Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Sosok

Kuliner dan Pak Bondan

10846494_10203369938190438_8765315860763209183_nSebenarnya saya bukan pelanggan majalah Tempo dan NGI (National Geoghrapic Indonesia). Biasanya kalau saya beli dua majalah itu pas kebetulan saja lewat rak bagian majalah kalau lagi jalan-jalan ke toko buku. Tapi karena hampir tiap bulan saya ke toko buku, jadi bisa dipastikan saya selalu beli dua majalah itu. Hehehe… Dan di bulan desember tahun 2014, entah kenapa dua majalah itu memilih tema yang sama, yang jarang sekali diangkat oleh kedua majalah ini, yaitu tentang kuliner. Untuk majalah Tempo, tema kuliner dipilih sebagai tema edisi khusus di edisi awal bulan Desember2014. Agak beda memang, karena biasanya edisi khusus Tempo selalu membahas biografi tokoh-tokoh nasional, tapi kali ini mengangkat tema kuliner. Meskipun begitu, tema kuliner yang dibahas oleh Tempo masih berhubungan dengan tema-tema yang biasa mereka angkat, yaitu tema politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Tempo mencoba menelusuri unsur politik, sejarah, dan ekonomi di balik makanan-makanan indonesia. Sementara NGI mencoba menelaah cara khas menyediakan makanan dari berbagai belahan dunia, sekaligus mengungkap makna peran makanan dalam kehidupan manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa makanan, selain sebagai penyambung hidup manusia juga berperan untuk menciptakan persatuan.

NGI mengungkapkan banyak contoh tentang hal itu dengan cara menunjukkan berbagai tradisi makan bersama dalam berbagai acara di seluruh belahan dunia. Dengan makan bersama tumbuhlah silaturahmi dan persatuan. Seperti quote yang tertulis di cover depan NGI :”Kekuatan yang mampu mempersatukan kita : Pangan.”

Liputan Tempo dan NGI tentang kuliner tersebut menunjukkan perhatian yang semakin berkembang tentang dunia kuliner. Dulu, bahasan tentang kuliner di media mungkin hanya sekedar tips-tips memasak dan resep-resep membuat menu tertentu, namun sekarang sudah mulai meluas, mulai dari sekedar referensi menu yang menarik dari berbagai penjuru dunia atau mengungkap sisi-sisi lain seputar dunia kuliner seperti yang dilakukan Tempo.

Acara-acara televisi pun juga semakin menaruh perhatian lebih untuk dunia kuliner. Kalau dulu acara kuliner di televisi hanya sebatas acara masak-memasak seperti yang dipandu oleh Rudi Choirudin atau Sisca Soetomo, sekarang acara kuliner semakin bervariasi. Sebut saja seperti acara lomba-lombaan masak seperti Master Chef, atau acara jalan-jalan sambil icip-icip makanan seperti acara Wisata Kuliner yang booming gegara celutukan “Maknyus” dari host-nya, Pak Bondan Winarno.

Untuk acara Wisata Kuliner ini,saya curiga bahwa acara iniliah yang membuat istilah ”Kuliner” jadi lebih populer di Indonesia. Saya sendiri, dan juga mungkin kebanyakan orang, sebelum ada acara ini muncul di TV tak pernah menggunakan istilah “kuliner”. Begitupun juga istilah-istilah di media cetak atau televisi, saya lihat tak pernah ada yang menggunakan istilah “Kuliner” sebelum ada acara ini. Kalau ada artikel yang memuat tentang kisah sukses pengusaha restoran atau warung makan, biasanya di dalamnya tertulis “bisnis makanan” bukan “bisnis kuliner”. Tapi sekarang, hampir semua orang dikit-dikit selalu bilang “kuliner” jika itu menyinggung soal makanan. Frase “Wisata Kuliner” pun juga sudah sangat akrab digunakan di tengah masyarakat kita, misalnya : “Weekend ini jalan-jalan yuk, Bro. Sambil wisata kuliner sekalian.”

bondan-rasikafm1

Dalam dunia akting, sering kita dengar adanya anggapan bahwa kesuksesan seorang aktor atau aktris yang sudah dianggap berhasil kalau masyarakat bahkan sudah tidak lagi ingat nama asli aktor/aktris tersebut, tapi yang diingat adalah nama tokoh yang diperankannya, seperti aktor Mat Solar dan aktris Reke Dyah Pitaloka yang lebih sering dipanggil orang dengan nama Bajuri dan Oneng, daripada nama mereka yang sebenarnya. Begitupun juga dengan Wisata kuliner, seakan orang-orang lupa bahwa itu adalah nama program acara TV, bahkan Pak Bondan pun sering dipanggil Pak Maknyus.

Keakraban masyarakat dengan frase Wisata Kuliner dan kata Maknyus itulah seakan menjadi sebuah bukti kesuksesan acara TV ini. Pak Bondan pun secara tidak langsung seakan-akan sudah menjadi pakar kuliner, padahal tak ada sedikit pun back ground pendidikan tata boga atau kuliner yang pernah diembannya.

Sebelum menjadi host acara Wisata Kuliner, Pak Bondan berkecimpung di berbagai bidang, mulai dari kameramen Untuk Angkatan Udara, wartawan dan redaktur di berbagai media, pemegang jabatan penting di beberapa perusahaan, sampai penulis buku dalam berbagai genre seperti sastra, bisnis, kiat-kiat, dan masih banyak lagi.

Saya sering dengar wejangan-wejangan yang menganjurkan bahwa seberapa banyak bidang yang kita geluti, hendaknya kita tetap memiliki satu spesialisasi sehingga kita bisa menjadi seorang expert. Mungkin karena itu pulalah Pak Bondan selalu menolak jika dia dikatakan seorang expert, karena saking terlalu banyak bidang yang digelutinya dan tidak mengambil salah satunya sebagai spesialisi baginya. Ia menolak disebut sebagai pakar bisnis, meskipun sering menulis buku-buku bisnis. Menurutnya, pakar bisnis itu ya yang seperti Pak Rhenald Kasali, mampu membedah berbagai fenomena bisnis dengan analisis yang sangat akademis dan berdasarkan landasan teoritik yang kuat. Sedangkan buku-buku bisnisnya hanyalah sekedar refleksi-refleksi saja.

Pak Bondan juga menolak disebut sebagai sastrawan meskipun beliau sering menulis prosa dan dimuat di media-media besar seperti Kompas. Beberapa cerpennya juga pernah menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas. Ia pun juga sudah menghasilkan buku kumpulan cerpen sendiri. Yang terakhir, Pak Bondan menolak disebut sebagai pakar kuliner. Ia bukan chef. Ia bukan juga pengusaha kuliner dan kritikus kuliner seperti William Wongso, misalnya. Kemampuannya dalam mendeskripsikan rasa makanan dalam acara Wisata Kuliner diperolehnya dari pengalaman mencicipi makanan dari berbagai negara di dunia yang pernah dikunjunginya, yang kemudian dituliskan dan dimuat oleh beberapa media di Indonesia. Sehingga ia merasa masih sangat jauh dari label Pakar.

Tak hanya itu, ia pun sudah menolak banyak sekali tawaran untuk membuka restoran sendiri, karena ia merasa tidak begitu ekspert dengan dunia kuliner. Padahal banyak tempat makan di Indonesia yang sudah dikunjunginya, selalu menempelkan foto dan tanda tangannya di dinding sebagai bukti bahwa tempat makan mereka sudah dikunjungi oleh Pak Bondan, yang berarti telah mendapatkan legitimasi kualitas rasanya. Mungkin karena beliau pernah menjadi wartawan sehingga sudah mendarah daging dalam dirinya sebuah anekdot yang sering diungkapkan oleh para wartawan bahwa “Seorang wartawan adalah orang yang tahu sedikit tentang banyak hal.”

Meski demikian, Pak Bondan adalah salah satu teladan yang setidaknya telah mengajarkan kepada saya tentang pentingnya “Tahu Diri” dan kerendahan hati. Tahu diri dan rendah hati itu bukan minder, namun sekedar sebuah usaha untuk tidak aji mumpung dan over confidence. Berapa banyak orang yang hanya tahu permukaan tapi seakan sudah berlagak seperti orang yang sudah menyelam sangat dalam. Dan yang tak kalah pentingnya, Pak Bondan seakan mengajarkan kita agar tak terlalu sibuk dengan label-label semacam pakar, ahli, spesialis, dan sebagainya. Mungkin baginya, label-label tersebut bisa menghambatnya untuk melakukan yang ingin dia lakukan, menghambatnya untuk menyatakan apa yang dia rasakan. Ah, saya jadi teringat apa yang pernah di sampaikan oleh Steve Jobs, “Selama kamu masih memiliki kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang kamu cintai, kamu tidak akan kehilangan dunia.”

*Lebih lengkap tentang Pak Bondan, bisa dilihat di video ini

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *