Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Sehari-hari Sekitar Kita

Sabar, Berbatas Ataukah Tidak ??

Sabar, adalah kata yang paling sering kita dengar jika kita sedang discuss atau curhat kepada seseorang. Entah karena gak bisa ngasih saran, gak enak kalo dibilang terlalu menggurui, atau hanya sekdar berempati, biasanya orang yang sedang kita ajak berbagi kesulitan hanya bisa ngomoing “Kamu yang sabar ya…”.

Begitu juga ketika kita lagi ngelayat ke rekan kita yang sedang berduka misalnya… kalimat “Kamu yang sabar ya” adalah yang paling sering diucapkan para pelayat kepada yang sedang berduka.

Meski sangat sering diucapkan, tapi toh seakan yang menerima kalimat “Kamu yang sabar ya…” hampir tak pernah sewot, seperti misalnya “Loe sih enak tinggal bilang sabar, gak ngerasaain sih” atau yang seperti ini “Gak ada kata yang lain kah ? ngasih solusi kek ato apa kek, kalo harus sabar mah gue juga udah tahu kali..”

Mungkin ketika kita menerima kalimat “Kamu yang sabar ya..” seakan-akan kita sadar kalau memang itulah yang harus kita punya setelah diri sudah semakin lemah, sudah buntu tak ada daya dan upaya atas kesulitan yang kita alami. Sabar seakan menjadi kata yang paling relevan untuk sikap kita terhadap berbagai kesulitan. Bahkan ada ayat di al-Quran yang mengatakan “Mintalah kamu dengan sabar dan sholat.” Kata sabar menjadi kata yang pertama sebelum kata sholat. Mungkin ini menunjukkan bahwa sabar seakan menjadi soft ware wajib yang harus terinstal di hati kita masing-masing, seperti software microsoft yang seakan sudah menjadi wajib bagi sebagian besar komputer di planet ini.

Makhluk seperti apakah sabar itu ? Ah, saya tak mau berdefinisi di sini. Tapi mungkin kita bisa melihat pandangan umum tentang sabar yang beredar di sekitar kita. Saya teringat sebuah ungkapan yang sudah sangat populer tentang sabar yang berbunyi “Orang sabar itu ada batasnya”. Ungkapan itu seakan-akan menunjukkan bahwa sabar adalah makhluk yang limited. Benarkah demikian ? Ah, tak tahu lah…. Malah akhir-akhir ini saya sering melihat banyak status-status di FB yang mengatakan “Sabar itu tidak ada batasnya, kalau sabar itu ada batasnya, berarti itu bukan sabar namanya.” Nah lho, 180 derajat bo’ perbedaannya.
Jadi sebenarnya sabar itu berbatas gak sih ? Dan saya rasa, hari ini saya menemukan jawabannya dari pak Munif Chatib bahwa sabar itu seperti iman, kadang naik kadang turun. Kok bisa kaya gituh ? gimana tuh penjelasannya ?

1.    Sabar itu bukan berarti harus diam dan menjadi lemah. Sabar itu juga harus gerak men… harus aktif juga berusaha memperbaiki kesulitan, permasalahan, dan kegalauan yang ada.

2.    Marah belum tentu tidak sabar. Menurut saya, marah adalah semacam cara yang agak keras untuk mengingatkan. Misalnya ketika dulu sewaktu kecil kita sering dimarahi sama orang tua atau guru-guru kita. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa marahnya mereka bukannya benci sama kita, namu justru sayang dan perhatian sama kita, karena mereka menginginkan yang trerbaik bagi kita, dan tidak ingin kita melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri. Jika marah kita bertujuan untuk mengingatkan, berarti kita masih bisa dikatakan sabar.
Namun, bisa jadi marah itu menjadi sesuatu yang bisa menjurus pada AMARAH. Apa bedanya ? Jika marah itu bertujuan untuk mengingatkan, maka amarah adalah sikap yang keras yang sudah dipenuhi dengan emosi yang meldak-ledak, sehingga tujuannya bukan untuk mengingatkan, tapi untuk meluapkan segala kekesalan. Kalau marah tadi masih diselimuti rasa sayang, karena tidak ingin orang yang kita marahi ini berbuat merugi, maka amarah adalah sikap yang sudah dimasuki dengan kebencian dan mulai terkikis kasih sayangnya. Dan amarah adalah gerbang menuju ketidaksabaran.

3.    Lalu bagaimana seseorang itu sudah dikatakan tidak sabar? Yaitu ketika ia sudah tidak peduli lagi dengan kondisi atau permasalahan yang dialaminya, alias cuek bebek. Misal : ketika kita sedang ada masalah ama seseorang kita udah ngerasa ngelakuin segala macem cara untuk menghadapinya, dan sampai menthok dan akhirnya terucap kalimat dari lidah kita , Ah, suka-suka elo deh. Gue udah pusing ngadepin kaya ginian.” Ketika kita sedang ribut ama pasangan kita dan tercetuslah pikiran “Ah, gak patheken (bahasa jawa). Loe mati, gue juga gak urus. Masih banyak kok cewek-cewek yang lebih dari kamu dan mau ama gue.”

Hmm… brarti simple kan? Kita dikatakan tidak sabar kalau kita sudah berputus asa. Sudah cuek dan gak peduli lagi dengan masalah yang kita hadapi. Selama kita masih peduli dengan masalah yang kita hadapi dan berusaha untuk memperbaikinya, meski kadang dengan cara yang agak sedikit keras dan gak wajar, berarti kita masih bisa dikatakan sabar. Dan, sekali lagi sabar itu bukan berdiam diri pasrah dengan segala kondisi yang ada. Sabar adalah upaya yang harus digerakkan untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

Sabar bukan ada batasnya, dan sabar juga bukan tak berbatas. Tapi sabar itu naik turun. Ketika hati kita dilanda amarah atau kegalauan yang luar biasa, pada saat itu kesabaran kita menurun tajam. Namun, ketika kita mendapat in put yang baik yang mampu memotivasi diri kita untuk bangkit lagi, kesabaran kita bisa bangkit lagi. Dan kita bisa kembali melakukan upaya-upaya untuk perbaikan. Melakukan upaya perbaikan dan mencari solusi terus menerus dan tak kenal putus asa dengan segala hambatan, itulah sebenarnya kunci dari kesabaran.

So…. Selamat bersabar menghadapi segala permasalahan hidup.

ADVERTISEMENT

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *