Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Sosok

Seniman Tingkat Tinggi

22365177_1616676091720387_2942033818602134948_n

Pertemuan pertama saya dengan Pak Munif  Chatib terjadi sekira tujuh tahun lalu di forum Pelatihan Intensif Pengajar Muda, Indonesia Mengajar. Dalam pelatihan selama dua bulan itu, Pak Munif adalah salah satu trainer favorit kami, para Pengajar Muda. Lewat sesi satu hari penuh, beliau menyampaikan Konsep yang diusung dalam buku yang beliau tulis,  Sekolahnya Manusia. Konsep itu benar-benar banyak mengubah paradigma kami tentang bagaimana seharusnya sekolah bekerja dan bagaimana seharusnya guru menjalankan profesinya.

Selain terpukau dengan materi yang disampaikannya, saat itu saya juga tertarik aksen bicaranya. Aksen yang sangat akrab di telinga saya. Aksen yang sama dengan yang saya gunakan sehari-hari. Saya menduga keras, kalau beliau pasti berasal dari satu daerah dengan saya, Jawa Timur. Kalau ndak Surabaya, ya Sidoarjo. Begitulah, apapun bahasa yang digunakan, aksen tak akan pernah membohongi identitas.

Di sela-sela break pelatihan, saya sempat berbincang santai dan tentu saja menanyakan asal daerah beliau. Ternyata, dugaan saya sama sekali tidak luput. Beliau berasal dari daerah yang sama dengan saya, Sidoarjo. Benarlah kiranya adagium yang mengatakan bahwa dua orang dari daerah yang sama akan jauh lebih cepat akrab ketika tidak sengaja bertemu di tempat yang jauh dari daerah asalnya tersebut. Saya dan Pak munif pun langsung akrab dan bertukar kontak. Di akhir sesi pelatihan, beliau sempat berpesan kepada saya : “Kalau nanti sudah selesai tugas kita ketemu di Sidoarjo, ya! Kita ngobrol2 lebih banyak lagi.” Saya pun menyanggupi dengan senang hati.

Setahun berikutnya, usai purna tugas dari Indonesia Mengajar, saya pun menepati janji saya untuk ketemu Pak Munif di Sidoarjo. Kami berbincang panjang lebar tentang berbagai hal, terutama tentang pendidikan. Semua orang yang mengenal beliau pasti tahu kalau sudah menyangkut pendidikan, beliau adalah orang yang sangat betah berlama-lama diskusi. Orang yang menjadi teman diskusinya pun tak pernah bosan menyimak gagasan-gagasannya.

Nampaknya, sampai sekarang pun tak terlihat semangatnya berkurang kalau sudah menyangkut pendidikan. Bahkan buah-buah pemikirannya terus tumbuh subur, sehingga makin banyak lagi yang bisa saya pelajari dari beliau. Hingga akhirnya saya berkesempatan bersama-sama beliau untuk menyelami hiruk pikuk dunia pendidikan lebih jauh.

Sekira enam tahun yang lalu, Pak Munif sempat mempercayakan salah satu sekolah yang didirikannya untuk saya kelola. Di sebuah sekolah SD di kabupaten Pasuruan itulah, akhirnya saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa seabagai kepala sekolah. Meski awalnya saya terasa ragu untuk menerima tawaran sebagai kepala sekolah, namun akhirnya saya menyanggupinya karena ada Pak Munif yang bakal mengawal saya melakukan pekerjaan yang tidak mudah itu. Dengan pendampingan dari Pak Munif, saya belajar lebih banyak lagi tentang seluk beluk dunia pendidikan.

Selang beberapa waktu menjabat sebagai kepala sekolah, Pak Munif kemudian menarik saya untuk menekuni aktivitas baru sebagai trainer dan konsultan pendidikan di sebuah lembaga yang juga beliau pimpin, Next Edu Indonesia, yang berkantor di Surabaya. Di Next Edu Indonesia, Saya semakin mendapatkan banyak pembelajaran tentang segala aktivitas kependidikan.

Melalui Next Edu pula, saya berkesempatan keliling ke beberapa daerah untuk berinteraksi dengan berbagai stakeholder di dunia pendidikan. Dari berbagai interaksi itu, saya semakin sadar bahwa masalah pendidikan hendaknya tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga-lembaga pendidikan, tapi juga membutuhkan peran semua pihak untuk bergotong royong bersama.

Bagi saya, pekerjaan yang paling menarik adalah ketika darinya, kita tidak hanya mendapatkan pendapatan, tapi juga kesempatan belajar yang banyak, sehingga membuat kita menjadi seseorang yang terus bertumbuh. Dan saya mendapatkan itu semua ketika bekerja bersama-sama Pak Munif, baik ketika menjadi kepala sekolah, maupun ketika di Next Edu Indonesia.

Berbagai pembelajaran yang saya dapat tersebut sering membawa mendorong saya untuk melakukan refleksi, lalu saya tuangkan ke dalam berbagai tulisan. Tahun lalu, tulisan-tulisan hasil refleksi itu kemudian saya kumpulkan dan saya rapikan menjadi sebuah naskah buku utuh. Naskah itu kemudian saya kirimkan ke penerbit Bentang. Alhamdulillah, mereka bersedia menerbitkannya.

Karena buku ini adalah buku pertama yang saya tulis, maka saya merasa kurang lengkap jika tidak disertai pengantar oleh Pak Munif di dalamnya. Ya, saya merasa tak ada yang lebih pantas untuk memberikan kata pengantar selain Pak Munif, sosok yang membawa saya semakin jauh menyelami dunia pendidikan, dunia yang sungguh penuh keseruan di dalamnya.

Pak Munif memberikan judul “Guru adalah Seniman Tingkat Tinggi” untuk pengantar di Rockstar Teacher, judul buku saya yang pertama ini. Seperti tulisan-tulisan beliau yang sudah-sudah, tulisan pengantarnya di buku saya ini masih terasa sangat powerfull. Suatu kehormatan juga, akhirnya beliau tak hanya bersedia memberikan pengantar untuk buku saya, tapi juga dengan senang hati membedahnya di acara launching buku saya di bulan November taun lalu.

Di acara launching buku saya yang berlangsung di Universitas Nahdatul Ulama (Unusa) Tersebut, Pak Munif menyampaikan secara lebih gamblang tentang apa yang dimaksudnya dengan Guru adalah Seniman Tingkat Tinggi. Bagi Pak Munif, profesi guru layaknya seorang seniman yang  membutuhkan energi kreativitas yang tinggi agar setiap pembelajaran yang diampunya selalu menyenangkan dan tidak pernah ada kebosanan.  Kreativitas itu tidak hanya dibutuhkan sekali dua kali momen saja, tapi setiap hari.

Jika untuk urusan energi untuk kreatif dalam mengajar, Pak Munif sendiri sepertinya sudah memiliki banyak stok yang tidak pernah habis. Saya sempat mengikuti beberapa kelas di mana beliau mengajar, kelasnya selalu hingar bingar penuh keceriaan. Ketika jam belajar selesai, siswa-siswa pun terus mengerubungi Pak Munif.

Tak hanya di dalam kelas-kelas sekolah dasar dan menengah,  ketika beliau mengajar di level perguruan tinggi pun selalu penuh hingar bingar, sehingga sudah menjadi ciri khas beliau. Jika ingin tahu di kelas mana Pak Munif mengajar mahasiswanya, cari saja kelas yang paling hingar bingar di gedung fakultas tempat dia mengajar, bisa dipastikan disitulah kelas Pak Munif sedang berlangsung.

Hal serupa juga terjadi pada setiap sesi seminar atau training yang difasilitasinya. Tidak hanya hingar bingar, namun setiap materi yang disampaikan oleh Pak Munif terasa lebih mudah dipahami. Ini juga yang saya lihat dari beliau. Saya sering mengikuti berbagai macam training, beberapa diantaranya adalah training tentang kurikulum. Dari beberapa training tersebut sering saya masih menemukan ganjalan untuk memahaminya. Tapi setelah ditraining tentang kurikulum selama dua jam oleh Pak Munif Chatib, semua materi kurikulum jadi terasa lebih mudah. Tidak hanya mudah dipahami, tapi juga mudah diterapkan di kemudian hari.

Pak Munif memang selalu berhasil membuat materi-materi rumit menjadi sangat sederhana. Sungguh, kemampuan menyederhanakan sesutu itu tidaklah mudah. Diperlukan usaha yang cukup serius untuk mampu mengurai kerumitan dan kemudian menuangkannya kembali ke dalam struktur pemikiran yang jauh lebih sederhana.

Di bagian prolog buku Rockstar Teacher, saya menyebutkan bahwa modal utama guru di dalam kelas adalah membuat segala materinya menjadi sederhana dan menyampaikannya dengan sederhana pula.  Menurut Pak Munif itu adalah pekerjaan dengan daya seni yang sangat tinggi. Dan lagi-lagi saya harus benar-benar merasa beruntung bisa mempelajarinya dari beliau.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *