriting di atas.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *