Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Sastra Sosok

Tugas Utama manusia adalah Menjadi Manusia itu Sendiri

img-20161117-wa0038

Bersama Pak Soes dengan background gambar-gambar Pramoedya Ananta Toer

Tak ada satu pun pendar cahaya yang terpancar dari rumah itu. Baik di sekitar bangunan, maupun sekeliling halaman – yang ukurannya cukup luas- itu, semuanya gelap total. Kalau bukan karena info dari seorang kawan yang menyampaikan ke saya bahwa sang tuan rumah ada di rumah malam ini, saya tak akan memutuskan untuk membuka pagar dan masuk ke depan pintu rumah untuk mengucap salam dan permisi.

Beberapa kali tidak mendapatkan jawaban salam, saya sempat hampir balik arah dan kembali pulang. Namun ketika saya mau beranjak kembali untuk keluar pagar, terdengar suara dari ruang belakang. Seorang pemuda. Sambil membuka pintu, ia menjawab salam dan mempersilkan saya masuk.

“Benee”, ia memperkenalkan drinya setelah saya memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Kalau malam memang semua lampu dimatikan, mas. Cuma ruang belakang ini yang nyala.” Tuturnya, menjelaskan tentang kenapa rumahnya begitu gelap. Belakangan, saya tahu bahwa Mas Benee ini adalah Putra Pak Soesilo Toer, orang yang ingin saya temui malam ini.

“Oh, iya mas. Ndak papa. Bapak ada ?” Tanya saya kemudian.

“Ada mas. Sedang nonton TV di dalam. Sebentar saya panggilkan.” Jawab Mas benee sembari masuk ke satu ruangan lagi.

Tak lama , sesosok pria berjenggot putih keluar dengan senyum yang sangat ramah.

Setelah memperkenalkan diri, saya pun lalu memohon maf karena telah bertamu malam-malam, yang mungkin saja itu sangat menganggu.

“Ah, ndak papa mas. Kalau ndak mau diganggu ya, jangan jadi manusia. Bukannya sudah hakikatnya manusia untuk saling mengganggu satu sama lain untuk mempertahankan hidup. (tertawa)”

Saya tertegun. Pembicaraan basa-basi diawal saja sudah bisa djadikan  sangat filosofis seperti itu oleh beliau, apalagi pembicaraan-pembicaraan berikutnya.

***

Jujur, saya tidak begitu mengenal tentang Blora. Satu-satunya yang saya ketahui tentang kabupaten ini adalah tempat lahirnya seorang sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (Alm.).  Dan belakangan, saya tahu bahwa rumah masa kecil Pram (begitu sapaan akrab beliau) masih tegak berdiri dan saat ini juga  dijadikan perpustakaan. Sejak pertama kali datang ke Blora untuk menunaikan tugas dari kantor beberapa bulan lalu, saya selalu memiliki keinginan terselubung untuk mampir mengunjungi rumah Pram, dan kebetulan di kunjungan kali kedua inilah keinginan tersebut dapat terwujud.

Rumah yang sangat sederhana itu, kini dihuni oleh Pak Soesilo Toer dan keluarganya. Pak Soesilo Toer adalah adik ke lima Almarhum Pak Pram. Orangnya begitu ramah dan sangat welcome. Sejak detik-detik awal pertemuan, tak ada kecanggungan sedikitpun dari saya. Pak Soes (panggilan akrab beliau) sangat terbuka berbicara apa saja dengan berbagai tema yang random, tapi seru dan mengasyikkan.

Tema pembicaraan kami diawali tentang kondisi rumah dan kondisi keluarganya, dilanjut dengan berbagai memori beliau dengan Pram. Tentang masa kecil bersama sang kakak, tentang bagaimana pola asuh orang tua mereka dalam mendidik anak-anaknya, sampai tentang masa-masa ketika Pram di tahanan selama puluhan tahun. Dari cerita-cerita beliau, tersirat bahwa Pak Soes adalah adik yang paling dekat dengan Pram. Pak Soes juga yang paling perhatian  dan sering mengunjungi Pram ketika di tahanan. Pak Soes juga yang mengurus tentang (semacam) bantuan dana amnesti dari luar negeri untuk Pram. Beliau juga sangat paham tentang siapa saja orang-orang yang terdapat dalam karya-karya Pram. Mana yang kejadian riil, mana yang kejadian hasil imajinasi saja. Mana tokoh-tokoh yang benar-benar ada, mana yang cuma rekaan belaka. Pak Soes sangat mengetahui itu semua. Ia juga membuka satu rahasia bahwa salah satu tokoh dalam novel Bukan Pasar Malam adalah dirinya.

Pak Soes juga mengaku bahwa kakaknya juga banyak menginspirasinya dan selalu memacunya untuk selalu bisa melebihi apa yang sudah dicapai oleh Pram.

“Saya selalu ingin melebihi Pram dari segi apapun.” Tutur beliau

“Pram bisa membuat tetralogi, saya sudah bisa membuat pentalogi sekarang. (tertawa)”

Ya, Pak Soes juga seorang pengarang. Beliau bahkan juga termasuk sastrawan angkatan 66. Buku pentalogi yang dimaksud beliau adalah buku lima seri tentang Pram. Kelima-limanya kemudian beliau ambil dari meja yang tak jauh dari tempat kami berbincang, lalu dihadirkan di hadapan saya. Saya tidak bisa menahan diri untuk tertarik membuka-bukanya.

Kelima buku tersebut diterbitkan oleh Pataba Press, sebuah lini usaha penerbitan indie yang didirikannya, dan sekarang dikelola oleh putranya yang tadi sudah membukakan pintu untuk saya, Mas Benee Santoso.

Selain menunjukkan buku pentalogi memoar tentang Pram, beliau juga menunjukkan buku-buku fiksi karyanya, di antaranya Komponis Kecil dan Dunia Samin. Ketika menunjukkan buku Dunia Samin, beliau menjelaskan bahwa buku itu ditulisnya dalam waktu tiga puluh tahun. Ah, lagi-lagi saya tak bisa menahan diri untuk tak tertarik.

Saya memutuskan untuk membeli semua buku-buku karya beliau, karena selain tertarik dengan sekilas isi yang sudah disampaikan Pak Soes tadi, saya juga melihat bahwa buku-buku ini tak ada di toko buku umum. Jadi, mumpung sedang berada di tempat penerbitnya, saya tak boleh ketinggalan untuk memborong buu-buku keren tersebut, sekalian minta tanda tangan penulisnya langsung. Namun, setelah melihat isi dompet, ternyata saya tak membawa cukup uang untuk membeli buku-buku tersebut. Saya pun kemudian menyampaikan kepada pak Soes bahwa besok sore saya akan kembali ke rumah ini untuk membeli buku-buku itu. Dan saya senang sekali, ketika Pak Soes mengatakan bahwa besok beliau juga tak ada agenda keluar rumah di sore harinya.

“Dari segi usia, saya juga ingin menandingi Pram. Itulah kenapa saya selalu suka mengobrol.” Lanjut Pak Soes ketika kami sudah selesai berbincang tentang buku-buku yang ditulisnya.

“Dengan banyak mengobrol, saya selalu merasa lebih muda beberapa tahun. Dan dengan itu saya berharap bahwa usia saya akan melebihi usia Pram. (Tertawa)”

Memang sedari awal, Pak Soes lah yang lebih banyak berbicara. Dan saya sangat tidak keberatan mendengar semua yang disampaikannya kepada saya. Bagi saya, beliau adalah pencerita yang ulung, tidak hanya dalam tulisan, tapi juga dalam lisan. Meski usianya yang sudah tidak lagi muda, gaya dan nada berbicaranya masih tetap menggelora. Semangat dan pemikirannya pun masih terasa segar. Nampaknya, usia tak mampu membuat semangatnya menua. Selain itu, saya juga banyak menemukan hal-hal baru dari semua yang disampaikan beliau. Tentang sejarah bangsa Indonesia, sejarah Blora, dan juga konsep-konsep besar seputar tatanan negara.

Salah satu hal yang membuat saya tercengang adalah ketika ia menceritakan tentang disertasi yang dibuatnya ketika ia menempuh studi doktoral jurusan ekonomi dan politik di Rusia. Dalam disertasinya itu beliau mengkritik Marxisme. Beliau seakan menemukan celah yang cukup fatal dari faham yang menjadi panutan orang-orang kiri tersebut. Disamping mengkritik tentang Marxisme, beliau juga mengkritik habis Kapitalisme. Dan salah satu yang membikin saya semakin tercengang adalah ketika beliau menyampaikan bahwa koperasi itu juga tak lebih dari produk kapitalisme yang menyedihkan, yang sayangnya tidak banyak kita sadari. Berangkat dari kritik terhadap Marxisme dan Kapitalisme itulah, kemudian beliau menawarkan alternatif baru juga dalam disertasinya.

Suatu kali ada seorang kawan beliau yang menertawakan alternatif beliau, lantaran konsep alternatif tersebut sudah pernah diusung oleh salah satu pemikir penting di dunia, Anthonny Gidden. Penasaran dengan konsep Anthonny Gidden yang dimaksud sang kawan, beliaupun akhirnya mencari buku-buku  Gidden. Setelah beliau pelajari ternyata konsep Anthonny Giddden tersebut adalah konsep sosiologi, sementara konsep alternatif yang diutarakan beliau adalah konsep tentang ekonomi. Terlebih, konsep yang diusung oleh  Gidden tersebut ditulis pada tahun 80an. Sementara beliau sudah menuliskan konsep alterntaifnya itu di tahun 60-an.

“Berarti hebat ya saya ? Konsep yang belum pernah ada saja bisa aya jiplak. Apalagi yang konsep yang sudah ada. (tertawa)”  Sungguh sebuah seloroh yang lebh terkesan merendah diri. Jika dilihat dari rentang tahun yang begitu jauh antara tahun Pak Soes menulis disertasinya dan Gidden menulis tentang pemikirannya, jelas membuktikan bahwa Pak Soes lah yang jauh lebih unggul dari Gidden.

***

Perbincangan tentang banyak hal seru bersama Pak Soes tak akan pernah mencapai anti klimaks andai saya tak menanyakan apa saja  aktivitas sehari-harinya sekarang selain menulis. Beliau mengatakan bahwa aktivitasnya sekarang adalah sebagai seorang “Rektor”. Namun, bukan rektor pimpinan universitas yang dimaksud beliau. Kata rektor yang dimaksud oleh beliau adalah akronim dari “Ngorek-ngorek barang kotor”   atau bahasa umumnya adalah pemulung sampah.

Ya, sungguh sangat sulit dipercaya bahwa seorang doktor lulusan Rusia yang disertasinya melebihi Gidden tersebut, sekarang adalah seorang pemulung. Saya pun harus memastikan berkali-kali kepada beliau bahwa pemulung yang dimaksud adalah orang yang pekerjaannya memungut sampah dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain. Dan berkali-kali pula beliau meng-iya kan pertanyaan saya sembari menertawakan saya yang gagal percaya itu.

Sambil tetap terkekeh-kekeh melihat saya tak percaya, akhirnya beliau menantang saya untuk membuktikan sendiri nanti dini hari .

“Sekitar jam sebelas atau jam dua belas malam, biasanya saya mulai keliling untuk memulung sampah. Kalau ndak percaya boleh nanti ikut.” Ajaknya.

Ingin saya meng-iya kan ajakan beliau. Namun, mengingat besok pagi-pagi sekali saya masih harus melaksanakan tanggungan tugas dari kantor, maka saya terpaksa harus menolaknya. Bersamaan dengan itu pula, saya melihat jam tangan saya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, yang itu artinya saya sudah harus undur diri untuk beristirahat agar besok tidak kesiangan untuk bekerja kembali. Pak Soes dengan ramah menawarkan untuk nginap di rumahnya saja. Ada kamar kosong khusus untuk tamu.

“Ini bukan ajakan basa-basi lho mas. Kalau mau nginep di sini ndak papa. Banyak kok tamu-tamu yang ke sini juga pada nginep. Saya juga senang kalau bisa ngobrol lebih lama. Kan, nanti umur saya juga bisa nambah lebih lama. (tertawa)” Ujar Pak Soes terkain tawarannya untuk menginap.

Ya, dari perbincangan kami tadi, beliau juga menyinggung-nyinggung banyak sekali orang-orang yang sering bertamu ke beliau. Mulai dari orang lokal yang sekedar bersilaturahim, sampai orang luar negeri yang ingin melakukan riset tentang Pram. Pantas saja beliau tidak canggung dalam menerima tamu yang mungkin sama sekali asing bagi beliau.

Sayangnya, saya harus menolak ajakan beliau karena mengingat ada beberapa hal yang harus saya siapkan untuk pekerjaan esok harinya. Dan kelengkapan itu ada di penginapan.

“Ya sudah, tapi besok jadi ke sini lagi kan?” Tanya Pak Soes

“Kalau sore tidak hujan saya ke sini lagi Pak.”

Saya pun kembali ke penginapan dengan perasaan yang masih tak percaya bahwa hampir tiga jam tadi saya berbincang dengan seorang doktor rusia yang pemulung, atau pemulung yang seorang doktor. Entahlah.

Sesampainya di penginapan, saya teringat bahwa tadi Pak Soes juga bercerita tentang beberapa anak muda yang pernah membuat film dokumenter tentang beliau dan masuk dalam ajang Eagle Award. Saya pun langsung membuka Youtube dan mencari film yang dimaksud beliau tadi. Di awal-awal film tersebut, terlihat adegan Pak Soes yang pergi dini hari dengan mengendarai motor tua yang di bagian belakangnya tertata keranjang besar yang menggantung di sisi kiri dan kanan motor. Tak lama kemudian, beliau pun berhenti di beberapa tempat pembuangan sampah untuk mengorek-ngoreknya dan mencari sampah apa saja yang masih bisa digunakan lagi, entah untuk makan ternak ataupun untuk dijual kembali. Sungguh, beliau mengerjkannya dengan cekatan dan fasih sekali. Melihat adegan ini, saya seakan dipaksa untuk percaya bahwa orang yang hampir tiga jam berbincang dengan saya tentang sastra, filsafat, sejarah, dan ekonomi tadi juga seorang pemulung yang cakap.

***

Pak Soes sedang sibuk membakar sampah di belakang rumahnya ketika esok sore saya kembali bertandang ke rumahnya. Dengan keramahan yang sama, beliau pun menghentikan aktivitasnya membakar sampah yang nampaknya sudah hampir rampung. Beliaupun meminta saya untuk masuk ke ruangan tempat kami berbincang semalam. Berbagai ornamen dinding yang semalam hanya tampak remang-ramang, sekarang lebih terlihat jelas. Begitupun buku-buku yang berjajar di sekitar ruang. Saya meminta ijin untuk melihat koleksi buku-buku itu lebih dekat. Beliau mengijinkan. Pun juga buku-buku yang ada di dalam kamar, beliau sama sekali tak keberatan ketika saya menelusurinya.

Selain buku-buku, saya juga terpana pada banyak foto dan lukisan di dinding-dinding rumah yang kebanyakan adalah foto dan lukisan Pak Pram. Pak Soes menjelaskan cerita dari masing-masing foto dan lukisan. Satu yang paling menarik minat saya adalah lukisan wanita yang tergantung di samping pintu masuk. Menurut Pak Soes, itu adalah lukisan Annelis Wilhelmina, salah satu tokoh utama dalam tetralogi Bumi Manusia. Pak Soes sendiri tak paham apakah itu beneran Annelis atau bukan, karena setahu Pak Soes, Annelis adalah murni tokoh rekaan Pak Pram.

img_20161118_1631271

Lukisan Annelis helmina

Tak jauh dari lukisan itu terdapat kardus yang berisi buku-buku terbitan Pataba. Buku-buku itu adalah  tujuan saya di kunjungan kali ini. Saya pun langsung mengambil beberapa buku untuk saya dan untuk beberapa teman yang menitip. Saya mengambil Pentalogi karya Pak Soes, Komponis kecil, dan Dunia Samin. Di sela-sela tumpukan buku tersebut terselip juga buku Anekdot Moskow karya Pak Koesalah Soebagyo Toer, adik Pak Pram yang lain,  yang juga seorang pengarang. Mengingat buku tersebut sangat langka, Saya pun tak pikir panjang untuk mengambil buku itu dan memasukkannya  ke daftar belanjaan.

Melihat saya membeli banyak buku, Pak Soes akhirnya memberikan saya bonus dua buku  lain yang juga diterbitkan Pataba, dua novel karya Gunawan Budi Susanto. Pak Soes kemudian memanggil Mas Benee untuk menghitung dan membungkus buku-buku yang saya beli. Sembari menunggu Mas Benee, saya pun menanyakan kepada Pak Soes tentang alasan kenapa beliau memulung sampah. Kurang lebih begini jawaban beliau :

“ Bagi saya barang-barang bekas adalah makhluk yang paling absolut. Mereka sudah tidak lagi dibutuhkan oleh pemiliknya. Para pemilik mereka hanya mengambil manfaat darinya, namun setelah tak berguna dibuang begitu saja. Sejak saat itulah barang-barang tersebut manjadi barang yang sangat absolut. Dan selama ini, saya sudah mengumpulkan banyak sekali benda-benda absolut itu. Jadi, barang hasil saya memulung ada yang saya jual, jika itu bisa djual. Tapi untuk barang-barang absolut yang saya temukan, saya kumpulkan dan nanti akan saya pamerkan.”

Ah, inilah bedanya antara orang biasa yang menjadi pemulung dengan seorang Doktor Rusia yang menjadi pemulung. Mungkin jika pemulung biasa yang ditanya tentang kenapa ia sampai menjadi pemulung, paling-paling cuma dijawab : “ Ya, inilah nasib mas. Cuma begini yang saya bisa.” Namun, beda jika seorang doktor macam Pak Soes yang memulung, jawabannya sungguh filosofis. Dan jujur, saya sendiri pun masih kurang paham betul letak absolut dari barang-barang bekas yang dimaksud Pak Soes tadi. Nampaknya, maqam saya belum nututiuntuk memahami pemikiran beliau.

15192679_10208016166783249_5227864858745051852_n

Buku-buku Pak Soes sudah nangkring di rak buku rumah saya bersama jajaran buku-buku Pram

Tak lama, Mas Benee pun datang membawa bungkusan berisi buku-buku yang tadi saya beli. Setelah membayar, saya pun ingin mendapat petuah dari Pak Soes sebelum kembali ke penginapan lagi. Sebagai seorang yang bekerja di bidang pendidikan, tentu saya juga ingin mendapatkan pandangan Pak Soes tentang bagaimana seharusnya pendidikan itu berjalan. Dan beliaupun hanya menjawab singkat :

“Yang penting, sebelum mengajarkan ilmu ini itu,  seorang guru itu harus terlebih dahulu menjadikan muridnya menjadi sebenar-benarnya manusia. Dan sebenarnya, tugas utama manusia adalah menjadi manusia itu sendiri.”

Sebuah nasihat yang sederhana, tapi mendalam. Nasihat yang tidak muluk-muluk, namun sangat sulit untuk melakukannya. Nasihat seperti ini juga pernah saya dengar dari dua cendekiawan muslim negeri ini : Emha Ainun Najib dan K.H. Musthofa Bisri. Jika diminta nasihat, kedua tokoh itu selalu menampaikan pesan yang senada dengan Pak Soes : “Jadilah manusia, sebelum menjadi yang lain-lain.” Karena memag menjadi sebenar-benarnya manusia saja kita masih belum layak, apalagi berusaha untuk menjadi yang lain. Berapa banyak manusia yang sudah tidak lagi hirau pada kemanusiaan. Memanusiakan dirinya sendiri saja sudah sangat susah, apalagi memanusiakan manusia yang lain. Memang, menjadi manusia tidak sesederhana yang dibayangkan.

Terima kasih atas obrolan, buku-buku, dan nasihatnya, Pak Soes. Sehat selalu.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *