Sufi Sibuk

SUka FIlm SInting BUKu

Sehari-hari Sosok

Bertemu Pak Munif di Surabaya

Akhirnya aku bertemu juga dengan Pak Munif Chatib. Kurang lebih sudah 2 minggu sebelumnya aku menghubungi beliau dan menentukan waktu yang tepat. Alhamdulillah juga, enam teman pengajar muda yang lain juga ikut datang ke sini, mereka adalah Agung, Aisy, Nila, Asti, Mansyur,dan Ridwan. Ridwan adalah tamu spesial kami karena datang jauh-jauh dari Tanah Parahyangan, Bandung. Ridwan sebenarnya datang ke Jawa Timur untuk kursus Bahasa Inggris di Pare, dan kali ini ia menyempatkan datang ke Surabaya untuk bersilaturahim dengan pak Munif Chatib.

Kami disambut dengan sangat hangat oleh pak Munif Chatib di kantornya, sebuah perusahaan konsultan pendidikan Next World View yang terletak di Gedung Graha Pangeran lantai 10. Pak Munif meminta kami untuk sharing pengalaman selama satu tahun di daerah masing-masing. Aku, Asti, dan Nila bercerita tentang pengalaman di Tulang Bawang Barat– Lampung dengan tantangan sosialnya yang lebih dominan daripada tantangan geografisnya. Ridwan dan Mansyur bercerita tentang pengalaman mereka hidup di desa yang terapung di atas Sungai di kabupaten Paser — Kaltim. Agung bercerita tentang  murid istimewanya di kabupaten majene di tanah sulawesi sana. Sedangkan Aisy bercerita tentang kerasnya cara mendidik guru-guru lokal di Halmahera Selatan sana, yang suka main pukul dengan rotan yang selalu tersedia di laci meja guru. Bahkan Aisy pernah menjumpai seorang anak yang punggungnya berlumuran darah karena habis dipukul dengan akar berduri — sampai ia tidak berani pulang sampai larut malam dan hanya menangis di sekolah.

Sesekali pak Munif menanggapi cerita-cerita kami. Tertawa, kadang juga terasa miris dengan kondisi yang kita jumpai. Setelah kami semua selesai bercerita, sekarang giliran dia yang bercerita. kami penasaran, apa kira-kira yang akan diceritakannya. Ternyata ia menyimpulkan satu hal dari cerita-cerita kami. Menurutnya, semua masalah pendidikan itu semuanya sama. tidak di kota, tidak di desa, tidak di daerah pedalaman. Semuanya memiliki akar pengalaman yang sama, yaitu : Guru. Sekolah-sekolah yang menjadi klien pak Munif pun juga memunyai masalah yang tak jauh beda dengan yang kami temukan di daerah sana. Bahkan di sekolah-sekolah yang mewah dengan embel-embel internasional sekali pun, masalah tentang kredibilitas guru masih juga terjadi.

Pak Munif mengatakan bahwa dirinya sempat dijuluki sebagai konsultan pendidikan bertangan dingin. Siapa saja guru yang dianggapnya tidak kompeten, langsung di dellete. namun, ia akhirnya sadar bahwa ternyata bukan itu solusinya. Ia sampai sekarang masih memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasi berbagai problem guru. Ia juga sempat membagikan sebuah ide tentang perbaikan kualitas guru yang diberi nama Gurunya Manusia. kami rasa ide itu cukup briliant dan cukup masuk akal. Mudah-mudahan juga bisa sedikit mengatasi problem guru yang ada di negeri ini. Semangaaattt terus Pak Munif dan tim Next World View.

Ketika menjelang siang kami ditraktir Pak Munif untuk makan siang di Foof Court Mall Cito yang bersebelahan dengan kantor pak Munif. Kami pun berpisah usai makan siang. Pak Munif kembali ke kantornya untuk bekerja, dan kami menuju gedung bioskop CITO untuk nonton sekuel terakhir film Twilight, Breaking DOwn. Hmmm…. hari yang menyenangkan….

Nb : Munif Chatib adalah salah satu pakar pendidikan Indonesia dengan spesialisasi bidangnya Multiple Intellegence. Ia menulis dua buku yang dua-duanya best seller, yaitu : Sekolahnya Manusia dan Gurunya Manusia. Ia sempat menjadi salah satu pembicara dalam training pengajar muda 1 di VCiawi dulu. Jadi, merupakan suatu hal yang istimewa bisa bertemu lagi serta berbagi spirit yang terus menyala untuk pendidikan 🙂

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *