Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

ACEH

Assalamualaikum Bumi Rencong

Saya selalu penasaran tentang bagaimana semesta bekerja. Tentang bagaimana di satu saat  ia menghambat segala apa yang sedang kita kerjakan, namun di saat yang lain justru sangat mendukung segala yang kita impikan tanpa pernah kita duga sebelumnya.

Di pertengahan tahun ini, tiba-tiba saja semesta membawa kabar yang sungguh membahagiakan saya. Sebuah kabar yang pada akhirnya membawa saya pada salah satu impian yang sudah lama ingin saya wujudkan : “Berkunjung ke bagian ujung barat Indonesia, Aceh.”

Ya, semenjak menginjakkan kaki di bagian ujung timur Indonesia, Papua, saya selalu memimpikan ingin berkunjung juga ke ujung bagian barat Indonesia. Rasanya, perjalanan menjelajahi Indonesia akan terasa lengkap jika sudah menapakkan kaki di ujung timur dan ujung barat bumi khatulistiwa ini.

Sebenarnya, tanah Sumatera bukanlah tanah yang asing bagi saya. Saya sempat tinggal selama satu tahun di bagian ekor Pulau Sumatera, Lampung. Beberapa daerah di Pulau Sumatera -mulai dari Palembang, Jambi, sampai tanah Minangkabau- pun sempat saya jelajahi. Namun, tetap saja terasa ada yang kurang jika belum sampai ke bagian ujung kepala pulau Sumatera, negeri serambi mekkah.

Beberapa rencana untuk terbang dan mendarat di Aceh sering saya susun. Kebetulan saya mengenal beberapa alumni Pengajar Muda Indonesia mengajar yang berasal dari bumi rencong tersebut. Tapi, karena satu dan lain hal, rencana-rencana tersebut seringkali hanyalah tinggal rencana. Maka, ketika kabar tentang rencana akan berangkat ke Aceh, saya girang bukan kepalang.

Kabar bahagia itu jatuh di meja kerja kantor saya, Next Edu Indonesia. Next Edu akan ada MoU dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Barat Daya untuk program pendampingan peningkatan kualitas guru di sana. Dan kebetulan saya ditunjuk oleh kantor untuk terlibat di dalamnya. Alamak, permainan semesta memang sungguh asik. Dulu saya yang hanya berharap minimal  pernah sekali berkunjung ke Aceh –meskipun itu cuma sehari dua hari saja — kini semesta membawa saya berhari-hari ke Aceh. Dan itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Program pendampingan antara Next Edu dan Dinas Pendidikan Aceh Barat Daya akan berlangsung selama satu tahun. Itu berarti dalam satu tahun ke depan, tiap sebulan sekali saya akan berangkat ke Aceh. Dan sekali berkunjung, setidaknya saya akan stay selama satu minggu di sana. Duh, saya serasa mendapat combo berkali-kali lipat.

***

Untuk orang-orang yang masih sangat awam tentang Aceh, pasti daerah yang diketahui dari negeri ujung barat nusantara tersebut hanyalah Banda Aceh. Maka tak heran jika akhirnya pihak Next Edu langsung membelikan tiket dari Surabaya ke Banda Aceh. Padahal dari Banda Aceh  menuju Aceh Barat Daya memakan wkatu 8-9 jam via jalan darat. Namun, tiket sudah terlanjur dibeli. Mau tidak mau kami harus berangkat juga ke Banda Aceh.

Serdadu Next Edu yang berangkat ke Aceh Barat Daya kali ini adalah saya, Pak Munif Chatib, dan Pak Mardjuki. Dengan memakai kostum yang sama, kami bersuka cita di dalam pesawat. Barulah setelah perjalanan berjam-jam yang melelahkan akhirnya kami mau tidak mau harus tepar juga. Sesampainya di Bandara Banda Aceh malam sudah teramat larut. Beberapa orang dari Dinas Pendidikan di Aceh Barat Daya langsung memboyong kami dengan mobil Innova menelusuri liuk-liuk jalan Banda Aceh – Aceh Barat Daya. Begitu melewati Masjid Raya Baiturrahman, saya memohon untuk dibolehkan mampir semenit dua menit ke masjid legendaris itu hanya untuk sekadar berfoto sebagai pengisi “absensi” bahwa saya sudah hadir di negeri darussalam ini.

Meski belum benar-benar puas karena jika foto di Baiturrahman saat malam hari hasilnya kurang keren, demi alasan efisiensi waktu, kami harus melanjutkan perjalanan lagi. Samar-samar terlihat sebelah kiri kami adalah tebing-tebing pegunungan yang sangat tinggi. Sementara sebelah kanan adalah ilalang-ilalang panjang yang lebat. Mungkin dibaliknya jurang-jurang terjal atau lembah-lembah yang terhampar hijau. Ah, pikiran kami terlalu lelah untuk menduga-duganya. Perjalanan yang teramat panjang dan lama itu berhasil meruntuhkan stamina tubuh kami seketika.

“Ini kalau pagi pemandangan di sebelah kiri ini bagus banget, Pak. Ada pantai-pantai yang airnya jernih banget. Di tengah-tengahnya juga banyak pulau-pulau kecil yang cantik.” Kata staff dinas pendidikan yang sedang memegang kemudi mobil yang mengangkut kami. Saya adalah seorang pecinta perjalanan darat. Salah satu alasannya adalah perjalanan darat via mobil atau bis akan membawa kita pada pemandangan yang bervariasi. Karena itulah, saya sangat menggemari perjalanan saat matahari masih terang benderang.

Kalau perjalanan dalam kondisi malam gelap gulita begini, hanya ada satu pilihan untuk menghadapinya : tidur. Padahal saya selalu beranggapan bahwa tujuan bukanlah satu-satunya hal yang harus diburu dalam sebuah perjalanan. Justru dalam proses perjalanan itu sendiri ada banyak hal lain yang bisa kita nikmati. Ah, toh saya nanti bakal sering-sering ke Aceh. Suatu saat saya pasti akan lewat jalanan ini lagi di saat matahari masih benderang. Di dalam mobil itu hanya satu yang saya sibukkan : mencari posisi terbaik untuk bisa ngorok dengan maksimal. Esok pagi, agenda kerja yang padat sudah menanti.

***

Gedung pertemuan untuk acara kali ini hanya berjarak 5 menit dari guest house kami. Dari perjalanan guest house ke tempat acara saya melihat wajah Aceh di pagi hari. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan pegunungan dan swah-sawah yang menghijau. Sungguh segar di mata. Sungguh segar di pikiran. Sungguh efektif merefresh lagi penat yang terlanjur menajam akibat perjalanan panjang kemarin, meskipun setelahnya ketenangan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba saja drama lampu mati menghampiri.

Ruangan ber-Ac tiba-tiba saja menjadi pengap. Bulir-bulir keringat mulai jatuh di tubuh seratusan orang yang hadir di situ. Beberapa orang, yang sepertinya adalah panitia, berinisiatif membuka semua jendela. Hawa segar lamat-lamat masuk ke dalam ruangan. Sekitar satu jam panitia sibuk ke sana ke mari mencari solusi, akhirnya listrik kembali menyala. Panitia berhasil mengusahakan sebuah genset yang telah dihidupkan di luar ruangan. Lampu-lampu menyala kembali. Sound system dan proyektor bisa difungsikan. Hanya saja AC tetap tak bisa menjalankan tugasnya karena genset tidak akan kuat menopang daya listrik untuknya. Setidaknya, acara bisa langsung dimulai, meski dengan sedikit berkipas-kipas. Toh, hawa panas sudah sedikit berkurang lantaran semua jendela sudah dibuka tadi.

Dimulailah acara. Satu per-satu jajaran dinas dan kabupaten memberikan sambutan dan arahan. Setelah semua sambutan berakhir, Pak Munif membuka sesi seminar dengan energik. Semua mata di ruangan penuh antusias memperhatikan setiap materi yang disampaikan oleh Pak Munif. Meski sempat ada sedikit drama, ternyata tak mengurangi spirit acara pagi itu. Dan yang terpenting, penghujung acara ditutup dengan adegan yang sangat epik. Apalagi kalau bukan penandatanganan MoU antara Next Edu dan Dinas Pendidikan Aceh Barat Daya. Dengan ditandatanganinya  MoU tersebut, saya semakin merasakan pintu Aceh  terbuka lebar. Lalu mempersilakan kami masuk dengan begitu ramahnya.

Assalamualaikum Bumi Rencong. Semoga satu tahun ke depan menjadi waktu-waktu yang mengasikkan. ^__^

1 COMMENTS

  1. cerita yg keren, selamat bertandang kembali ke Bumi Negeri “Si Gupai” Aeh Barat Daya. Semoga betah dan dapat memberikan paradigma baru bagi dunia pendidikan di Abdya. Dan juga dapat memahami sebagian karakter masyarakat Aceh

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *